Sosial
Cerita Peternak Ngalang, Sapi Bobot 1,08 Ton Miliknya Dibeli untuk Kurban Presiden
Gedangsari,(pidjar.com) — Kebanggaan tengah dirasakan Sugeng Hadi Prayitno, peternak asal Padukuhan Kenteng, Kalurahan Ngalang, Kapanewon Gedangsari setelah salah satu sapi jumbo miliknya terpilih menjadi hewan kurban Presiden pada Iduladha tahun ini. Sapi jenis simmental dengan bobot mencapai 1.080 kilogram itu dibeli pemerintah dengan nilai tinggi.
Kepada Pidjar.com Sugeng menceritakan, beberapa waktu lalu petugas dari dinas datang langsung ke kandangnya untuk melakukan pengecekan terhadap sapi-sapi miliknya. Di kandang tersebut, ia memelihara sejumlah sapi dengan jenis simetal dan lainnya. Kemudian di kandang satunya, ia juga memelihara sekitar 10 ekor sapi. Total ada 20 ekor sapi yang ia pelihara di dua tempat, baik anakan dengan ukuran kecil, sedang hingga sapi-sapi berukuran jumbo.
“Waktu itu dari dinas datang untuk melihat langsung sapi-sapi yang ada di kandang. Memang ada beberapa yang ukurannya besar,” ujarnya.
“Saat itu dari pihak dinas mengatakan berkenan tidak kalau sapi saya menjadi sapi kurban Presiden, saya monggo saja kalau mau. Saat itu saya tawarkan 2 ekor sapi dengan bobit 1.080 kg dan 1.025 dengan dengan harga Rp 215,” kata dia saat ditemui di rumahnya, Jumat, (15/05/2026).
Setelah dilakukan pengecekan dan penimbangan secara riil sapi jenis simmental miliknya diusulkan oleh dinas. Kemudian 1 ekor sapi dengan bobot 1.080 kg atau 1,08 ton miliknya dinyatakan memenuhi kriteria dan dipilih sebagai hewan kurban Presiden. Sapi tersebut merupakan hasil ternak sendiri, berusia 3 tahun 1 bulan, dari indukan limosin yang telah dipelihara sejak kecil.

Sugeng mengaku bangga karena sapi hasil ternaknya dipercaya menjadi hewan kurban untuk orang nomor satu di Indonesia. Selama ini, sapi yang ia pelihara dan ia perjual belikan tidak ada perlakuan khusus bahkan kandang yang digunakan pun tergolong biasa model zaman dulu.
“Tidak ada perawatan khusus. Makan itu jam 12 saya kasih coboran 2 ember per sapi dari ampas tahu, konsentrat, dan bekatul. Kemudian lanjut makan jerami dan rumput hijau, sudah itu saja. Biasanya selesai jam 4 an,” imbuhnya.
“Kebersihan kandang dan sapi juga diperhatikan. Rutin dibersihkan saja,” jelasnya.
Mengenai sapi yang akan menjadi sapi kurban Presiden ini nantinya akan dikirim sebelum hari penyembelihan. Membawa sapi dengan ukuran besar ini tentunya membutuhkan perhitungan armada serta, akses serta tempat baru bagi sapi tersebut.
“Ya harus diperhatikan betul nanti. Karena sapi besar itu sulit bawanya,” tambah dia.
Menurut Sugeng, untuk membentuk sapi ukuran besar, memang butuh ketelatenan. Utamanya saat usia 4 sampai 6 bulan harus benar-benar diperhatikan dalam pembentukan, penguatan dan pembesaran tulang. Fokus makanan, vitamin dan lainnya sangatlah dibutuhkan.
“Istilahnya dipacu agar sapi ini bisa tumbuh maksimal. Ya masa-masa krusialnya 4 sampai 6 bulan itu,” sambungnya.
Ia telah menggeluti ternak sapi sudah sejak tahun 1980 an. Beberapa tahun lalu bahkan ia pernah memelihara 43 ekor sapi dengan berbagai ukuran. Kemudian capaian tertingginya kala itu adalah sapi dengan bobot 1,2 ton yang kemudian dibeli oleh orang Boyolali.
Selain itu, di kandangnya juga terdapat beberapa sapi tua sebagai indukan. Bahkan ada 1 ekor sapi yang pernah melahirkan anakan hingga 18 kali.
“Kalau dibeli artis belum pernah, pejabat juga baru sekarang ini. Biasanya ya ke temen-temen saja, pasar, atau ada yang datang kesini,” sambungnya.
Sementara itu, Plt Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Gunungkidul, M. Johan Wijayanto mengatakan, sapi bantuan kemasyarakatan dari Presiden ini nantinya akan diberikan ke jamaah Masjid Nur Huda, Padukuhan Gebang, Kalurahan Pengkol, Kapanewon Nglipar. Pemantauan secara berkala atas kondisi kesehatan sapi tersebut terus dilakukan oleh pihak Puskeswan Nglipar dan jajaran Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul.
“Untuk titik penerimanya sudah ditentukan di Masjid Nur Huda, Gebang, Pengkol. Nanti hewan kurban dari APBD Gunungkidul juga ada, namun demikian untuk titik penerima dan jumlahnya berapa masih berproses dalam pembahasan,” kata Johan.
Terpilihnya sapi dari peternak lokal ini diharapkan menjadi motivasi bagi peternak lain di Gunungkidul untuk terus meningkatkan kualitas ternaknya sehingga mampu bersaing dan mendapat kepercayaan di tingkat nasional. Selain itu juga membuktikan bahwa sapi dari Gunungkidul memiliki kualitas dan kuantitas yang baik.
-
Info Ringan2 minggu yang laluResep Lamian Kuah Daging Sapi
-
Peristiwa1 minggu yang laluTragis, Pelajar SMP di Semanu Ditemukan Meninggal G4ntung D1r1 di Pohon Jambu Mete
-
Info Ringan1 minggu yang laluResep Soto Tangkar
-
Peristiwa4 hari yang laluLaka Maut Dinihari, Pemotor Tewas Dihantam Pick Up
-
Uncategorized3 minggu yang laluLomba Rebahan Pertama di Indonesia Digelar di JCM, Siapkan Hadiah Rp5 Juta
-
Uncategorized1 minggu yang laluKecelakaan Beruntun di Baleharjo Gunungkidul, Pengendara Vixion Meninggal Dunia
-
Peristiwa4 hari yang laluPeriode Maut Jalanan Gunungkidul, Ratusan Kecelakaan Puluhan Korban Meninggal Dunia
-
Peristiwa6 hari yang laluLaka Maut di Semanu, Pembonceng Tewas Tersambar Truk
-
Pemerintahan6 hari yang laluPrihatinnya Kalangan Dewan, Pelaku Bunuh Diri Mulai Merambah Remaja Hingga Anak
-
Pemerintahan4 minggu yang laluAntisipasi Kasus Kekerasan Layaknya di Kota Yogyakarta, Pemkab Gunungkidul Perketat Pengawasan di Daycare
-
Uncategorized2 minggu yang laluProses Hukum Kasus Pencurian di Pantai Drini Berlanjut, Begini Penjelasan Polisi
-
Uncategorized3 minggu yang laluSewindu Mengabdi untuk Pendidikan, SMA Muhammadiyah Al Mujahidin Catatkan 1.000 Prestasi
