fbpx
Connect with us

Budaya

Unik, Menengok Kampung Pitu yang kini Berusia 103 Tahun

Published

on

Patuk,(pidjar.com)–Mebicarakan tentang kebudayaan di Bumi Handayani memang tidak ada habisnya. Misalnya saja dii sekitar bukit Nglanggeran Kalurahan Nglanggeran Kapanewon Pathuk, terdapat kampung unik yang hanya bisa dihuni 7 Kepala Keluarga saja. Apabila lebih atau kurang dari 7 KK, maka masyarakat sekitar meyakini hidup dari masyarakat tidak akan tenang dan seringkali terjadi cek cok.

Warga setempat, Surono mengatakan, awal mula kampung 7 ini berdiri karena adanya keturunan trah Iro Dikromo. Sesepuh setempat. Keturunan Iro Dikromo sendiri berhasil memenangi sayembara telrama menjaga kampung ini.

Awal berdirinya saya kurang tau ya pasnya, tapi yang jelas sudah berabad-abad. Kalau seinget saya dari lahir memang belum pernah ditinggali kurang atau lebih dari 7 KK,” ujar Surono, Sabtu (19/09/2020).

Surono mengulas, dahukunya Kampung 7 bernama Kampung Telaga Nglanggeran yang terdapat area pematang sawah seluas tujuh hektare. Tak jauh dari swah terdapat sebuah Pohon Kinah Gadung Wulung yang dipercaya memiliki benda pusaka.

Berita Lainnya  Peringati 1 Suro, Warga Ikuti Jamasan Pusaka di Desa Pengkol

“Lalu ada orang dari Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat bertandang, membuat syaembara berisi tentang siapa saja yang betah menjaga pohon itu,” papar Surono.

Setelah mengalami berbagai hadangan rintangan, Kyai Iro Dikromo berhasil memenangkan syaembara sehingga seluruh keturunannya berhak memanfaatkan kesuburan tanah di kampung ini. Dikatakan Surono, warga sekitar memamg bermata pencaharian sebagai petani.

Kalau jumlah penduduk ada sekitar 7, keluarga saya (Surono), Dedi, Dalino, Suhardi, Sugito, Sumadiyono dan Yatno, seluruh penduduk berjumlah 31 jiwa,” papar dia.

Sementara Surono sendiri merupakan turunan dari Yatno Rejo. Dimana ia menjadingenerasi ke-6 Kampung 7.

Kalau dihitung sudah sekitar 103 tahun berdiri kampung ini,” imbuh Surono.

Terpisah, Lurah Nglanggeran, Senen mengatakan, Kampung 7 ini dimanfaatkan keunikan sejarahnya dengan dijadikan destinasi wisata sepaket dengan Gunung Api Purba Nglanggeran. Sejauh ini banyak mahasiswa maupun peneliti yang datang untuk melakukan observasi atau wisatawan untuk berwisata.

Berita Lainnya  Panggung Lumpuh, Pekerja Seni dan Budaya Diproyeksikan Dapat Bantuan Pemerintah

Di lokasi ini juga sangat bagus, tapi memang belum dikomersilkan,” tutup Senen.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler