fbpx
Connect with us

Olahraga

Pensiun Dini Lantaran Cedera Lutut Parah, Talenta Terbaik Gunungkidul Ini “Terdampar” Jadi Pengusaha Fotokopi

Diterbitkan

pada tanggal

––>

Wonosari,(pidjar.com)–Karir gemilang pemain berbakat Gunungkidul, Tony Yuliandri harus berakhir saat masih berada di usia yang masih terhitung sebagai usia emas. Tony terpaksa harus gantung sepatu lantaran cedera lutut parah yang membelitnya. Pada masa jayanya, pemuda asal Trimulyo I, Desa Kepek, Kecamatan Wonosari sempat menjadi striker andalan dua tim terbaik di DIY yakni PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman. Pasca pensiun, Tony kini memilih menekuni usaha fotocopy.

Nama Tony sendiri memang cukup beken di kancah sepak bola DIY. Ia mengawali karir sejak masih berusia anak-anak dengan bergabung di Sekolah Sepak Bola (SSB) di Yogyakarta. Jarak yang cukup jauh antara Wonosari dan Yogyakarta tak menyurutkan niatnya untuk menggapai mimpi menjadi seorang pemain profesional. Jerih payah serta perjuangannya terbayar ketika PSIM kekurangan pemain untuk berkompetisi. Tony kemudian ditunjuk untuk mengisi kekurangan pemain tersebut.

Itu adalah awal dari karir gemilang Tony. Penampilannya yang memuaskan membuat manajemen PSIM Yogyakarta kemudian terus menggunakan jasanya. Total, Tony membela Laskar Mataram, julukan PSIM Yogyakarta hingga 3 musim lamanya. Selepas berkarir di PSIM, Tony sempat hijrah dengan berkompetisi di luar negeri, mengikuti kompetisi di Timor Leste. Hal ini terpaksa dilakukan lantaran kompetisi kala itu terhenti.

“Saya kemudian ikut klub profesional di Timor Leste, ikut kompetisi di sana. Kemudian pada tahun yang sama saya pindah ke Pekalongan,” ujar dia kepada pidjar.com, Kamis (22/08/2019) siang.

Dua bulan bermain di Pekalongan, Tony menceritakan sempat mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan. Gajinya selama dua bulan merumput tak dicairkan oleh manajemen tim kala itu.

Berita Lainnya  Keluhan Pengamen Resahkan Masyarakat Viral, Polisi Sisir Terminal Wonosari

“Kalau dihitung, dalam dua bulan itu seharusnya saya mendapatkan kurang lebih Rp 10 juta,” ucap dia.

Meskipun berat, dirinya terpaksa mengikhlaskan hasil keringatnya itu. Rezeki bagi Tony tak akan jatuh di tempat yang salah. Hal ini lantaran pada kesempatan yang sama ia kemudian terpilih masuk untuk bergabung di PSS Sleman.

“Saya harus ikhlas, dan akhirnya saya mendapatkan penggantinya saat itu saya bermain di PSS,” katanya.

Nasib kurang bersahabat kembali lagi menghampiri karir Tony sebagai pemain sepakbola. Ia kemudian mengalami cedera. Cedera lutut yang cukup parah itu bahkan membuat dirinya harus menjalani operasi.

“Saat operasi habis Rp 60 juta untungnya ditanggung BPJS. Lalu saya harus terapi juga , terapi ditanggung oleh tim. Saya beruntung mendapatkan tim yang manajemen baik waktu itu. Banyak teman saya yang cedera tetapi tidak ditanggung oleh tim,” ujarnya.

Tony Yuliandri saat ditemui di usaha fotokopi yang dimilikinya

Saat sembuh dari cedera lutut rasa trauma tidak bisa hilang darinya. Ia takut jika nanti cederanya kambuh atau bahkan lebih parah. Ia masih ingin kembali merumput namun jika mendapatkan manajemen yang kurang baik ia juga tidak menginginkannya.

Berita Lainnya  Hari Terakhir Pencarian Markiyem di Hutan Wonosadi, Petugas Tak Lagi Libatkan Anjing Pelacak

“Takutnya malah mendapat tim yang tidak baik manajemennya, seperti yang dulu gaji saya tidak dibayar selama 2 bulan. Lalu saya memutuskan untuk membuka usaha fotokopi ini,” katanya.

Ide usahanya itu tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari teman-temannya. Sebab, di mata rekannya itu, Tony dicap sebagai pribadi yang mudah bosan.

Namun Tony yang memiliki semangat tinggi juatru membuktikan dengan menekuni usaha tersebut seserius mungkin. Beban berat dialami dia ketika pada awal usahanya belum banyak dikenal orang sehingga pemasukan sulit didapat. Tony sendiri membuka usaha fotokopinya di Jeruksari, Kecamatan Wonosari, sekitar 50 meter di utara RSUD Wonosari.

“Bulan-bulan awal itu bener-bener babat alas (membuka lahan baru), sangat sulit tetapi setelah saya pelajari perlahan saya mendapat pelanggan bahkan beberapa dinas di Gunungkidul juga menjadi pelanggan saya,” katanya.

Namun, Tony juga tidak menyia-nyiakan bakat bermain sepak bola yang telah ia tekuni sejak ia masih kecil itu. Berbekal dengan modal lisensi D kepelatihan yang ia miliki, dirinya membagi waktu untuk melatih di sebuah SSB di Gunungkidul.

“Saya sekarang punya karyawan, dan mereka sudah mengerti dengan tugas-tugasnya jadi bisa saya tinggal beberapa kali dalam seminggu untuk melatih,” pungkas dia.

Iklan
Klik untuk Komentar
Iklan

Facebook Pages

Iklan
Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler