Sosial
Musim Kemarau, Serangan Monyet Makin Merajalela
Tepus,(pidjar.com)– Serangan monyet ekor panjang (MEP) di lahan pertanian maupun lahan pekarangan menjadi momok tersendiri bagi petani Gunungkidul di setiap musim kemarau, utamanya bagi warga yang tinggal di pesisir selatan, kawasan timur dan utara yang masih memiliki perbukitan dan hutan. Serangan hewan ini selama ini sangat mengganggu, karena merusak lahan dan tanaman milik petani.
Seperti yang diungkapkan oleh Lurah Purwodadi, Tepus, Sagiyanto. Pada musim kemarau seperti ini MEP serangan semakin merajalela, ketersediaan pangan di dalam hutan kemungkinan telah habis, sehingga kawanan hewan liar ini keluar hutan untuk mencari makan.
“Merusak lahan warga, ini kan masih banyak singkong atau ketela yang belum dipanen warga. La habis di rusak MEP,” papar dia.
Menurutnya, setiap musim kemarau memang menjadi puncak serangan hewan liar tersebut. Bukan hanya di Kalurahan Purwodadi, namun menurutnya sepanjang pesisir dari Purwosari hingga Girisubo mengalami hal serupa.
“Kalau yang pemukiman dekat baon (hutan/ladang) pasti sampai masuk ke pekarangan. Mereka ambil woh-wohan (buah) yang ada, bahkan ngambil telur, berusaha masuk rumah juga,” kata Sagiyanto.

Selama ini, warga hanya melakukan pencegahan secara tradisional dengan membunyikan benda saat berada di ladang, pemasangan jaring dan lainnya. Memang hal itu berhasil mengusir MEP tidak mendekat di lahan warga dan menjarah tanaman yang ada, namun itu hanya sementara. Begitu pemilik lahan pergi hewan tersebut kemudian mengambil apa yang bisa dimakan kawanannya.
Pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup menjadikan Purwodadi sebagai pilot project dalam penanganan MEP dengan penyediaan pangan setiap 2 hari sekali. Namun karena populasi MEP banyak maka tetap saja terjadi serangan di lahan warga.
“Kalau titik pemberian makannya tepat. Tapi kan jumlah hewan ini banyak ya jadi tetap saja,” jelasnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Lurah Karangsari, Semin, Supriyana. Dari 13 padukuhan di wilayahnya hampir semua padukuhan, lahan pertanian selalu diserang MEP. Warga pun harus bekerja ekstra dalam mengantisipasi serangan MEP yang merugikan.
“Sekarang yang diserang di Padukuhan Kweni. Harus bagaimana agar serangan berkurang dan lahan tetap bisa produksi untuk pertanian,” tandas dia.
Terpisah, Kepala Bidang Konservasi dan Kerusakan Lahan Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul, Hana Kadaton Adinoto mengatakan, konflik masyarakat dengan MEP memang masih banyak rerjadi di Gunungkidul. Mengingat, daerah di kabupaten ini masih banyak habitat MEP.
Kebijakan-kebijakan dari pemerintah dalam penanganan hewan liar ini dari jangka pendek, menengah dan panjang perlahan diterapkan oleh pemerintah. Adapun penanganan jangka pendek dengan stimulus pemberian pakan selama 10 bulan dengan pilot project di Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus.
Penanganan jangka menengah dengan menanam buah-buahan yang disukai MEP dan pengurangan populasi dengan sterilisasi. Sedangkan jangka panjang bagaimana mengembalikan habitat MEP dengan menanam pohon-pohon perindang dan pohon buah yang bertajuk lebar seperti kepel, bintaro, loh, dan lainnya juga mulai diterapkan.
“Sosialisasi kepada masyarakat akan penanganan MEP pun juga dilakukan,”pungkasnya.
-
Kriminal4 minggu yang laluDisiksa Dari Dipukuli Hingga Lukanya Dilumuri Garam, Remaja 17 Tahun Mengaku Sempat Diancam Ditembak Oknum
-
Peristiwa4 minggu yang laluPerempuan Muda di Ponjong Ditemukan Meninggal Dunia dengan Seutas Tali Dipohon
-
Sosial4 minggu yang laluKisah Sedih Andheng Pasca Kecelakaan, Saat di RS Nurohmah Hanya Dijahit Telinga, Ternyata Patah Tulang Belakang dan Terancam Lumpuh
-
Sosial1 minggu yang laluKisruh Tunggakan Capai 85 Juta Dalam Dua Tahun Terakhir, Penyetoran Pembayaran PBB-P2 di Kalurahan Sawahan “Bocor”?
-
Uncategorized3 minggu yang laluMBG Libur, Harga Sembako Mulai Turun Drastis
-
Pemerintahan3 minggu yang laluDinas Bongkar Upaya Kecurangan Pendaftar SMP N 1 Wonosari, Dari ASN Manipulasi Data Bansos Hingga Gunakan Sertifikat Palsu
-
Uncategorized1 minggu yang laluSuhu Terendah di Gunungkidul Capai 19 Celcius
-
Uncategorized4 hari yang laluTragis, Wanita Muda Ditemukan Gantung Diri di Kamarnya
-
Peristiwa4 minggu yang laluDalam Posisi Terduduk, Lansia 81 Tahun Ditemukan Gantung Diri di Belakang Rumah
-
Peristiwa3 minggu yang laluRS Nur Rohmah “Cuek” di Tengah Operasi-operasi Yang Harus Dijalani Andheng, Keluarga Pilih Tempuh Jalur Hukum
-
Pemerintahan6 hari yang laluProyek Pengeboran Bekah Gagal Total Karena Salah Anilisis, PDAM Tirta Handayani Diminta Gandeng Akademisi
-
Peristiwa4 minggu yang laluDiserempet Pemotor Tak Dikenal di Baleharjo, Pemotor Wanita Luka Parah Terjun ke Tegalan
