Connect with us

Pemerintahan

Serangan Monyet Ekor Panjang Terus Rugikan Petani, Begini Langkah Pemkab Gunungkidul

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar.com)– Serangan monyet ekor panjang (MEP) terus menjadi momok tersendiri bagi petani di Gunungkidul, utamanya yang berada di kawasan selatan dan perbukitan. Serangan MEP ini sendiri sudah sangat merugikan para petani sejak sedekade terakhir Pasalnya MEP merusak tanaman pangan yang berada di ladang. Bahkan tak jarang masuk ke pekarangan rumah. Menyikapi kondisi demikian, pemerintah menerapkan beberapa langkah penanganan salah satunya dengan penyediaan pakan bagi MEP.

Kepala Bidang Konservasi dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul, Hana Kadaton Adinoto mengatakan, mengacu pada Undang-undang nomor 23 tahun 2024, kewenangan kehutanan di kabupaten sudah tidak ada. Sehingga dalam penanganan MEP merupakan kewenangan dari BKSDA DIY.

Akan tetapi karena serangan MEP sangat meresahkan bagi petani dan masyarakat, Pemkab Gunungkidul tetap turun melakukan penanganan untuk meminimalisir dampak kerugian yang dialami oleh petani. Ada 3 jenis penanganan yang digagas oleh pemerintah kabupaten atas serangan MEP yang semakin menjadi-jadi.

Berita Lainnya  Cerita Pilu di Balik Amarah Bocah SMP Yang Ngamuk Bawa Sabit ke Sekolah, Sejak Kecil Ditinggal Orang Tua

“Kami berkoordinasi dengan universitas untuk mengkaji dan menentukan tindakan seperti apa yang perlu diterapkan untuk meminimalisir serangang MEP,” kata Adinoto, Sabtu, (07/02/2026).

Adapun untuk jangka pendek, sejak beberapa tahun terakhir pemerintah menyiapkan stimulus pakan bagi MEP berupa ubi kayu atau singkong dan pisang yang disebar di beberapa titik lokasi yang sering ditemui kawanan hewan tersebut.

“Pakan ini diberikan 2 sampai 3 hari sekali. Rerata 45 kg ubi kayu dan 18 sisir pisang saat pemberian tersebar di 8 titik yang berada di Kapanewon Tepus,” ucapnya.

Untuk menyediakan pakan MEP ini, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 160 juta untuk 10 bulan. Anggaran tersebut bersumber dari Dana Keistimewaan, termasuk pemberian upah bagi petugas pemberi pakan.

Berita Lainnya  Anggaran BPBD Menipis, Pemerintah Belum Akan Naikkan Status Kekeringan

Langkah penyediaan makan untuk MEP dinilai efektif untuk meminimalisir serangan hewan tersebut saat musim tanam hingga panen seperti sekarang ini dan musim kemarau. Sehingga MEP tidak merusak lahan pertanian dan masuk ke pekarangan warga.

Lebih lanjut Adinoto mengatakan, penanganan jangka menengah yang digagas adalah dengan melakukan penanaman pohon di kawasan perbukitan yang menjadi habitat MEP. Jenis pohon yang ditabam adalah pohon perindang serta buah-buahan.

Sedangkan jangka panjangnya, pemerintah berupaya untuk mengembalikan habitat asli MEP dengan menghijaukan lagi sejumlah kawasan tertentu.

Menurutnya dalam penanganan MEP tidak hanya merupakan ketugasan DLH akan tetapi harus melibatkankan bidang lain atau lintas sektor. Bahkan harus ada sinergi antara pusat provinsi, kabupaten atau kota, serta masyarakat umum.

Berita Lainnya  Rinding Gumbeng Tampil di Istana Negara Peringati HUT RI, Puluhan Seniman Gunungkidul Diberangkatkan

“Kita baru menunggu SK Gubernur terkait penanganan MEP. Kalau masukan dari beberapa OPD, kesimpulannya menanam tanaman buah-buahan dan melakukan pengurangan populasi dengan sterilisasi perlu dilakukan. Tapi perlu pembahasan lebih lanjut dengan pemangku kepentingan,” jelasnya.

Sementara itu, Lurah Purwodadi, Kapanewon Tepus, Sagiyanto menjelaskan serangan monyet memang sering meresahkan warga. Menurutnya saat musim seperti ini serangan MEP banyak terjadi di ladang. Sebagai antisipasinya, para petani sering melakukan pemasangan jaring meski sering dijebol oleh kawanan hewan tersebut. Bahkan ada yang memilih untuk menunggui ladang agar tidak rusak.

“Serangan masih tetap, cuman perbedaanya kalo pas musim seperti ini ya di lahan pertanian. Tapi kalau kemarau bahkan masuk ke pemukiman warga,” ucap dia.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Pariwisata4 hari yang lalu

Hampir Capai Target Tahunan, Baru Juni Pendapatan Retribusi Wisata Telah Capai 35,8 Miliar

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)- Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Kabupaten Gunungkidul hampir mencapai target tahunan meski baru di pertengahan tahun 2026...

Pariwisata5 hari yang lalu

Gunungkidul Geopark Night Specta 8.0 Masuk KEN 2026, Siap Promosikan Geopark Gunung Sewu ke Dunia

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari(pidjar.com)– Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) kembali menggelar Gunungkidul Geopark Night Specta (GNS) Vol. 8.0 di...

Pariwisata2 minggu yang lalu

Listrik Kerap Padam, Sistem Pungutan Retribusi Non Tunai di Pantai Gunungkidul Terganggu

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)–Penerapan sistem pembayaran retribusi wisata secara non-tunai di sejumlah Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) kawasan wisata pantai selatan Gunungkidul...

bisnis2 minggu yang lalu

Pony Park Klaten Usung Konsep Wisata Ramah Hewan, Edukasi Interaktif Jadi Daya Tarik Utama

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Klaten,(pidjar.com)– Kehadiran Pony Park Klaten (POPA) yang dijadwalkan resmi dibuka pada 28 Juni 2026 tidak hanya menawarkan destinasi wisata...

Pariwisata3 minggu yang lalu

Libur Sekolah, Obyek-obyek Wisata Mulai Dibanjiri Siswa Study Tour

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)-Libur sekolah tahun 2026 mulai menggerakkan sektor pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) termasuk juga di Gunungkidul. Saat...

Berita Terpopuler