fbpx
Connect with us

Sosial

Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau

Published

on

Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 157
Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 158 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 159 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 160 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 161 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 162 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 163 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 164 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 165 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 166 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 167 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 168 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 169 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 171 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 172 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 173 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 174

Girisubo,(pidjar.com)–Kesulitan sebagian warga Kabupaten Gunungkidul untuk mendapatkan air bersih masih menjadi pekerjaan rumah tahunan yang urung terselesaikan. Seperti dialami ratusan warga di Padukuhan Papringan, Kalurahan Tileng, Kapanewon Girisubo. Belum adanya saluran pipa dari pemerintah membuat mereka harus membeli air ketika penampungan air hujan (PAH) mengering.

Terlebih dalam kondisi seperti sekarang ini. Dimana kemarau mengakibatkan warga kesulitan untuk mendapatkan air bersih.

Seperti diceritakan oleh Dukuh Papringan, Suharno. Puluhan tahun lamanya belum ada sambungan air bersih yang menyalur ke rumah warga.

Jika musim hujan turun mereka selalu mengandalkan PAH yang ada di wilayah mereka. Kemudian memasuki musim kemarau, air tampungan mereka tentu semakin berkurang bahkan habis. Sehingga harus membeli ke tangki swasta.

Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 175 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 176 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 170

“Di sini mayoritas masyarakatnya terdampak kekeringan semua. Sehingga harus membeli dari tangki swasta untuk kisaran harganya 120 ribu sampai 150 ribu per 5000 liter air,” kata Suharno, Selasa (08/09/2020).

Menurutnya, air tangki yang dibeli oleh warga itu bisa dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan selama dua minggu. Akan tetapi, jika keluarga dalam satu rumah banyak tidak sampai 2 minggu air tersebut sudah habis sehingga harus membeli lagi.

Salah seorang warga setempat, Jumiran mengatakan sejak bulan Juni lalu Padukuhan Papringan sudah terdampak kekeringan. Untuk mendapatkan pasokan air bersih ini pun juga membutuhkan waktu. Sebagai contohnya, mereka harus mengantri terlebih dahulu.

“Kalau pesennya hari ini belum mesti datang hari ini kita harus antri dulu, biasanya besok baru datang,” kata Jumiran.

Kegembiraan masyarakat ini nampak saat tanki bantuan dari BPBD Gunungkidul datang untuk menyalurkan bantuan air bersih. Tangki berisi ai ini kemudian digunakan untuk mengisi bak tampungan air yang ada. Satu persatu warga setempat mengantri untuk mengisikan jerigen ataupun wadah lain yang mereka bawa untuk mendapatkan air bantuan . Dengan bantuan dari pemerintah ini, dapat membantu pemenuhan kebutuhan air sementara waktu.

“Bersyukur dapat bantuan air ini. Paling tidak warga ada air untuk pemenuhan kebutuhan sekarang dan beberapa hari kedepan,” tambahnya.

Kepala pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengungkapkan, dari 18 Kapanewon di Gunungkidul sudah 15 kapanewon yang melaporkan terdampak kekeringan. Sampai dengan saat ini pihaknya telah mendistribusikan bantuan air bersih sebanyak 692 tanki.

“Ada berbagai kondisi yang ditemui dilapangan. Kita bahkan harus menempuh jarak agak jauh dan sampai ke Pracimantoro untuk mendapatkan air bersih dan kemudian disalurkan ke warga,” tutup Edy.

Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 178 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 179 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 180 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 181 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 182 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 183 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 184 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 185 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 186 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 187 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 188 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 189 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 190 Cerita Warga Tileng yang Selalu Antri untuk Dapatkan Air Bersih di Musim Kemarau 191

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler