Sosial
Operasi Pasar BBPOM di Pasar Argosari, Petugas Temukan Bahan-bahan Makanan Mengandung Zat Kimia Berbahaya
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Tiga bahan makanan mengandung zat kimia berbahaya ditemukan dalam operasi Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DIY bersama sejumlah pejabat lain. Operasi sendiri dilaksanakan pada Senin (15/04/2019) pagi tadi di Pasar Induk Argosari, Kecamatan Wonosari. Tiga bahan makanan yang positif mengandung zat kimia tersebut kemudian dikumpulkan untuk dilakukan pemusnahan. Adapun zat kimia yang terkandung dalam ketiga makanan ini memang sangat berbahaya jika dikonsumsi dalam jumlah banyak dan jangka panjang.
Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DIY, Rustyawati mengatakan, dalam penyisiran yang dilakukan oleh pihaknya di pasar Argosari, pihaknya mengambil 17 sampel makanan yang diduga mengandung zat berbahaya. Makanan yang diambil secara acak ini merupakan makanan yang seringkali digunakan dan dikonsumsi oleh masyarakat luas. Diantara 17 bahan makanan tersebut 3 makanan diketahui positif mengandung zat berbahaya yakni boraks dan pewarna tekstil.
“Dari makanan yang kami ambil sampelnya itu tadi kami lakukan uji laboratorium. Sekitar hampir 20 persen dari sampel yang diambil ternyata mengandung zat berbahaya,” terang Rustyawati, di sela-sela kegiatan operasi pasar.
Adapun ketiga bahan makanan tersebut diantaranya bleng yang seringkali digunakan sebagai campuran makanan positif mengandung boraks, kerupuk bewarna terang atau orange yang seringkali dikonsumsi oleh masyarakat positif mengandung pewarna tekstil, serta teri nasi atau teri medan yang ternyata mengandung boraks cukup tinggi. Temuan ini tentunya mengejutkan para petugas, pasalnya teri dan kerupuk yang seringkali dikonsumsi oleh masyarakat ternyata mengandung zat berbahaya.
Dari sampel yang telah didapat petugas ini, akan dilakukan pemusnahan sebagai sanksi yang diberikan oleh BBPOM terhadap penjual yang masih saja menjual barang berbahaya kepada masyarakat. Dari BBPOM sendiri saat ini juga tengah berusaha memburu produsen-produsen yang nakal. Berdasarkan penelusuran awal yang dilakukan, kerupuk berwarna terang mengandung pewarna tekstil tersebut berasal dari wilayah DIY, melainkan dari wilayah Purworejo, Jawa Tengah.

Saat ini, dari petugas masih terus melakukan penyisiran atas hal itu. Penyelidikan mengenai teri nasi atau teri medan ternyata juga dilakukan, namun demikian dari petugas masih agak kesulitan apakah boraks tersebut diberikan sejak awal oleh produsen atau dilakukan oleh pedagang-pedagang sendiri sebagai pengawet makanan.
“Kalau untuk sanksi pidana mungkin akan diberlakukan pada produsennya. Kalau untuk pembeli kami berikan pengertian dan sanksi sosial dengan pemusnahan saja. Ya mudah-mudahan dengan langkah seperti ini bisa menekan peredaran bahan makanan berbahaya di kalangan masyarakat,” imbuh dia.
Warna yang mencolok dan harga yang murah seringkali menjadi senjata untuk menarik konsumen agar membeli bahan makanan yang ada. Padahal jika dikonsumsi dengan jumlah banyak dan jangka waktu yang lama tidak menutup kemungkinan berdampak pada kesehatan seseorang. Pasalnya zat yang terkandung tidak diperuntukkan dikonsumsi tubuh.

Petugas BBPOM bersama Bupati Gunungkidul menggelar operasi di Pasar Argosari
Sementara itu, Bupati Gunungkidul, Badingah yang ikut dalam operasi pasar ini juga terkejut jika ternyata dalam teri nasi atau teri medan yang seringkali dikonsumsi oleh masyarakat ternyata menggandung zat kimia boraks yang cukup tinggi. Ia juga prihatin dengan temuan lain, pasalnya di pasar Argosari yang menjadi pusat perbelanjaan secara tradisional oleh masyarakat Gunungkidul masih ditemukan beragam makanan yang mengandung zat berbahaya.
Ia pun menghimbau pada masyarakat untuk lebih jeli dan teliti kembali dalam mencari dan memilih bahan makanan. Lebih baik memilih misalnya kerupuk dengan warna yang tidak terlalu terang. Pasalnya berdasarkan pengalaman dan temuan-temuan sebelumnya, makanan bewarna terang dengan bercak yang tidak merata positif mengandung pewarna tekstil.
“Dari temuan ini kita lebih tahu bagaimana cara memilah dan memilih bahan makanan yang aman. Tentunya kita akan lakukan pembinaan kepada para pedagang untuk menjual bahan makanan yang sesuai dengan aturan. Pembinaan dan sosialisasi ini akan kami upayakan dengan menggandeng OPD terkait,” papar Badingah.
-
Uncategorized4 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized3 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized4 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized2 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized4 minggu yang lalu7 Hektare Lahan Jati di Bodoyo Terbakar
-
Uncategorized4 minggu yang laluTabrakan di Jalan Lingkar Utara Piyaman, Pelajar 17 Tahun Tewas di Lokasi
-
Uncategorized4 minggu yang laluPilur Serentak Gunungkidul, 2 Kalurahan Ajukan Seleksi Tambahan
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized4 minggu yang laluKecelakaan Maut di Ponjong, Pengendara Vega Meninggal Usai Tabrakan dengan Karimun
-
Uncategorized2 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
