Sosial
Mengenal Mina Mulya Maju Mandiri, Koperasi Peternak Lele Yang Dapat Apresiasi Dari Menteri KKP
Semin, (pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Beberapa waktu lalu, Menteri Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia, Sakti Wahyu Trenggono mengapresiasi suksesnya budi daya ikan lele yang dikembangkan oleh Koperasi Mina Mulya Maju Mandiri yang berada di Padukuhan Kamplok, Kalurahan Kalitekuk, Kapanewon Semin. Keberhasilan program ini menjadi pilot project lantaran sejalan dengan program KKP yaitu pembangunan kampung-kampung perikanan budidaya air tawar, air payau dan air laut yang berbasis kearifan lokal.
Ketua Koperasi Mina Mulya Maju Mandiri, Kasmanto, menceritakan, awal mula pembentukan Koperasi Mina Mulya Maju Mandiri ini berawal dari keinginannya untuk mengubah pola pikir masyarakat di wilayahnya. Menurutnya, anggapan sulitnya memperoleh air bersih membuat masyarakat berhenti untuk berfikir kreatif dalam menciptakan sebuah usaha, khususnya di bidang perikanan. Dari situlah kemudian ia bertekad untuk mematahkan anggapan tersebut. Hal ini dibuktikan kemudian dengan kesuksesannya mengembangkan budidaya lele.
Cerita sukses inilah yang kemudian menyebar ke sejumlah warga lain. Hingga kemudian, warga mengikuti jejaknya dan bahkan kemudian sepakat untuk membentuk koperasi.
“Melalui koperasi ini, kami ingin mengubah kebiasaan masyarakat yang sering beranggapan sektor perikanan tidak dapat berkembang di wilayah yang sering kekeringan. Kita buktikan dengan cara berternak lele,” ungkapnya, Kamis (26/08/2021) siang.
Sebelum adanya koperasi, budi daya lele di wilayahnya hanya dilakukan oleh segelintir orang dan hasilnya pun juga belum signifikan. Sebelumnya mata pencaharian masyarakat setempat kebanyakan ialah petani, buruh, dan buruh tani sehingga dulunya budi daya lele hanya untuk pemasukan sampingan.

“Dulu hanya ada 11 orang yang budidaya lele, ya bisa dibilang ada penghasilan tambahan dari situ. Hasilnya sekitar 40 kg sampai 50 kg per orang,” tambahnya.
Dengan perjuangannya memberikan edukasi, jumlah warga peternak lele terus bertambah. Pada tahun 2018, telah ada 28 orang warga yang menggeluti peternakan lele. Para peternak ini kemudian sepakat untuk membentuk sebuah koperasi budidaya lele. Pada awal berjalannya koperasi, mereka sempat kesulitan dalam menjual ikan lele yang telah dipanen. Tak berselang lama, koperasi mendapatkan program berupa bantuan pinjaman modal dari Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan ( BLU LMPUKP) senilai Rp. 1 miliar yang digunakan untuk mengembangkan koperasi.
“Sekarang untuk penjualan sudah ada pasar. Justru kendalanya ada di pakan yang masih mengandalkan pakan pabrik. Tapi ini kami sedang mencoba mengembangkan pakan sendiri. Semoga ke depan tidak bergantung pada pakan dari pabrik dan menambah kesejahteraan anggota,” ucapnya.

Konsep budidaya lele yang dikembangkan sendiri memang cukup prospektif. Melalui kolam lingkaran berdiameter 3 meter, tiap anggota bisa memelihara hingga 2.000 bibit ikan lele yang nantinya akan dipanen dua kali ketika berumur 2 bulan 10 hari dan 3 bulan. Tiap kolam ditargetkan minimal menghasilkan 180 kg ikan yang biasanya dihargai Rp. 17.000 per kilogram.
“Kalau kami amati, sebetulnya kebutuhan lele untuk lokal di Gunungkidul itu kurang. Masih banyak lele yang didatangkan dari luar daerah, ini kan potensi pasarnya sangat besar,” jelasnya.
Dalam perawatannya, ia mengungkapkan tidak ada bedanya dengan budidaya lele lainnya. Ia menekankan hal yang terpenting ialah menjaga kebersihan air kolam dengan menggantinya secara rutin.
“Musuh terbesar lele itu kotoran (amonia), kalau kotoran di kolam tinggi tingkat resiko kematian lele juga tinggi. Perawatannya paling penting rutin airnya diganti, jadi kotorannya tidak mengganggu,” beber Kasmanto.
Saat ini, Koperasi yang ia kelola dengan para peternak lele sendiri tak hanya sebatas budidaya lele semata, namun sudah dikembangkan di sektor pengolahan dan simpan pinjam. Kini dalam pemasaran ikan lele miliknya, koperasi sudah mempunyai pembeli tetap sebanyak 20 pembeli yang tersebar di Gunungkidul, Bantul, dan Kulonprogo. Tentunya pengembangan dari sisi jumlah anggota dan memperluas wilayah pemasaran menjadi prioritas ke depan agar koperasi semakin berkembang.
“Kalau anggotanya campur ya, ada yang tua dan muda. Paling muda berusia 19 tahun. Ke depannya karena tidak ada batasan wilayah keanggotaan, harapannya dapat diperluas lagi di seluruh Gunungkidul,” pungkas dia.
-
Uncategorized2 minggu yang laluMantan Kepala Benarkan Alat-alat Musik Studio SKB Gunungkidul Berada di Rumahnya, Sebut Untuk Kursus Musisi Muda Kawasan Selatan
-
Uncategorized2 minggu yang laluTak Berhasil Saat Diminta Perbaiki Listrik, Dimas Dikeroyok Secara Brutal, Dari Diinjak Hingga Dihantam Senter
-
Uncategorized2 hari yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Sosial4 minggu yang laluKisruh Tunggakan Capai 85 Juta Dalam Dua Tahun Terakhir, Penyetoran Pembayaran PBB-P2 di Kalurahan Sawahan “Bocor”?
-
Peristiwa15 jam yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Uncategorized6 hari yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized1 minggu yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Uncategorized4 hari yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Uncategorized3 minggu yang laluStudio Musik dan Rekaman SKB Gunungkidul Kini Lumpuh Total Gegara Alat Hingga Sound Dibawa Pulang Mantan Pejabat
-
Uncategorized4 minggu yang laluSuhu Terendah di Gunungkidul Capai 19 Celcius
-
Uncategorized3 minggu yang laluTragis, Wanita Muda Ditemukan Gantung Diri di Kamarnya
-
Uncategorized3 minggu yang laluDua Kasus Gantung Diri Terjadi dalam Sehari di Gunungkidul, Lansia Pria dan Perempuan Ditemukan Meninggal
