Connect with us

Sosial

Berpotensi Rusak Sungai Bawah Tanah dan Picu Banjir, Walhi Desak Pemerintah Tutup Peternakan Ayam Raksasa

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Pemerintah Kabupaten Gunungkidul didesak untuk mengambil langkah tegas dan cepat terkait dengan polemik perusahaan peternakan ayam raksasa milik PT Widodo Makmur Unggas di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu. Beroperasinya perusahaan tersebut dikhawatirkan akan merusak alam Pacarejo di mana banyak terdapat sungai bawah tanah serta kawasan karst yang masuk dalam kawasan Global Geopark Gunung Sewu.

Direktur Eksekutif WALHI DIY, Halik Sandera meyakini bahwa perusahaan tersebut belum mengantongi izin AMDAL. Jikapun telah mendapatkan izin tersebut, cukup bisa dipertanyakan mengingat lokasi pendirian pabrik sendiri merupakan kawasan Geopark.

Halik menegaskan bahwa lokasi pendirian perusahaan pabrik ayam tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Tata Ruang dan Wilayah. Meski ia sempat mendengar kabar bahwa pemilihan lokasi telah sesuai dengan Perda RTRW yang berlaku di Gunungkidul, akan tetapi hal tersebut dipaparkannya sangat melanggar Keputusan Kementrian Lingkungan Hidup terkait penetapan bentang alam kawasan karst.

Untuk itu, ia meminta Pemkab segera menyegel dan melarang operasional maupun proses pembangunan peternakan yang rencananya akan dibuat seluas 20 hektar tersebut.

“Pemerintah kabarnya sudah melayangkan Surat Peringatan (SP) II, seharusnya untuk kemudian terbit SP III tidak lama dan selanjutnya diikuti dengan penyegelan,” papar Halik, Jumat (14/09/2018) sore.

Halik menambahkan, sejak awal, pihaknya melihat bahwa pabrik milik PT Widodo Makmur Unggas tersebut telah melakukan perusakan alam. Misal dalam proses pembangunan di mana dilakukan pengeprasan bukit karst (colonical hills). Pengeprasan ini disebutnya sangat merugikan ekosistem di sekitarnya lantaran selama ini, bukit karst tersebut dijadikan sebagai resapan air. Saat bukit sudah tidak ada, hal ini akan memicu terjadinya banjir.

Berita Lainnya  Simulasi Bencana Nampak Nyata, RSUD Wonosari Antisipasi Bencana Gempa Bumi, Kebakaran dan Penculikan Bayi

“Seharusnya bencana banjir pada 2017 silam membuka mata pemerintah mengenai dampak dari pengeprasan-pengeprasan bukit karst yang selama ini terjadi. Pengeprasan bukit ini berdampak pada korositas air yang semula masuk ke dalam tanah menjadi air permukaan,” lanjutnya.

Selain itu, jika nantinya sudah beroperasi, perusahaan ayam tersebut berpotensi akan mencemari sungai bawah tanah yang ada. Selama ini, kawasan Pacarejo memang dikenal memiliki sejumlah sungai bawah tanah. Adanya pencemaran semacam ini tak hanya berdampak pada air sungai saja akan tetapi juga matinya hewan endemik di sungai bawah tanah tersebut baik lantaran dampak pencemaran maupun perubahan ekosistem yang terjadi akibat pencemaran.

“Dampaknya memang sangat besar, jadi memang harus segera diambil langkah tegas berupa penyegelan dan penutupan,” urainya.

WALHI juga mendesak kepada pemerintah untuk tak hanya melakukan penyegelan serta penutupan saja, akan tetapi juga meminta pihak perusahaan untuk memperbaiki kerusakan lingkungan yang terjadi akibat aktifitas mereka selama ini.

Berita Lainnya  Dinilai Masih Beresiko, Para Santri Belum Direkomendasikan Untuk Kembali ke Pondok Pesantren

Ia sangat berharap Pemkab Gunungkidul bisa serius dalam menyikapi permasalahan ini. Pasalnya, dengan sudah banyaknya bangunan di pabrik tersebut, tentunya berarti selama ini ada pembiaran yang dilakukan. Pihaknya sangat memahami kekhawatiran sejumlah pihak, termasuk pelaku wisata maupun pengamat Geopark yang khawatir dengan bentang alam di kawasan Pacarejo yang dirusak oleh pembangunan peternakan ayam.

“Pemulihan kawasan harus dilakukan. Jika pengusaha tidak mau, Pemkab yang harus membongkar bangunan-bangunan yang telah ada,” tandas Hanif.

Sebelumnya, pegiat wisata di Desa Pacarejo yang juga ketua Asosiasi Wisata Gua Indonesia, Cahyo Alkantana menyatakan menyayangkan pembangunan peternakan di kawasan Desa Pacarejo. Salah satu yang menjadi pokok kekhawatirannya adalah masalah limbah.

Cahyo memaparkan bahwa di bawah lokasi peternakan ayam tersebut sesuai dengan pemetaan tahun 1982 untuk Proyek Pengembangan Air Tanah (P2AT) terpantau terdapat simpul sungai bawah tanah. Sungai bawah tanah tersebut bermuara di Pantai Baron.

“Saat ini belum terasa dampaknya, tetapi beberapa tahun lagi bagaimana?,”katanya.

Sementara itu, ketika dikonfirmasi, Kepala Unit Peternakan PT, Widodo Makmur Unggas, Hanan Rustandi mengatakan, pihaknya tidak bisa menjawab mengenai proses perizinan karena diurus oleh manajemen. Namun demikian, dirinya memastikan untuk limbah tidak akan mencemari kawasan karst maupun sungai bawah tanah.

Berita Lainnya  Sapi di Playen Ditemukan Mati Mendadak di Kandang

“Saya perlu klarifikasi bahwa limbah yang kami hasilkan ini berbeda dengan peternakan ayam seperti di kandang bambu yang kotorannya akan bermasalah, sebab kami sudah ada mekanisme menangani limbah jadi pupuk organik bermanfaat,” kata Hanan.

Limbah ini untuk dijadikan pupuk yang dikomposisi secara alami. Saat ini pupuk tersebut lanjutnya sudah dipesan oleh para petani Gunungkidul.

“Jadi mana mungkin ini kami buang (kotoran ayam) kalau bisa bermanfaat dan jadi uang,” katanya

Ia mengakui bahwa meski canggih, pabrik peternakan ayam yang dikelolanya tersebut tetap memiliki limbah air dari sisa pembersihan kandang maupun sisa minuman ayam. Namun demikian, pihaknya menggunakan system air minum modern yang berwujud seperti dot bayi. Air sisa yang ada nantinya langsung ditampung di dalam alat tata kelola IPAL yang telah sesuai dengan standar perusahaan-perusahaan besar di Indonesia.

“Kami menjamin tidak akan sampai ada dampak pencemaran,” tutupnya.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Pariwisata2 minggu yang lalu

Kejuaraan Sepatu Roda Bupati Gunungkidul Cup III Digelar di Pantai, 458 Atlet dari 7 Provinsi Berebut Juara

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Tanjungsari, (pidjar.com)- Kejuaraan Open Sepatu Roda Bupati Gunungkidul Cup III 2026 hadir dengan konsep berbeda. Untuk pertama kalinya, lintasan...

Pariwisata1 bulan yang lalu

Pony Park Dibanjiri Wisatawan, Hadirkan Puluhan Satwa Lucu nan Unik

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Jogja,(pidjar.com) – Destinasi wisata edukasi satwa terbaru, Pony Park, resmi dibuka di Kabupaten Klaten. Kehadiran Pony Park mendapat sambutan...

Pariwisata2 bulan yang lalu

Hampir Capai Target Tahunan, Baru Juni Pendapatan Retribusi Wisata Telah Capai 35,8 Miliar

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)- Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Kabupaten Gunungkidul hampir mencapai target tahunan meski baru di pertengahan tahun 2026...

Pariwisata2 bulan yang lalu

Gunungkidul Geopark Night Specta 8.0 Masuk KEN 2026, Siap Promosikan Geopark Gunung Sewu ke Dunia

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari(pidjar.com)– Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) kembali menggelar Gunungkidul Geopark Night Specta (GNS) Vol. 8.0 di...

Pariwisata2 bulan yang lalu

Listrik Kerap Padam, Sistem Pungutan Retribusi Non Tunai di Pantai Gunungkidul Terganggu

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)–Penerapan sistem pembayaran retribusi wisata secara non-tunai di sejumlah Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) kawasan wisata pantai selatan Gunungkidul...

Berita Terpopuler