Pemerintahan
Berturut-turut Tak Dapatkan Siswa Baru, 9 SD Negeri Ini Diusulkan Untuk Diregrouping
Wonosari,(pidjar.com)- Banyaknya sekolah yang tidak mendapatkan siswa pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) mendorong Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul untuk menerapkan kebijakan regrouping di tahun 2026 ini. Berdasarkan evaluasi dan koordinasi yang dilakukan oleh jajaran Dinas Pendidikan, tercatat ada 9 Sekolah Dasar (SD) Negeri yang diusulkan akan diregrouping.
Kepala Bidang Sekolah Dasar (SD) Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul, Asbani mengatakan, ada 9 sekolah yang diusulkan untuk diregrouping. Namun demikian dimungkinkan pada tahun ini hanya sebagian saja yang bisa diterapkan.
Daftar sekolah tersebut diantaranya, SDN Kemiri 1 Tanjungsari, SDN Gelaran 3 Karangmojo, SDN Jaten Tanjungsari, SDN Puleireng Tepus, SDN Widoro Semin dan SDN Sambeng 2 Ngawen.
“Kebijakan regrouping tersebut masih kami koordinasikan,” kata Asbani.
Sekolah-sekolah tersebut pada SPMB tahun ajaran 2026/2027 memang tidak mendapatkan siswa. Demikian pula dengan tahun-tahun sebelumnya yang juga tak mendapatkan siswa satu pun.

Selain itu, pada sekolah-sekolah tersebut, jumlah total peserta didik kurang dari 30 siswa dari 6 kelas yang dibuka. Sehingga hal ini dinilai belum ideal untuk menunjang proses pembelajaran yang optimal.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul, Nunuk Setyowati mengatakan, rencana regrouping ini mengacu pada Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017 tentang penataan satuan pendidikan yang memberikan ruang bagi pemerintah daerah untuk melakukan penggabungan sekolah sesuai kebutuhan.
Selain itu tentunya mempertimbangkan jumlah siswa, aspek jarak antar sekolah juga menjadi perhatian utama dan efektifitas guru dalam pembelajaran dan jam mengajar. Dalam penerapan kebijakan ini, pemerintah akan memastikan akses pendidikan bagi siswa tetap terjangkau dan tidak menyulitkan.
“Prosesnya masih dalam tahap kajian. Belum ada keputusan final terkait sekolah yang akan digabungkan,” kata Nunuk Setyowati.
Ia menambahkan, kebijakan ini tidak hanya berfokus pada efisiensi, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas interaksi belajar mengajar. Dengan jumlah siswa yang lebih proporsional, diharapkan kegiatan pendidikan dapat berjalan lebih dinamis dan efektif.
“Kajian mendalam serta sosialisasi kepada masyarakat menjadi tahapan penting sebelum kebijakan tersebut benar-benar diterapkan. Kami tidak ingin kebijakan ini menimbulkan permasalahab. Sosialisasi akan dilakukan agar masyarakat memahami tujuan dari regrouping ini,” tandasnya.
-
Info Ringan3 minggu yang laluResep Lamian Kuah Daging Sapi
-
Peristiwa2 minggu yang laluTragis, Pelajar SMP di Semanu Ditemukan Meninggal G4ntung D1r1 di Pohon Jambu Mete
-
Info Ringan2 minggu yang laluResep Soto Tangkar
-
Peristiwa1 minggu yang laluLaka Maut Dinihari, Pemotor Tewas Dihantam Pick Up
-
Uncategorized3 minggu yang laluLomba Rebahan Pertama di Indonesia Digelar di JCM, Siapkan Hadiah Rp5 Juta
-
Peristiwa1 minggu yang laluPeriode Maut Jalanan Gunungkidul, Ratusan Kecelakaan Puluhan Korban Meninggal Dunia
-
Uncategorized2 minggu yang laluKecelakaan Beruntun di Baleharjo Gunungkidul, Pengendara Vixion Meninggal Dunia
-
Pemerintahan2 minggu yang laluPrihatinnya Kalangan Dewan, Pelaku Bunuh Diri Mulai Merambah Remaja Hingga Anak
-
Peristiwa2 minggu yang laluLaka Maut di Semanu, Pembonceng Tewas Tersambar Truk
-
Hukum2 minggu yang laluTagih Utang Rp350 Ribu Berbuntut Panjang, Polisi Amankan 5 Orang dan 2 Sajam
-
Uncategorized3 minggu yang laluProses Hukum Kasus Pencurian di Pantai Drini Berlanjut, Begini Penjelasan Polisi
-
Pemerintahan2 minggu yang laluCair, 40 Miliar Gaji ke 13 Untuk Ribuan Pegawai Pemkab Gunungkidul
