fbpx
Connect with us

Politik

PW Muhammadiyah: Immawan Wahyudi Satu-satunya Kader Muhammadiyah Yang Berlaga di Pilkada Gunungkidul

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Menjelang diselenggarakannya Pilkada 2020, iklim politik di Gunungkidul mulai semakin panas. Timses mulai bergerak untuk menarik simpati dari masyarakat. Muhammadiyah yang merupakan salah satu organisasi keagamaan yang memiliki anggota cukup besar di kabupaten Gunungkidul menjadi salah satu organisasi yang dibidik oleh para kontestan. Sedikitnya ada 2 kandidat yang saat ini terpantau berebut suara Muhammadiyah. Dua kandidat itu adalah pasangan Immawan Wahyudi-Martanty Soenar Dewi dan Sutrisna Wibawa-Mahmud Ardi Widanta. Immawan Wahyudi sendiri merupakan kader tulen Muhammadiyah sedangan Sutrisna-Ardi diusung oleh PAN.

Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pengurus Wilayah Muhammadiyah DIY, Muhammad Saleh Tjan mengungkapkan, menyikapi dinamika politik saat ini, Muhammadiyah menyatakan berada di titik tengah atau netral tidak berpihak pada salah satu calon. Namun demikian, terkait dengan pilihan politik, ia memaparkan bahwa hal itu tentu diserahkan kepada masing-masing inidividu.

“Mereka mau memilih siapa itukan hak mereka. Muhammadiyah merupakan organisasi atau kelembagaan di mana kami tidak menerapkan politik dukung mendukung dalam kontesasi demokrasi semacam ini,” terang Saleh Tjan, Sabtu (12/09/2020).

Pada pilkada 2020 ini, ada 4 bakal calon yang sekarang ini sudah aktif mengikuti tahapan Pilkada.Timsesnya sendiri juga sudah mulai bergerak untuk mencari simpatisan. Untuk itu, kebebasan memilih dan berpihak kepada pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati itu dipersilahkan dari individu (kader/umat) masing-masing.

Berita Lainnya  Tokoh Agama Kecam Serangan ke Gereja St Lidwina, Polres Gunungkidul Tingkatkan Pengamanan Rumah Ibadah

“Sekali lagi Muhammadiyah itu netral. Soal pilihan tentu kami serahkan ke masing-masing mau ikut pasangan mana saja. Tapi yang perlu diketahui, orang Muhammadiyah itu kan cerdas,  seharusnya kita satu pilihan yang sama dengan menakar dan melihat masing-masing pasangan itu bagaimana. Berpeda pilihan di kami ndak masalah,” jelasnya Saleh Tjan yang juga merupakan Ketua Forum Keluarga Alumni IMM.

Yang ditekankan kepada para kadernya terkait dengan peran serta dalam  menjaga suhu politik yang sangatlah sensitif ini. Dengan ikut serta dalam menjaga kestabilan kondisi ini diharapkan tidak menimbulkan gesekan atau hal-hal lainnya. Pihaknya meminta agar warga Muhammadiyah menggunakan hak pilih mereka secara bertanggung jawab. Jangan sampai salah arah dalam menentukan pilihan, nilai dalam artian kualitas dan kesesuaian visi misi calon harus diketahui betul dan sesuai dengan yang diinginkan arus bawah atau tidak.

“Nilai ini lah yang seharusnya menjadi dasar. Bukan dalam artian yang lainnya, namun nilai yang dimaksud adalah akhlaknya, bagaimana visi misi mereka dalam pembangunan Gunungkidul yang lebih baik lagi. Bagaimana cara memecahkan problem yang ada selama ini untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat Gunungkidul,” tambahnya.

Disinggung mengenai pencalonan Immawan Wahyudi, ia mengatakan, Immawan merupakan satu-satunya kader Muhmmadiyah yang berkontestasi dalam pilkada 2020 di Kabupaten Gunungkidul. Dirinya secara pribadi kenal betul dengan laki-laki yang sudah malang melintang didunia perpolitikan ini. Ia merupakan  sosok pemimpin yang kaya hati, kuat akhlak dan moralnya, serta tegas dalam menentukan sikap.

Berita Lainnya  Bawaslu Buka Rekruitmen Panwascam, Ini Tahapannya

“Ia merupakan satu-satunya kader atau ulama yang saat ini terjun di Pilkada Gunungkidul ini,” ujar dia.

Sementara itu, salah satu tokoh Muhammadiyah lainnya, Sukriyanto AR juga mengatakan hal yang sama. Dimana secara kelembagaan Muhammadiyah netral dalam Pilkada 2020 ini. Ia sedikit menggambarkan pemimpin yang dibutuhkan oleh masyarakat yakni yang memiliki visi misi yang matang, kreatif dan inovatif.

“Memiliki ide banyak dalam mengembangkan Gunungkidul dan memajukan masyarakatnya,. Bukan hanya pembangunan fisik saja akan tetapi semua haruss imbang, mulai dari pemberdayaan dan lainnya,” ucap Sukriyanto AR.

Sebagai seorang pemimpin harus mampu mengayomi masyarakatnya. Sebagai organisasi besar, Muhmmadiyah membuka diri hanya saja secara kelembagaan memang organisasi ini netral dalam segala hal yang berkaitan dengan politik.

“Pemimpin yang tidak jujur tentu nantinya juga tidak akan jujur. Kita semua pandai dalam menentukan pilihan,” jelasnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler