fbpx
Connect with us

Uncategorized

Cuaca Bersahabat, Hasil Produksi Pertanian di Gunungkidul Meningkat

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Beberapa tahun terakhir hasil produksi pertanian di Kabupaten Gunungkidul menunjukkan grafik peningkatan yang cukup signifikan. Sebagai contohnya, produksi gabah di masa tanam pertama selalu melebihi target.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan ada sejumlah faktor yang mempengaruhi baiknya hasil produksi pertanian di Gunungkidul tahun ini. Beberapa diantaranya ialah cuaca yang bersahabat dengan petani sehingga kebutuhan air mencukupi untuk pertanian.

Selain itu, masyarakat juga telah lihai dalam pengendalian hama di lahan pertanian mereka.

“Ada beberapa faktor yang membuat panen melebihi target yakni saat ini musim yang tergolong baik untuk padi lahan kering, terpenuhinya pupuk bagi petani, dan varietas padi unggul, serta hama penyakit. Untuk bibit bantuan pemerintah 2020 disalurkan 2000 hektar benih padi inbrida, dan 5000 hektar padi gogo ditanam pada masa tanam pertama,” beber Raharjo.

Ia menjelaskan, berdasarkan data yang ada luas sawah di Gunungkidul mencapai 7.325 hektar dan padi gogo luas lahan pertaniannya 40.594 hektar. Dari lahan tersebut menghasilkan produksi gabah sebanyak 248.270 ton melebihi target yang telah ditentukan.

“Sebagian besar petani sudah panen. Tapi ada lahan yang yang belum dipanen, dan ini sebagian sudah melakukan gerakan tanam kembali,” ucap Raharjo.

Disinggung mengenai pemanfaatkan hasil pertanian ia mengungkapan jika gabah dan beras hasil panen para petani selama ini masih dikonsumsi sendiri. Meski jumlah konsumsi tidaklah banyak, akan tetapi gabah yang dimiliki disimpan sebagai cadangan bahan pangan di musim berikutnya.

“Gabah mayoritas disimpan untuk cadangan pangan,” imbuhnya.

Sedangkan untuk tanaman seperti jagung yang setiap tahunnya surplus mayoritas dijual ke pedagang besar di Gunungkidul dan kemudian dikirim ke daerah lain, atau kalau yang telah bekerjasama dengan pihak lain biasanya dijual ke Bisi atau Charun. Begitu pula dengan komoditas kacang tanah yang dijual ke PT Garuda ataupun pedagang besar.

“Rerata dikirim ke Jawa Tengah atau Jawa Timur. Kemudian sebagian kecil dari komoditas tersebut (jagung dan kacang) dikonsumsi pribadi,” jelasnya.

Kendati beberapa komoditas pertanian menunjukkan hasil yang surplus dan dikirim ke daerah lain untuk mendapatkan rupiah, komoditas kedelai masih saja belum bisa memenuhi kebutuhan lokal. Sehingga untuk keperluan daerah, pedagang maupun pemerintah harus membeli kedelai dari daerah lain.

“Ini yang perlu dipecahkan. Peningkatan jangkauan dan luasan tanam sedang diupayakan,” papar Raharjo.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Wonosari, Rintang Awan Eltibakti Umbas mengatakan, pertumbuhan sektor pertanian di kabupaten Gunungkidul sangat signifikan beberapa tahun terakhir. Dimana data BPS pertumbuhannya mencapai 3 persen lebih, dan hal itu sangatlah jarang terjadi di daerah.

“Pertanian sangat signifikan. Ya mungkin ada beberapa faktor yang mempengaruhi, seperti musim kemarau dan penghujan yang cenderung stabil,” ucap Kepala BPS.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler