fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Warga Mulai Terdampak Kekeringan, Pemerintah Lakukan Dropping Air ke Sejumlah Wilayah

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)—Sejak beberapa waktu terakhir masyarakat Gunungkidul mulai mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Pasalnya kemarau yang terjadi mengakibatkan sebagian wilayah di Bumi Handayani mengalami kekeringan. Untuk itu,  sebagian warga mulai melakukan berbagai cara untuk dapat menikmati air bersih seperti biasa. Mulai dari memanfaatkan sumber air yang masih tersedia, membeli air dan mengajukan droping ke pemerintah pun mulai dilakukan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan mulai Selasa (21/07/2020) kemarin pihaknya mulai melakukan droping air ke sejumlah wilayah yang telah mengajukan permintaan air.

Pada pengiriman awal ini ada 9 titik yang tersasar diantaranya Dusun Piyuyon dan Banyumanik di Kalurahan Pacarejo; Dusun Ngalangombo dan Sendang di Kalurahan Dadapayu, Kapanewon Semanu. Sedangkan di Kapanewon Rongkop meliputi Dusun Kerdonmiri, Tirisan dan Karangwuni, Kalurahan Karangwuni; Dusun Kemesu dan Karangwetan di Kalurahan Semugih, Kapanewon rongkop.

“Masing-masing padukuhan mendapat 4 tanki. Untuk nantinya wilayah lain jika telah mengajukan permohonan kemudian akan dilakukan dropping air dari pemerintah,” ujar Edy Basuki, Rabu (22/07/2020).

Tahun ini pemerintah menganggarkan 700 juta rupiah untuk penaggulangan kekeringan di Kabupaten Gunungkidul. Anggaran ini diharapkan mampu meringankan beban masayarakat dalam pemenuhan air. Di sisi lain, beberapa kapanewon juga memiliki anggaran tersendiri untuk penanggulangan kekeringan di wilayahnya.

Berita Lainnya  Puluhan Tahun Menanti, Warga Karangawen Akhirnya Bisa Nikmati Air Bersih

Saat ini ada sedikitnya 6 kapanewon yang telah melaporkan data rawan kekeringan. Dari enam wilayah tersebut, yang menjadi prioritas dropping di awal yakni kapanewon Semanu, Rongkop, Tepus dan Girisubo.

“Untuk prioritas awal di empat kapanewon itu. Nanti bisa berkembang ke wilayah lain sesuai dengan dampak dan kondisi di lapangan,” imbuh dia.

Salah satu kalurahan yang sejak akhir Juni lalu mengalami kekeringan yakni Kalurahan Purwodadi, Kapanewo Tepus. Pemerintah setempat kemudian mengambil tindakan dengan melakukan droping air secara mandiri menggunakan anggaran yang dimiliki kapanewon. Langkah ini diambil untuk meringankan beban masyarakat dalam mendapatkan air bersih untuk konsumsi dan keperluan lainnya

Di wilayah ini, tampungan yang dimiliki warga sudah menipis ketersediaan airnya, begitu pula dengan sumber-sumber lain. Sehingga masyarakat harus membeli air dnegan harga yang tidaklah murah.

Salah seorang warga padukuhan Duwet, Kalurahan Purwodadi, Sumino mengatakan untuk pemenuhan air bersih keluarganya, pria berusia 62 tahun ini harus memikul derigen dan pergi menuruni bukit. Ia terpaksa berjalan sejauh 1,5 kilometer untuk mendapatkan air dari sumber yang masih ada airnya. Jalanan perbukitan dengan perlintasan yang tidak mudah hampir setiap hari ia lalui .

Berita Lainnya  Fasilitas Tak Lengkap dan Banyak Kerusakan, Direktur Akui RSUD Saptosasi Belum Siap Jadi Lokasi Isolasi

“Jalan kaki agar mendapatkan air untuk konsumsi, mandi dan kebutuhan lainnya,” kata Sumino,

Ia terpaksa mengambil air sendiri ke sumber mata air yang jaraknya cukup jauh. Karena memang kondisi geografis di wilyahnya.

Panewu Tepus, Alsito mengungkapkan sejak akhir bulan Juni 2020 lalu memang wilayahnya mulai kesulitan air. Dari pemerintah kapanewon memiliki anggaran untuk melakukan droping air, untuk itu sejak beberapa minggu lalu pihaknya yang menggandeng pihak ketiga mulai melakukan droping air.

“Sudah mulai ada droping air yang kami lakukan sejak beberapa waktu lalu,” ujar Alsito.

Letak geografis dan faktor lainnya memang menjadikan wilayah Tepus setiap tahunnya kesulitan mendapatkan air, terlebih saat musim kemarau. Wilayah ini menjadi salah satu daerah rawan kekeringan.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler