fbpx
Connect with us

Sosial

Menengok Aktivitas Penghuni Lembaga Pembinaan Khusus Anak di Gunungkidul

Diterbitkan

pada

BDG

Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)– Sejumlah anak dibawah umur yang terjerat kasus hukum di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah menghuni Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Yogyakarta yang berada di Kalurahan Baleharjo, Kapanewon Wonosari. Rupanya, anak yang tengah menghadapi permasalahan hukum ini kasusnya pun beragam, mulai dari kasus kejahatan jalanan atau yang disebut dengan Klitih dan lain sebagainya.

Selama berhari-hari bahkan bertahun lamanya anak-anak ini harus terlungkung tembok tebal LPKA sembari menunggu masa hukuman mereka selesai. Berada di lembaga pembinaan atau permasyarakatan nampaknya tak semenyeramkan bayangan banyak orang. Ya, akses komunikasi dengan keluarga maupun lingkungan luar sangat terbatas, namun berada di “dalam” para narapidana anak atau yang sering disebut anak binaan ini justru memiliki kegiatan yang tertata, terstuktur dan dibina agar menjadi orang dan pribadi lebih baik lagi.

Di tempat ini, ada 28 anak binaan dengan berbagai tindak pidana yang dilakukan, mayoritas adalah kasus Klitih yang terjadi di wilayah DIY. Ada 10 anak dengan kasus tersebut, hukuman pidana yang didapat dan dilalui pun beragam. Kemudian ada pula kasus pencurian, penganiayaan, asusila, bahkan ada yang melakukan kasus pembunuhan. Meski semula tak saling mengenal, namun para anak binaan ini telah berbaur dan kedekatan mereka layaknya saudara.

Belum lama ini pidjar-com-525357.hostingersite.com berkesempatan menengok bagaimana aktivitas para anak binaan di dalam lembaga pembinaan. Aktivitas anak binaan dimulai sekitar pukul 04.30 WIB mulai dari bangun tidur, beribadah kemudian disusul dengan apel pagi, olahraga, bersih-bersih di masing-masing wisma dan sarapan. Kemudian disusul kegiatan keagamaan maupun pelatihan keterampilan sesuai dengan jadwal yang sudah ada.

Dari pagi hingga sore, bahkan hingga malam para anak binaan ini penuh dengan aktiftitas sehingga energi mereka dapat tersalurkan di hal-hal yang positif. Meski sosialisasi mereka dengan dunia luar terbatas, namun mereka tetap mendapatkan hak anak sebagai mestinya. Salah satunya adalah soal pendidikan.

Berita Lainnya  Antisipasi Kericuhan Pasca Penghitungan Suara Pilkades Serentak, Polres Siagakan Tim Dalmas Terlatih

“Meski sedang menghadapi masalah hukum namun pendidikan tetap menjadi hal yang utama. Kami (LPKA) berusaha bekerjasama dengan lembaga pendidikan formal maupun non formal untuk pendidikan mereka,” papar Kepala LPKA Yogyakarta, Sigit Sudarmono.

“Contohnya saja ada beberapa anak yang kami upayakan untuk tetap bersekolah di sekolah yang sebelumnya. Untuk tetap mendapatkan pembelajaran, setiap satu minggu ada guru yang datang kesini untuk memberikan materi, ada pula yang kami ikutkan kejar paket sesuai jenjang mereka. Saat ini kami juga berupaya bekerjasama dengan sekolah yang siap menerima anak-anak ini,” jelas dia.

Selain pendidikan, keterampilan juga diberikan agar kedepan mereka juga memiliki bekal untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Siang itu, terik matahari begitu menyengat di kulit. Anak-anak ada yang tengah bersantai di pinggiran wisma, ada pula yang tengah membuat atap dari bahan baja ringan. Beberapa dari mereka juga ada yang sibuk memasak camilan.

Berita Lainnya  Kemiskinan Masih Tinggi, Dua Kapanewon Ini Jadi Prioritas Pembangunan dan Kesehatan

“Seperti atap untuk tempat ngopi bersama ini, anak-anak yang buat kita hanya memfasilitasi. Sebenarnya mereka itu terampil-terampil. Maka dari itu kami upayakan terus mengasah kemampuan mereka dan menyalurkannya dihal yang positif. Kami juga ada pelatihan kesenian, anak kami ajak bermain gamelan, dan lain sebagainya. Termasuk bercocok tanam,” sambung Kasi Ketertiban LPKA, Aris Yulianto.

Selain melihat aktiftitas para anak binaan, pidjar-com-525357.hostingersite.com juga sempat menengok wisma yang mereka huni. Di dalam lembaga pembinaan ini ada tiga wisma yaitu Wisma Cut Nyak Dien yang dihuni oleh anak-anak yang baru saja masuk ke LPKA dan masih membutuhkan perhatian khusus, saat itu wisma ini dihuni oleh 6 anak.

Kemudian ada Wisma Ki Hajar Dewantara yang dihuni oleh 11 anak dengan kategori di atas 18 tahun dan yang terakhir ada Wisma Ahmad Dahlan untuk anak di bawah 18 tahun. Masing-masing memiliki fasilitas yang sama yaitu satu tempat tidur bantal guling dan ada pula kamar mandi bersama. Selain itu, ada pula televisi yang bisa digunakan pada jam-jam tertentu.

“Mereka kan juga butuh hiburan jadi bisa nonton tv pada waktu tertentu. Pastinya dalam pengawasan penjaga yang piket, saat weekend kami berikan hiburan juga ada games PS yang bisa digunakan,” ucap dia.

Berita Lainnya  Jumlah Penderita Terus Meningkat, Sudah Ratusan Warga Gunungkidul Meninggal Dunia Akibat HIV/AIDS

Sedikit bergeser ke dapur, juru masak siang itu tengah sibuk menyiapkan menu makan siang para anak binaan. Asupan gizi pun juga tetap diperhatikan, di dapur dengan ukuran lumayan luas itu terpasang papan besar yang bertuliskan jadwal menu 3 kali setiap hari untuk 10 hari kedepan. Terdapat takaran gizi yang juga harus diperhatikan. Dapur juga merupakan tempat penyaringan apakah anak-anak di LPKA ini bisa benar-benar dilepas untuk berbaur seperti biasa tanpa membahayakan teman maupun petugas.

Salah seorang penguni LPKA mengatakan sebenarnya ia duduk di bangku kelas 2 SMA akan tetapi beberapa waktu lalu ia harus berurusan dengan hukum karena kasus penganiayaan bersama dengan 3 temannya. Hukum saat itu terus berproses hingga akhirnya majelis hakim menjatuhi hukuman 4 tahun penjara atau pembinaan di LPKA.

“Saya di sini sudah 1 tahun 7 bulan karena kasus. Tentu ada rasa rindu dengan orang tua dan ada rasa menyesal. Kalau untuk dijenguk hampir tiap seminggu sekali pasti orang tua datang kesini,” ucap dia.

“Disini saya diajari banyak hal mulai dari keterampilan praktek baja ringan, kesenian gamelan. Hobi sepak bola saya juga tetap tersalurkan,” tutup dia.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler