Budaya
Ngadeni, Salah Satu Dari Empu Keris Yang Tersisa di Gunungkidul
Karangmojo,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Keris merupakan jenis senjata tradisional suku Jawa. Senjata ini sangat mudah dikenali lantaran bentuknya yang khas dan memiliki lekuk-lekuk yang sangat indah. Bagi orang Jawa tulen, keris bukanlah sekedar sebagai senjata saja. Salah satu benda yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO sejak tahun 2006 silam ini dianggap memiliki falsafah khusus dan disimpan sebagai benda pusaka. Tak seperti kebanyakan keris yang dibuat oleh tukang besi biasa, keris yang memiliki aura dibuat oleh seorang Empu.
Pidjar.com berhasil menemukan salah seorang empu keris yang hingga saat ini masih bertahan. Dia adalah Empu Ngadeni, warga Padukuhan Grogol II, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo. Ngadeni yang telah berusia 85 tahun ini di usia senjanya masih terus menerapkan sejumlah falsafah dalam pembuatan keris hasil produksinya. Keris tidak ia buat secara sembarangan dan sangat mempertimbangkan sejumlah aspek, seperti misalnya dari pemesannya.
Diceritakan Ngadeni, dalam proses pembuatan keris, ia tak pernah mau dipatok dengan berbagai hal, termasuk waktu. Proses pembuatan keris disebut Ngadeni tidak bisa sembarangan dan membutuhkan persiapan khusus. Prosesi semacam ini terus ia yakini untuk menghasilkan keris yang tak hanya bagus secara bentuk saja, akan tetapi juga secara estetika.
“Pekerjaan yang dilakukan secara sabar pasti hasilnya bagus, berbeda jika menggunakan emosi,” ujar Ngadeni, Minggu (18/03/2018) sore tadi.
Berbeda dengan pembuat kebanyakan, ia mewajibkan setiap pemesan keris untuk menyebutkan tanggal lahir dan wetonnya. Saat memesan, ia pun juga tidak bisa memastikan jumlah luk (bagian yang berlekuk dalam keris) maupun bentuk keris yang dipesan ketika jadi. Semua nantinya akan sangat tergantung dari hasil tempaan yang dilakukan ketika proses pembuatan.

Pun demikian dengan pamor yang keluar dari keris tersebut. Saat awal pemesanan, ia tidak tahu pamor masing-masing keris yang dibuatnya. Pamor keris akan keluar setelah keris diperhalus.
“Baru saya beritahukan kepada pemesan mengenai pamor yang keluar dari keris tersebut,” lanjut dia.
Untuk bisa menikmati keris buatan Ngadeni, pemesan harus rela menunggu dari 2 minggu hingga 1 bulan. Sementara untuk harga dipaparkannya berkisar diantara 2,5 juta hingga 6 juta rupiah per keris. Tak hanya membuat keris baru, Ngadeni juga menerima pesanan daur ulang keris lama.
Salah satu pemesan daur ulang yang cukup menarik baginya adalah adanya pemesan yang ingin menggabungkan 3 buah keris menjadi satu. Ketiga keris yang diminta untuk didaur ulang disebutnya adalah keris tua peninggalan Majapahit.
“Tapi ya tidak apa-apa. Asal semuanya didasari niat baik,” beber dia.
Ngadeni mengaku mewarisi kemampuan membuat keris dari ayahnya Karyo Diwongso yang biasa disebut Empu Tosan Aji saat dirinya masih tinggal di Padukuhan Kajar Desa Karangtengah Kecamatan Wonosari. Nama Tosan Aji sendiri ada dalam buku yang berjudul Pedekar-Pendekar Besi Nusantara, sebuah buku kajian antropologi tentang industri pande besi pedesaan di Indonesia yang ditulis oleh Ann Dunham Soetoro, ibu mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama.
"Ayah saya belajar dari bapaknya, atau kakek saya. Waktu itu hanya melihat saja, tidak pernah belajar langsung," ujarnya.
Dengan nama besar semacam ini, tak heran bahwa Ngadeni saat ini begitu masyur di antara kalangan pecinta keris. Tak hanya pemesan dari dalam negeri saja, pesanan kerisnya bahkan sudah dikenal hingga luar negeri seperti Amerika Serikat, Belgia dan Singapura.
“Pernah itu orang Singapura datang dan membeli 2 keris sekaligus,” ucapnya.
Selain membuat keris, Ngadeni juga mengerjakan pekerjaan yang berkaitan dengan besi lainnya. Paling banyak ia memproduksi peralatan pertanian seperti cangkul dan peralatan lainnya. Namun demikian, untuk pembuatan peralatan pertanian tersebut, prosesnya berbeda dan lebih sederhana dibandingkan ketika membuat keris.
“Ketika membuat keris saya masih memegang pakem dengan menggunakan alat tradisional. Sementara yang peralatan pertanian sudah ada beberapa alat pembantu,” imbuh Ngadeni.
Apa yang dikatakan Ngadeni ini tergambar jelas ketika kita masuk ke bengkel pembuatan kerisnya. Sejumlah peralatan tua masih bisa dilihat dan juga bisa digunakan dengan baik. Peralatan seperti palu dan penjepit tersebut adalah warisan turun temurun dari ayah dan kakeknya. Bahkan di lokasi pembakaran, terlihat sangat tua dan masih menggunakan tulisan aksara Jawa.
-
Pemerintahan3 minggu yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Uncategorized3 minggu yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Peristiwa3 minggu yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Peristiwa3 minggu yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized3 minggu yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Uncategorized2 minggu yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized4 minggu yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Uncategorized4 minggu yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized2 minggu yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized2 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized3 minggu yang lalu83 Tukik Dilepas ke Laut, Bupati Gunungkidul Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Penyu
-
Uncategorized2 minggu yang laluLurah di Gunungkidul Kompak Enggan Teken Berita Acara Serah Terima Aset KDMP, Ada Apa?
