fbpx
Connect with us

Sosial

Banyak Telaga Masih Minim Air Pada Musim Penghujan, Tahun Ini Dikhawatirkan Terjadi Dampak Kekeringan Parah

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar.com)–Curah hujan yang tidak begitu tinggi pada musim penghujan kali ini menyebabkan sejumlah telaga tak terisi penuh. Hal tersebut dikhawatirkan akan memperparah dampak musim kemarau mendatang. Tak hanya faktor cuaca saja, namun juga penanganan kekeringan akan cukup terpengaruh dengan adanya pengurangan anggaran untuk penanggulangan bencana kekeringan pada tahun ini.

Sejauh ini dari pantauan di lapangan, kondisi telaga di sejumlah wilayah saat ini hanya sedikit yang terisi air. Hal itu diduga lantaran minimnya curah hujan meski puncak musim penghujan hampir usai.

Seperti diungkapkan oleh Camat Tanjungsari, Rakhmadian Wijayanto. Menurutnya, sejumlah telaga yang ada di 5 desa di Kecamatan Tanjungsari hampir seluruhnya masih minim air.

“Saya kan sering terjun ke lapangan, ketika saya sekedar lewat melintasi telaga banyak yang masih kering. Hampir di semua telaga yang ada di 5 desa,” kata Rakhmadian, Kamis (14/02/2019).

Ia mengatakan, manfaat telaga sendiri di wilayah pedesaan sangatlah penting bagi masyarakat. Selain untuk kebutuhan mencuci, terkadang telaga masih digunakan saat masyarakat tidak memiliki air di bak penampungan.

“Tapi kondisinya saat ini minim air. Ada kekhawatiran jika memasuki musim kemarau nanti air sudah tidak tergenang lagi. Jika dilihat dari tahun-tahun sebelumnya,” ujar dia.

Di wilayah lain, tepatnya di telaga Banteng, Desa Melikan, Kecamatan Rongkop yang selama ini sangat terkenal dengan melimpahnya air meski saat musim kemarau pun saat ini kondisinya saat ini minim air. Padahal telaga tersebut menjadi salah satu sumber air utama bagi warga setempat. Di wilayah tersebut setiap tahunnya, masyarakat selalu memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari.

Berita Lainnya  Kehabisan Makanan di Habitat Asli, Ular-ular Besar Mulai Serbu Pemukiman Warga Umbulrejo

Tak jarang pula dijumpai masyarakat hingga menggali tanah di telaga untuk mendapatkan air. Sebab, jaringan PDAM di wilayah tersebut kerap kali tak berfungsi dengan baik.

“Saat ini ada airnya, tapi jumlahnya sedikit. Mungkin tidak sampai musim kemarau,” ujar Kades Melikan, Kartina.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edy Basuki mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya belum melakukan pantauan terkait dengan kondisi telaga yang ada. Namun demikian, langkah tersebut akan dilakukan sebagai upaya pemetaan daerah rawan nantinya.

“Kalau terkait dengan informasi awal musim kemarau kita belum dapat dari BMKG. Kita juga belum memantau kondisi telaga,” kata Edy.

Edy mengatakan, telaga mempunyai peran penting saat musim kemarau tiba. Menurutnya, di wilayah Gunungkidul, telaga memang masih banyak dimanfaatkan masyarakat saat musim kemarau tiba.

“Ketika stok air di bak penampung air hujan (PAH) menipis, masyarakat menggunakan air telaga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” kata Edy.

Disinggung mengenai dana penanggulangan kekeringan, Edy menyebut bahwa anggaran pada tahun ini turun jika dibanding dengan tahun sebelumnya. Penurunan anggaran sendiri cukup signifikan, yakni sekitar Rp 100 juta.

Berita Lainnya  Harga Daging Ayam Tak Kunjung Turun Pasca Lebaran, Dinas Siapkan Antisipasi Khusus

“Tahun kemarin Rp 600 juta. Untuk tahun ini anggaran penanggulangan kekeringan Rp 500 juta. Turun dibandingkan tahun kemarin,” ujar Edy.

Terkait dengan armada tangki untuk droping air jika kekeringan melanda, tahun ini tidak ada penambahan. Menurutnya, beberapa kecamatan telah memiliki tangki air untuk nantinya digunakan mengangkut air.

“Ada 7 tangki milik BPBD. Tahun ini tidak ada penambahan armada,” kata Edy.

Terpisah, Kepala Bidang Pengairan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (DPUPRKP), Taufik Amirudin mengatakan, telaga yang ada di Gunungkidul secara keseluruhan berjumlah 460 telaga. Namun jumlah tersebut termasuk beberapa embung.

“Mayoritas masih berfungsi, tapi ada beberapa yang sudah tidak digunakan karena tidak pernah ada airnya atau mati,” kata dia.

Untuk perawatan, menurutnya masih terus dilakukan setiap tahunnya. Akan tetapi untuk pembangunan sendiri pada tahun ini tidak akan dilakukan.

“Kita fokus irigasi, nanti kalau sudah selesai baru telaga. Kita tidak ada pembangunan tahun ini,” kata dia.

Secara fungsi, menurutnya telaga yang ada saat ini belum berfungsi secara maksimal. Kendala geografis wilayah menyebabkan telaga tidak dapat memberikan fungsinya secara optimal.

“Kondisi geografis wilayah menyebabkan air permukaan tanah tidak bias bertahan lama. Sehingga fungsinya juga tidak bisa maksimal,” pungkas dia.

Klik untuk Komentar

Berita Terpopuler