bisnis
Kebun Anggur Premium Tumbuh Subur di Gunungkidul, Bukti Lahan Karst Tetap Bisa Produktif
Tanjungsari, (pidjar.com)–Di tengah bentang alam perbukitan karst khas selatan Gunungkidul yang selama ini identik dengan tanah kering dan berbatu, sejumlah petani mulai membuktikan bahwa lahan kapur pun mampu menghasilkan komoditas bernilai ekonomi tinggi. Tanaman anggur kini tumbuh subur di kawasan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari. Kerja keras para petani modern ini akhirnya bisa mematahkan anggapan bahwa wilayah selatan DIY hanya cocok untuk palawija dan tanaman keras.
Salah satu pelopor budidaya anggur di kawasan tersebut adalah Sukamto (46), warga Padukuhan Sumuran, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari. Ia mulai menanam anggur sejak dua tahun lalu di lahan miliknya seluas 1.000 meter persegi. Adapun karakteristik lahan milik Sukamto sendiri adalah lahan karst.
“Awalnya saya ragu. Tanah di sini berbatu, air juga terbatas. Tapi saya mencoba pelan-pelan dengan sistem irigasi tetes sederhana dan pupuk organik. Ternyata hasilnya di luar dugaan,” ujar Sukamto saat ditemui di kebunnya, Senin (23/2/2026).
Menurutnya, karakter tanah karst yang poros justru menjadi keuntungan tersendiri bagi tanaman anggur. Air tidak menggenang sehingga akar tidak mudah busuk. Namun begitu, memang harus diperhatikan dan mengontrol berkaitan dengan kebutuhan nutrisi dan penyiraman tanaman.
“Karakter tanah karst itu cepat menyerap air. Jadi kita harus atur pola penyiraman. Anggur cocok di cuaca panas seperti Gunungkidul. Kuncinya di pemangkasan rutin dan pengaturan buah,” jelasnya.

Saat ini, Sukamto membudidayakan sedikitnya 12 varietas anggur, yakni Transfiguration, Everest, Gosv, Tamaki, Jupiter, Julian, Taldun, Ninel, Basanti, Akademik, Heliodor, dan Livia. Seluruh varietas tersebut dinilai adaptif terhadap suhu panas dan menghasilkan rasa manis dengan ukuran buah yang kompetitif.
“Semua jenis berkembang bagus. Rasanya manis, teksturnya renyah. Konsumen juga mulai mengenal kualitas anggur dari Gunungkidul,” katanya.
Hasil panen kebun anggur miliknya sendiri mulai dikomersialkan sejak 2022. Dalam setahun, ia mampu panen hingga tiga kali. Hingga Maret mendatang, kebunnya diperkirakan memasuki panen ke-12 sejak pertama kali produksi.
“Sekali panen bisa ratusan kilogram. Kami jual langsung ke konsumen dan lewat media sosial. Harganya tentu lebih tinggi dibanding tanaman pangan biasa, karena ini hortikultura premium,” ungkapnya.
Sukamto menambahkan, tantangan terbesar tetap pada ketersediaan air saat musim kemarau panjang. Namun ia menyiasatinya dengan penampungan air hujan dan efisiensi penyiraman.
“Kalau hanya mengandalkan tadah hujan jelas tidak cukup. Jadi kami buat tandon dan atur irigasi tetes supaya hemat air,” imbuhnya.
Fenomena berkembangnya kebun anggur di kawasan karst ini disebut Sukamto menjadi sinyal positif bagi diversifikasi pertanian di Gunungkidul. Selama ini, wilayah perbukitan kapur kerap dipandang kurang produktif karena minim air. Namun inovasi dan keberanian petani mengubah paradigma tersebut.
“Kalau dikelola serius, tanah kering bukan berarti tidak bisa menghasilkan. Justru bisa jadi peluang baru. Yang penting mau belajar dan konsisten,” tegas Sukamto.
-
Uncategorized1 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized4 minggu yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized4 minggu yang laluLurah di Gunungkidul Kompak Enggan Teken Berita Acara Serah Terima Aset KDMP, Ada Apa?
-
Uncategorized4 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized3 minggu yang laluSakit Hati Sering Diejek Ketika Memulung Sampah, 2 Remaja Putri Nekat Bakar Sekolah
-
Uncategorized3 minggu yang laluSempat Diancam Akan Dilindas Lehernya, Dua Remaja Babak Belur Dihajar Kelompok Pemuda Silat
-
Uncategorized3 minggu yang lalu9.000 Penerima Bansos Gunungkidul Disetop karena Terindikasi Judi Online
-
Uncategorized4 minggu yang laluDua SPPG di Gunungkidul Belum Kantongi SLHS
-
Uncategorized2 minggu yang laluSaling Bajak Kader Antara PSI dan NasDem Gunungkidul Makin Seru, Ini Tanggapan Sang Ketua
-
Uncategorized1 hari yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized2 minggu yang laluPenerima PKH di Gunungkidul Turun 2.000 Orang, Ini Penyebabnya
-
Uncategorized2 minggu yang laluKelok 23 Tuntas 100 Persen, Akses Gunungkidul-Bantul dengan View Laut Selatan Segera Dibuka
