fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Abate Sulit Didapat Saat Ramai DBD, Pemerintah Dianggap Irit Sosialisasi

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Dinas Kesehatan Gunungkidul harusnya bekerja lebih keras dalam upaya mensosialisasikan pencegahan penyebaran DBD. Sampai sekarang ini masih ada warga yang belum mengetahui jika akses bubuk abate yang ada di setiap puskesmas diberikan secara gratis.

Seperti yang diungkapkan oleh Ranto Wiyatno, warga Desa Putat. Ia mengaku jika tidak tahu bagaimana cara mendapatkan bubuk abate, obat yang digunakan membunuh sarang nyamuk. Obat ini digunakan untuk menjaga kebersihan lingkungan rumah juga disebar di tampungan air. Selain itu, secara berkala juga melakukan pengurasan area bak mandi.

“Kalau dulu (pada saat Orde Baru) ada pembagian bubuk secara gratis. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Itu biasanya ditaburkan di bak penampungan air untuk mengurangi jentik” kata Ranto, Minggu (15/03/2020).

Ranto pun berharap pemerintah agar terus menyosialisasikan tentang adanya pemberian abate secara gratis sehingga upaya pencegahan DBD bisa lebih optimal.

Hal senada diungkapkan oleh Kismaya Wibawa, salah seorang warga Desa Wareng, Kecamatan Wonosari. Sosialisasi pencegahan DBD dirasa masih kurang. Sebagai warga, ia hanya tahu imbauan pemerintah untuk mencegah penyebaran DBD. Namun untuk akses obat-obatan pencegahan seperti abate tidak tahu cara mendapatkannya. Kismaya pun berharap agar pemerintah lebih menggalakan dalam upaya pencegahan.

Berita Lainnya  Musim Penghujan, Waspadai Mewabahnya Dua Penyakit Ini

“Saya yakin kalau masyarakat tahu cara mendapatkannya abate, maka upaya pencegahan akan lebih optmimal,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty saat dikonfirmasi kemarin membenarkan bahwa bubuk abate diberikan secara gratis di setiap puskesmas di Gunungkidul. Warga pun bisa mengakses obat ini dengan mendatangi ke puskesmas terdekat.

“Semua ada di puskesmas. Di sana nanti dijelaskan cara mendapatkan bubuk abate. Yang jelas semua diberikan secara gratis,” katanya.

“Ketersediaan obat ini dan obat jenis lain saya rasa masih sangat cukup di dinas dan puskesmas,” tambahnya.

Selain itu, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sangatlah ditekankan oleh pemerintah untuk meminimalisasi berkembangnya nyamuk. Tak hanya itu, pemerintah juga mendorong masyarakat untuk lebih menjaga pola hidup dan kebersihan di lingkungan rumah.

Berita Lainnya  Formasi CPNS Pemkab Gunungkidul Sudah di Tangan Bupati

Untuk foging sendiri memang terus dilakukan oleh pemerintah di lingkungan rumah penderita DBD. Namun hal itu dianggap kurang efektif, hal ini lantaran fungsi foging sendiri hanya bertahan beberapa hari.

“Kalau foging kan seperti kita semprotkan obat nyamuk hanya bertahan sebentar sekitar 3 hari. Misal di lingkungan itu saja yang di foging terus kita pergi ke kawasan yang tidak di foging, potensi DBD tetap ada,” tambahnya.

Foging sendiri menurut dewi, hanya membunuh nyamuk-nyamuk dewasa. Setelah itu, kembali muncul dari jentik yang berubah jadi nyamuk.

“Foging tetap dilakukan. Hanya saja kaki upayakan pmahaman masyarakat mengenai pola hidup sehat dan PSN itu,” jelas dia.

Per 13 Maret 2020 kemarin tercatat ada 374 kasus DBD yang ditangani 3 diantaranya meninggal dunia. Hal ini menjadi catatan dan perhatian bersama untuk segera dilakukan tindakan.

“Mengubur, menutup, dan menguras tampungan air atau yang berpotensi jadi sarang nyamuk itu juga sangat perlu ” tutupnya.

 

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler