Sosial
Lestarikan Adat dan Tradisi Selama Ratusan Tahun, Kampung Pitu Diguyur Penghargaan
Patuk,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Berbicara mengenai potensi Desa Wisata Nglanggeran memang seakan tak ada habisnya. Tidak melulu mengenai wisata tirta ataupun menyusuri batuan purba yang menjulang tinggi, akan tetapi juga terdapat ada kearifan lokal yang terus dijaga oleh masyarakat sekitar. Meski sudah banyak diulas, di sisi timur Gunung Api Purba Nglanggeran terdapat sebuah kampung unik yang bernama Kampung Pitu. Budaya di kampung tersebut hingga kini masih kental lantaran terus dilestarikan oleh penduduknya dan berbalut sejarah. Upaya semacam ini pada akhirnya berbuah penghargaan. Pada awal bulan Desember kemarin, Kampung Pitu mendapat penghargaan dari pemerintah DIY sebagai pelestari adat budaya.
Pendamping Kampung Pitu, Heru mengungkapkan, sejak ratusan tahun lalu kampung ini hanya dihuni oleh 7 orang keluarga. Hal itu karena adanya sejarah dan kepercayaan dari masyarakat setempat dan untuk menjaga kelestarian lingkungan yang mereka huni. Mereka percaya dan telah dibuktikan, jika sekiranya penghuni kampung tersebut lebih dari 7 orang, selalu ada yang terkalahkan.
Misalnya saja ada yang meninggal atau keluarga mereka sering tidak harmonis dan bertengkar. Begitu pula jika di kampung tersebut kala dihuni kurang dari 7 keluarga selalu ada permasalahan yang terjadi. Namun jika telah genap 7 keluarga, di sana kondisinya selalu damai dan sejahtera. Mereka yang tinggal di Kampung Pitu pun juga tidak sembarangan. Adalah mereka yang memiliki garis keturunan dari penghuni sebelumnya yang menghuni kampung tersebut.
“Budaya itu terus dilestarikan sampai sekarang. Maknanya juga berbeda-beda, namun prinsip utama adalah menjaga apa yang telah menjadi warisan nenek moyang. Meski jaman telah berbeda akan tetapi hal semacam ini sangat diperlukan,” kata Heru, Minggu (24/12/2018).
Sisi lain yang memang patut menjadi acuan yakni, jika sekiranya dihuni layaknya kampung biasa eksploitasi sumber daya alam dan potensi lainnya bukan tidak mungkin dilakukan besar-besaran hingga akhirnya merusak alam atau potensi yang ada. Berkembangnya jaman, juga tetap diikuti oleh penghuni Kampung Pitu. Dalam kehidupannya juga seperti masyarakat biasa, hanya memang untuk lingkungan huni jauh dari masyarakat lain demi melestarikan budaya dan adat.

“Kami dari masyarakat Desa Nglanggeran tentu sangat mendukung. Itu merupakan aset yang dimiliki. Ada kok beberapa pendampingan mengenai budaya pula yang menyasar. Agar semuanya tidak tergerus perkembangan jaman. Kesenian Ledhek atau tayub kembali kami angkat karena mulai bergeser,” imbuh dia.

Pada awal Desember lalu, berkat kegigihan penghuni Kampung Pitu dalam melestarikan adat dan budaya mereka mendapat pengakuan dan penghargaan dari pemerintah provinsi yaitu Pelestari Adat Budaya yang selama ratusan tahun yang tak pernah pudar. Tentu perjuangan ini tidak hanya dilakukan semalam, namun butuh beratus tahun hingga mendapat penghargaan.
Sementara itu, General Manager Geopark Gunung Sewu, Budi Martono menyatakan mendukung penuh pelestarian Kampung Pitu. Harusnya dari semua lini mengakui keberadaan kampung yang melestarikan adat dan budaya ini. Sebagaimana diketahui, konsep pengembangan geopark juga tidak lepas dari kearifan lokal. Sehingga Kampung Pitu ini merupakan salah satu aspek yang sangat penting.
“Ya tujuan pengembangan geopark kan juga berkaitan dengan kearifan lokal. Mulai dari pendidikan, karakter dan indikator lain tentunya ada,” paparnya.
Meski saat ini tengah gencar dilakukannya pembangunan dan pengembangan geopark dari berbagai instansi pemerintahan, tidak mengganggu kearifan lokal yang ada. Kampung Pitu harus terus dilestarikan mengingat adanya kampung ini Desa Nglanggeran memiliki potensi lain dan nilai plus tersendiri.
“Kearifan lokal dan budaya harus diperhatikan. Dan mereka yang berada di sana maupun lingkungan lain sudah memiliki kesadaran tersendiri. Ini juga sangat berpengaruh dengan kunjungan wisatawan di Gunungkidul,” tutupnya.
-
Pemerintahan2 minggu yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Uncategorized2 minggu yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Uncategorized4 minggu yang laluTak Berhasil Saat Diminta Perbaiki Listrik, Dimas Dikeroyok Secara Brutal, Dari Diinjak Hingga Dihantam Senter
-
Peristiwa2 minggu yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Uncategorized3 minggu yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Peristiwa2 minggu yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized3 minggu yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized3 minggu yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Uncategorized5 hari yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized7 hari yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized6 hari yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized4 minggu yang laluLaka Beruntun Maut 4 Kendaraan di Selang, Seorang Remaja Tewas
