Sosial
IGD Sempat Penuh, RSUD Wonosari Dirikan Dua Tenda Darurat
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Kapasitas Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Gunungkidul sempat overload. Saat ini, rumah sakit milik daerah tersebut sedang menyiapkan tenda darurat kedua agar semua pasien bisa tertangani.
Direktur RSUD Wonosari, Heru Sulistyawati mengatakan, saat ini lebih dari 70 tenaga medisnya terpapar covid19 sehingga banyak yang sedang dalam perawatan maupun isolasi mandiri. Kondisi inilah yang membuat jajarannya putar otak untuk tetap memaksimalkan pelayanan meskipun dalam kondisi darurat.
“Memang betul sempat ada penutupan, hanya saja untuk saat ini sudah dibuka kembali, kami sudah mendirikan tenda darurat dengan kapasitas enam sampai delapan pasien yang bisa dihandle nakes IGD,” kata Heru kepada pidjar-com-525357.hostingersite.com, Minggu (04/07/2021).
Heru menambahkan, saat ini hanya ada tiga perawat, satu bidan, satu dokter dan satu dokter internship yang berjaga. Jumlah tersebut memang jauh dari kondisi dokter karena enam dokter dinyatakan positif corona.
“Ada 5 perawat 3 bidan dan dua dokter jika dalam kondisi normal dalam satu sift seharusnya,” imbuh Heru.
Heru mengatakan, adapun pasien konfirmasi covid19 di IGD RSUD Wonosari saat ini berjumlah 16 pasien. Sedangkan di bangsal berjumlah 61 pasien. Hampir setiap hari pihaknya merubah jadwal tenaga kesehatan untuk menyesuaikan dengan kondisi.

“Total yang dirawat 77, yang 16 tidak bisa masuk bangsal karena nakes kami sangat terbatas. Karena banyak yang positif ada satu bangsal yang terpaksa kami tutup,” papar Heru.
Saat ini, pihak RSUD Wonosari sendiri masih membutuhkan relawan. Namun, ia mendapatkan informasi dimana dalam rekrutmen ini minim peminat.
“Perawat yang kami butuhkam 37, yang daftar cuma berapa itu, kemudian dokter umum kami butuh empat tidak ada yang daftar sama sekali,” jelas Heru.
Saat disinggung mengenai kondisi kesediaan oksigen, Heru memastikan RSUD Wonosari masih mencukupi. Namun demikian, untuk tabung besar ia tetap harus membeli ke lokasi lain.
“Kalau dulu sebelum ada lonjakan, malam hari bisa ngisi. Sekarang sudah gak bisa karena pasien yang butuh oksigen sangat banyak,” tandas Heru.
-
Uncategorized4 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized5 hari yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluPeduli Kekeringan, GUBUK dan DWP BRIN Salurkan 37 Tangki Air Bersih untuk Warga Gunungkidul
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized1 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
