Sosial
Dihargai Tinggi, Petani Gunungkidul Mulai Kembangkan Budi Daya Jambu Kristal
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul terus mendorong petani untuk membaca peluang dalam pemanfaatan lahan yang dimiliki. Selain untuk tanaman pangan, saat ini perkembangan tanaman perkebunan dan hortikultura di Gunungkidul mulai meningkat. Beberapa komoditas buah-buahan mulai dibudidayakan oleh para petani dengan konsep masing-masing.
Seperti halnya yang dilakukan oleh kelompok tani dari Genjahan Kapanewon Ponjong; Putat, Kapanewon Patuk; Watusigar, Kapanewon Ngawen dan beberapa wilayah lain yang sejak beberapa tahun lalu mulai melakukan budidaya Jambu Kristal.
Kepala Seksi Produksi Perkebunan dan Hortikultura, Bidang Perkebunan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Sugiyanto mengatakan, potensi pertumbuhan jambu kristal di Gunungkidul cukup baik, dengan catatan kebutuhan airnya tercukupi. Peluang ini sudah dibaca oleh sejumlah kelompok tani, bahkan ada yang membudidayakan dengan sistem organik.
Di Genjahan misalnya, para petani memanfaatkan ladang yang dimiliki untuk menanam Jambu Kristal Organik. Dalam 1 tahun petani bisa panen 2 kali dengan jumlah yang tidak sedikit.
“Jadi kalau jambu kristal ini sebenarnya mudah budidayanya, asalkan airnya tercukupi. Biasanya kalau habis panen nanti dilakukan perawatan dulu, pemupukan dan akan berbuah lagi. Ya 1 tahun 2 kali panen,” ucap Sugiyanto, Selasa (29/06/2021).

Ia menjelaskan 1 kg buah jambu kristal bisa dihargai sampai Rp 30.000. Dalam sekali panen puluhan kilo pasti didapat oleh para petani. Sebenarnya ini peluang yang juga menjanjikan, namun belum begitu banyak petani yang terjun di bidang ini.
“Harga 30 ribu per kilo ini bisa dikalikan dengan hasil panennya puluhan bahkan ratusan kilo,” jelasnya.
Pemerintah sendiri mendorong petani untuk lebih bisa membaca potensi yang ada di Gunungkidul. Di Genjahan, setiap musim panen kelompok tani kemudian membuka semacam wisata petik untuk menarik minat konsumen.
“Minat pasar juga cukup baik kok sebenarnya. Selama ini untuk pemenuhan permintaan kita ambil dari Magelang, Purworejo dan sekitarnya. Padahal kalau mengembangkan sendiri perputaran uangnya ya di sini saja to,” imbuh Sugiyanto.
Ia menambahkan, untuk lahan yang dimanfaatkan para petani ini ada yang khusus jambu dan ada yang dengan sistem tumpang sari. Misalnya saja satu petak lahan ditanami jambu dan tanaman buah lainnya. Konsep semacam ini tentunya akan semakin menambah pemasukan para petani.
Pemerintah pernah memberikan bantuan berupa bibit. Saat ini pun yang menjadi fokus pemberian bantuan adalah alat pertanian serta fasilitas pengairan.
-
Pemerintahan4 minggu yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Peristiwa4 minggu yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Peristiwa4 minggu yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized3 minggu yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized3 minggu yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized3 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized3 minggu yang laluLurah di Gunungkidul Kompak Enggan Teken Berita Acara Serah Terima Aset KDMP, Ada Apa?
-
Uncategorized4 minggu yang laluTNI Bangun 9 Jembatan Garuda di Gunungkidul, Hubungkan Kawasan Terpencil
-
Uncategorized3 minggu yang laluLansia Asal Ponjong Ditemukan Gantung Diri di Kandang
-
Uncategorized2 minggu yang laluSakit Hati Sering Diejek Ketika Memulung Sampah, 2 Remaja Putri Nekat Bakar Sekolah
-
Uncategorized3 minggu yang laluCiptakan Pilur Jujur dan Bersih, Dinas Awasi Lurah Petahana
-
Uncategorized3 minggu yang laluGelombang Tinggi di Pesisir Gunungkidul, Rusak Perahu Nelayan Hingga Warung
