Pemerintahan
Usaha Keras Pemkab Gunungkidul Berantas Kejahatan Terhadap Anak Dapat Apresiasi Dari Kementrian
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Komitmen pemerintah Gunungkidul untuk menjadi daerah ramah dan layak anak sangatlah tinggi. Beberapa program terus dilakukan agar nantinya untuk pemenuhan hak-hak anak dan menekan terjadinya kekerasan bisa terwujud di Gunungkidul. Salah satu program yang tengah diterapkan oleh pemkab Gunungkidul yakin adalah Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). Program ini merupakan program yang dikeluarkan oleh Kementerian Perlindungan Perempuan Anak.
Debuti Perlindungan Perempuan dan Anak, Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak, Nahar mengatakan jika saat ini pemerintah pusat tengah mendorong seluruh Pemda dan Pemkab atau Pemkot dalam proses pembentukan PATBM. Dalam hal ini pemerintah desa lah yang didorong untuk lebih aktif kembali dalam mengerti kondisi pergaulan anak-anak di wilayahnya. Sehingga nantinya mereka akan cepat tanggap dalam menghadapi kondisi bilamana terjadi perilaku menyimpang. Dengan adanya hal ini, maka segala bentuk permasalahan anak yang terjadi akan dapat segera ditangani maupun dicarikan solusi.
Program PATBM sendiri menggandeng masyarakat, komunitas dan instansi untuk dapat menyediakan layanan yang maksimal, pencegahan kasus kekerasan pada anak, dekteksi dini, hingga penanganan pada kasus kekerasan baik verbal ataupun fisik yang dialami oleh anak. Dalam pencegahan ini, lingkungan terbawah keluarga dan desa perlu sinergitas yang tinggi.
Pemenuhan hak-hak anak seperti misalnya kesehatan, lingkungan sosial yang baik, pergaulan dan pendidikan sesuai pada peraturan diharapkan dapat dilakukan. Pemkab diharuskan lebih memiliki penguatan sistem dan pelayanan yang maksilmal. Untuk menjadi kawasan yang kuat dalam pengoptimalan PATBM, satu daerah minimalnya memiliki 10 relawan untuk memberikan pendampingan dan pelayanan pada masyarakat.
“Kalau Gunungkidul sendiri kami targetkan seluruh desa menerapkan sistem PATBM mengingat kondisi daerah yang luas dan seerti ini,” terangnya, Minggu (28/04/2019).

Adapun saat ini Pemkab Gunungkidul telah membentuk desa PATBM di beberapa kawasan. Salah satu yang menjadi percontohan dengan program kerja yang bagus adalah Desa Ngalang. Konsep yang diterapkan telah sesuai sejak tahun 2016 lalu, belajar prespektif atas kondisi pergaulan dan sosial anak-anak di wilayah tersebut.
“Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari itu sudah bagus. Sementara desa pengembang atau desa lainnya kalau mau belajar bisa mencontoh desa ini,” tambah dia.
Target Gunungkidul untuk mendapat predikat Kabupaten Layak Anak cukup diapresiasi oleh Deputi Perlindungan Perempuan dan Anak. Beberapa dorongan dan evaluasi diberikan agar jauh lebih ada pemantapan kembali dan predikat yang lebih baik bisa diperoleh. Menurutny Nahar, pondasi dan komitmen pemkab dalam memberikan layanan dan pemenuhan hak haruslah kuat. Jangan sampai di tengah jalan justru jebol dan berdampak fatal.
“Semua lini perlu bergandengan tangan. Pencegahan nikah dini, penanganan kekerasa hingga pemenuhan pendidikan. Terlebih pernikahan dini serta kekerasan ini lah yang perlu diperhatikan, sejauh ini saya amati Gunungkidul unggul dalam pencegahan pernikahan dini,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Sudjoko mengungkapkan, beberapa kasus kekerasan pada anak secara verbal ataupun fisik, semaksimal mungkin di tangani dan dikendalikan oleh pemerintah. Dengan penerapan PATBM, diharapkan masyarakat dapat mencegah secara dini, tidak menutup kemungkinan jika kekerasan sendiri terjadi atau dilakukan oleh orang terdekat atau masih dalam satu komunitasnya.
Gerakan peningkatan kesiapan mencegah kekerasan ini, menjadi ujung tombak bagi kualitas dan kondisi generasi muda sebagai penerus. Berkaca pada sejumlah kejadian, Pemkab terus berbenah dan mencari terobosan baru dalam penanganannya. Kesadaran masyarakat dan desa terus dipupuk agar memahami pentingnya pemberian perlindungan pada hak dan kewajiban anak-anak.
“Terus kami upayakan pembentukan desa ramah anak. Sekolah-sekolah pun juga telah berdeklarasi, ini untuk berbenah dalam pemenuhan anak dan perempuan kita gandeng semua lini. Ya, kita targetkan Gunungkidul dapat predikat KLA secara perlahan, tentunya harus lebih giat kembali semua elemen terus dibenahi dan dimotivasi,” kata Sudjoko.
Selama ini, pemkab telah membentuk desa PATBM di desa Patuk, Ngalang, Banaran dan Kemadang sebagai pelopor. Kemudian untuk desa-desa lainnya masih dalam tahapan sosialisasi dan akan segera dilakukan pembentukan.
-
Uncategorized3 minggu yang laluMantan Kepala Benarkan Alat-alat Musik Studio SKB Gunungkidul Berada di Rumahnya, Sebut Untuk Kursus Musisi Muda Kawasan Selatan
-
Uncategorized7 hari yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Uncategorized3 minggu yang laluTak Berhasil Saat Diminta Perbaiki Listrik, Dimas Dikeroyok Secara Brutal, Dari Diinjak Hingga Dihantam Senter
-
Pemerintahan5 hari yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Peristiwa6 hari yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Uncategorized1 minggu yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Uncategorized2 minggu yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized2 minggu yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Peristiwa6 hari yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized4 minggu yang laluStudio Musik dan Rekaman SKB Gunungkidul Kini Lumpuh Total Gegara Alat Hingga Sound Dibawa Pulang Mantan Pejabat
-
Uncategorized4 minggu yang laluTragis, Wanita Muda Ditemukan Gantung Diri di Kamarnya
-
Uncategorized3 minggu yang laluDua Kasus Gantung Diri Terjadi dalam Sehari di Gunungkidul, Lansia Pria dan Perempuan Ditemukan Meninggal
