fbpx
Connect with us

Sosial

Pembangunan Peternakan Tonggor Gunakan Pekerja Luar Daerah, Warga Gelar Demo dan Blokir Jalan

Diterbitkan

pada

BDG

Semanu,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Lama tak terdengar kabarnya, PT Widodo Makmur Unggas (WMU) kembali menuai cerita. Pemilik sekaligus pengelola peternakan raksasa di Padukuhan Tonggor, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu tersebut lagi-lagi bermasalah. Senin (14/01/2019) pagi tadi, puluhan warga setempat menggelar aksi demonstrasi. Sebagaimana diketahui, sebelumnnya, peternakan ayam yang diproyeksikan akan menjadi yang terbesar se-Asia Tenggara bermasalah terkait perizinan yang belum rampung.

Warga sendiri menuntut agar jalanan mereka yang rusak segera diperbaiki oleh perusahaan sesuai yang dijanjikan. Tak hanya itu saja, warga juga menuntut kejelasan terkait pengangkatan tenaga kerja khususnya mereka yang menangani proyek. Pasalnya selama beberapa bulan ini, masyarakat setempat sudah tidak lagi dipekerjakan.

Meski beberapa bulan lalu pemerintah kabupaten Gunungkidul telah melayangkan surat untuk pemberhentian proyek raksasa itu, namun nyatanya hingga saat ini masih ada proses pembangunan. Skala pembangunan yang saat ini dilakukan hanya bersifat finising atau penambahan komponen. Misalnya membuat talut atau pembangunan pagar di sekitar kandang.

Namun sayangnya, dalam proses penggarapan komponen-komponen ini masyarakat padukuhan Tonggor tidak dipekerjakan sesuai dengan kesepakatan yang ada. Justru mayoritas pekerja berasal dari luar warga Tonggor. Hal inilah yang kemudian menjadi sebuah kecemburuan, di mana masyarakat setempat hanya menjadi penonton.

“Tidak kerja selama kurang lebih 3 bulan ini. Wong malah sebagian besar pekerja proyek dari luar sini. Untuk makan ya seadanya dari hasil tani. Kalau dulu kan hampir seluruh masyarakat kerja di proyek sana,” terang Ginawan, salah seorang warga setempat.

Bahkan beberapa waktu lalu, saat masyarakat mengajukan ingin bekerja di proyek tersebut sempat mendapat penolakan. Empat mandor warga padukuhan Tonggor yang masih bekerja aktif justru memilih pekerja dari luar wilayah. Tentunya hal itu menjadi kecemburuan tersendiri bagi masyarakat setempat.

Berita Lainnya  Data Penerima Bantuan Covid19 Tak Tepat, Kades Temukan Ada PNS Yang Terdaftar

“Ya tuntutannya yang dipekerjakan adalah masyarakat sini semua. Bukan dari luar sehingga ada perputaran ekonomi,” tambah dia.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Wardoyo selaku tokoh masyarakat setempat. Ia merasa kurang nyaman dengan sistem yang berlaku ini. Pasalnya semua menyangkut masalah ekonomi masyarakat. Ia bersama puluhan warga sekitar lantas mengambil inisiatif penyampaian aspirasi itu di jalanan.

Dengan membentangkan kertas bertuliskan “Cuma janji-janji ya ya. Tapi ndak ditepati, Sabar..Sabar Kapan? “, masyarakat yang memblokir jalanan setempat pagi tadi menyuarakan sejumlah tuntutan pada pihak perusahaan. Selain tuntutan agar perekrutmen tenaga kerja sesuai dengan kesepakatan 90% warga sekitar 10% tenaga ahli dari luar, masyarakat juga meminta pemenuhan hal lainnya.

“Kondisi semacam ini kan menimbulkan kecemburuan. Masyarakat saya hanya sebagai penonton, jalan terbaiklah yang harus ditekankan. Misalnya dengan bekerja gilir atau sistem lain, sehingga semua kecipratan rejeki. Kalau seperti ini kan kasihan yang tidak berpenghasilan,” kata Wardoyo saat ditemui.

Tuntutan lain yang disampaikan diantaranya, berkaitan dengan pembangunan jalan rusak. Sepanjang beberapa ratus meter memang kondisi jalan aspal dari Kwangen Kidul hingga Tonggor mengalami kerusakan. Masyarakat Tonggor meminta untuk segera dilakukan pembangunan agar dapat mempermudah mobilitas warga. Pasalnya selama ini meski telah ada kesepakatan dan kesanggupan perusahaan, namun tidak pernah ada kejelasan.

Berita Lainnya  Wisatawan ke Arah Pantai Selatan Membludak, Polisi Mulai Berlakukan Rekayasa Lalu Lintas

Menurutnya, masalah infrastruktur semacam ini sangatlah krusial untuk diperhatikan. Paling tidak perbaikan dapat segera dilakukan. Entah penambalan atau langsung diperbaiki secara permanen. Kemudian pos penjagaan dan data pekerja baru yang masuk wilayah ini. Sehingga masyarakat atau pemerintah dusun mengetahui keluar masuknya orang, guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Sebenarnya kami sudah pernah kok menghadap atau silaturahmi. Jawabannya iya tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Kalau sekarang ini memang ditekankan pada tenaga kerja itu sebenarnya yang memang mendesak,” tambah dia.

Menyikapi tuntutan yang disampaikan oleh masyarakat. Salah seorang petinggi PT WMU, Iwan mengatakan akan segera melakukan tidakan. Empat mandor akan segera dipanggil untuk menjelaskan kondisi yang ada di lapangan sehingga dapat ditemui titik terang permasalahan ini. Mengenai pembangunan jalan, pada minggu ke empat atau akhir Januari ini pihaknya akan segera melakukan pembangunan fisik.

Berita Lainnya  Investor Bangun Rumah Sakit Islam di Karangmojo

“Akan segera dibangun dimulai dari Kwangen Kidul dan menyambung ke Tonggor. Semua akan kami kondisikan, bagaimana baiknya. Masyarakat yang membutuhkan penjelasan detail bisa kok bertemu karena kami memang transparan,” ucap dia.

Demo yang digelar itu berjalan kondusif. Sejumlah anggota polsek, koramil hingga polres pun diturunkan untuk berjaga. Situasi sendiri sempat memanas ketika masyarakat mengancam akan melakukan pemblokiran jalan jika tidak segera dilakukan pembangunan jalan sehingga kendaraan dari PT ini tidak dapat keluar masuk beraktifitas.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler