Connect with us

Sosial

10 Anak DIY Lulus Terapi Clubfoot, Bukti Penanganan Dini Mampu Cegah Disabilitas

Diterbitkan

pada

Jogja,(pidjar.com)– Penanganan sejak dini terhadap clubfoot atau Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) terbukti mampu memberikan hasil yang optimal bagi anak. Hal tersebut ditunjukkan melalui prosesi wisuda 10 anak yang berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian terapi metode Ponseti dalam peringatan Hari Clubfoot Sedunia (World Clubfoot Day) 2026 yang diselenggarakan Pusat Rehabilitasi YAKKUM bersama Pemerintah Daerah DIY di Yogyakarta.

Mengusung tema “See Early, Treat Early, Run Free”, kegiatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dan penanganan dini clubfoot. Dengan terapi yang tepat sejak usia dini, anak-anak yang lahir dengan kondisi tersebut memiliki peluang besar untuk tumbuh, berjalan, bermain, dan beraktivitas seperti anak lainnya.

Sebanyak 18 anak bersama 36 orang tua atau caregiver mengikuti kegiatan yang turut dihadiri oleh Kepala Seksi Kepesertaan dan Pengembangan Jaminan Kesehatan Sosial Balai Penyelenggara Jaminan Kesehatan Sosial (Bapel Jamkesos) DIY, Enaryaka, S.Kep.NS., M.M., perwakilan pemerintah daerah, akademisi, tenaga kesehatan, serta berbagai pemangku kepentingan.

Berita Lainnya  TNI Peduli Kekeringan, Gandeng Pengusaha Kuliner Salurkan Air Bersih ke Warga Banaran

Koordinator Program Rehabilitasi Berbasis Masyarakat Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Christian Pramudya, mengatakan bahwa keberhasilan penanganan clubfoot sangat dipengaruhi oleh kecepatan diagnosis dan konsistensi terapi yang dijalani anak bersama keluarga.

“Semakin cepat clubfoot terdeteksi dan ditangani, semakin besar peluang anak untuk mendapatkan fungsi kaki yang optimal. Karena itu, selain layanan medis yang berkualitas, dukungan orang tua dan keluarga menjadi faktor penting dalam keberhasilan terapi,” ujarnya di Hotel Brongto Yogyakarta.

Menurut Christian, metode Ponseti yang menjadi standar penanganan clubfoot meliputi terapi gips bertahap, tindakan tenotomi bila diperlukan, serta penggunaan brace dalam jangka waktu tertentu untuk mencegah kekambuhan. Melalui Program Peningkatan Layanan Clubfoot/CTEV yang didukung MiracleFeet, Pusat Rehabilitasi YAKKUM terus mendorong akses layanan yang lebih luas bagi anak-anak dengan clubfoot di DIY dan sekitarnya.

Widi Ningsih, orang tua Alesha Satria Aviora asal Sedayu, Bantul, menceritakan perubahan signifikan yang dialami anaknya setelah menjalani rangkaian terapi secara konsisten.

Berita Lainnya  Simbolkan Eksploitasi Alam, Warga Gelar Aksi Tolak Pembangunan Tugu Tobong Gamping

“Saya merasakan perubahan besar pada anak saya yang lahir dengan CTEV setelah menjalani terapi gips, tenotomi, dan penggunaan brace selama hampir empat tahun melalui pendampingan YAKKUM dan MiracleFeet. Kini ia dapat berjalan dan beraktivitas seperti anak-anak lainnya,” katanya.

Dukungan terhadap upaya penanganan clubfoot juga disampaikan oleh Kepala Seksi Kepesertaan dan Pengembangan Jaminan Kesehatan Sosial Bapel Jamkesos DIY, Enaryaka, S.Kep.NS., M.M. Menurutnya, pemerintah terus berupaya memperluas akses layanan kesehatan dan rehabilitasi bagi masyarakat, termasuk bagi anak-anak dengan clubfoot.

“Pemda DIY melalui berbagai program jaminan kesehatan dan layanan rehabilitasi berkomitmen memastikan masyarakat mendapatkan akses layanan yang dibutuhkan. Kolaborasi dengan berbagai mitra, termasuk Pusat Rehabilitasi YAKKUM, menjadi bagian penting dalam mendukung upaya tersebut,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, dokter ortopedi RSUD Sleman sekaligus Wakil Perkumpulan Ahli Bedah Orthopedi Indonesia (PABOI) DIY, dr. Risa Dumastoro, Sp.OT, menekankan pentingnya pemantauan berkelanjutan setelah terapi utama selesai dilakukan.

Berita Lainnya  Dilaunching, Desain Batik Kedungkeris Diambil dari Sejarah Lokal

Melalui pemaparannya mengenai program Good Feet at Four, dr. Risa menjelaskan bahwa pemantauan hingga usia empat tahun diperlukan untuk memastikan perkembangan kaki anak berjalan optimal sekaligus mencegah risiko kekambuhan.

“Program Good Feet at Four dikembangkan untuk memastikan anak dengan clubfoot mendapatkan pemantauan hingga usia empat tahun guna mencegah kekambuhan, sekaligus mendorong orang tua tetap konsisten menggunakan brace dan berbagi pengalaman kepada keluarga lain yang menghadapi kondisi serupa,” jelasnya.

Peringatan Hari Clubfoot Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa clubfoot bukanlah kondisi yang harus berujung pada disabilitas permanen. Dengan deteksi dini, penanganan yang tepat, serta dukungan keluarga dan berbagai pihak, anak-anak dengan clubfoot memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh aktif, mandiri, dan menjalani masa depan yang lebih baik. (Rosa)

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Pariwisata5 hari yang lalu

Listrik Kerap Padam, Sistem Pungutan Retribusi Non Tunai di Pantai Gunungkidul Terganggu

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)–Penerapan sistem pembayaran retribusi wisata secara non-tunai di sejumlah Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) kawasan wisata pantai selatan Gunungkidul...

bisnis1 minggu yang lalu

Pony Park Klaten Usung Konsep Wisata Ramah Hewan, Edukasi Interaktif Jadi Daya Tarik Utama

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Klaten,(pidjar.com)– Kehadiran Pony Park Klaten (POPA) yang dijadwalkan resmi dibuka pada 28 Juni 2026 tidak hanya menawarkan destinasi wisata...

Pariwisata2 minggu yang lalu

Libur Sekolah, Obyek-obyek Wisata Mulai Dibanjiri Siswa Study Tour

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)-Libur sekolah tahun 2026 mulai menggerakkan sektor pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) termasuk juga di Gunungkidul. Saat...

Pariwisata4 minggu yang lalu

Camping Syahdu di Pantai Watukodok

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)– Gunungkidul memamg menjadi gudangnya wisata alam di DIY. Bagaimana tidak, gugusan pantai selatan Kabupaten Gunungkidul menyuguhkan panorama pesisir...

Pariwisata2 bulan yang lalu

Mulai Pertengahan Mei Mendatang, TPR Baron Direncanakan Hanya Layani Pembayaran Retribusi Non-Tunai

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)– Pemerintah Kabulaten Gunungkidul terus berbenah dalam memperkuat tata kelola retribusi yang lebih transparan, efisien, dan adaptif terhadap perkembangan...

Berita Terpopuler