fbpx
Connect with us

Sosial

Serba-serbi Upacara HUT RI di Gunungkidul, Dari Nyebur Sungai Hingga Adu Kostum Unik

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Saat ini, upacara peringatan kemerdekaan Indonesia sudah tak lagi menjadi komoditi khusus bagi kalangan sekolah, instansi pemerintah, maupun militer. Sejumlah warga juga menggelar upacara tepat di detik-detik proklamasi kemerdekaan Indonesia. Caranya pun terkadang unik meski tak lantas mengurangi kekhidmatan upacara yang digelar.

Seperti yang dilakukan oleh warga RT 1, Padukuhan Pulutan, Desa Pulutan, Kecamatan Wonosari pada Jumat (17/08/2018) pagi tadi. Puluhan warga sejak pagi berdatangan di sekitar aliran sungai patung sapi yang mengalir di sepanjang Desa Pulutan. Puluhan diantaranya kemudian menceburkan diri ke aliran sungai untuk mengikuti upacara, sementara puluhan lainnya tetap berada di pinggir sungai.

Upacara yang dilangsungkan sendiri memang sangat khas peringatan 17-an. Pembacaan teks proklamasi, nyanyian lagu perjuangan, hingga pembacaan amanat terkait kemerdekaan mewarnai upacara tersebut. Sejumlah warga datang dengan kostum yang bermacam-macam. Ada yang datang dengan seragam pejuang, busana jawa, hingga berjas rapi.

Dalam amanatnya, Dukuh Pulutan Kristiawan Muhadi meminta seluruh masyarakat untuk mengenang perjuangan para pahlawan. Menurutnya, saat ini perjuangan sama sekali belum selesai. Yang terpenting adalah peran masyarakat saat ini untuk mengisi kemerdekaan yang diraih dengan korban jiwa serta materi tersebut.

“Bersama kita memperingati kemerdekaan ini dan tetap bersatu untuk membangun negeri yang indah dan kaya ini demi kesejahteraan bersama,” ucap Muhadi saat memimpin jalannya upacara.

Sementara itu, Ketua RT 01 Padukuhan Pulutan, FX Maryanto memaparkan, upacara di sungai ini direncanakan secara mendadak. Acara dibuat mendadak oleh warga yang menginginkan bisa menggelar upacara bendera untuk meramaikan kegiatan perayaan HUT RI. Namun hanya dengan 2 hari, persiapan upacara akbar ini bisa dilaksanakan dengan baik. Bahkan pihaknya juga mampu menyediakan doorprize bagi peserta upacara berupa kambing serta peralatan elektronik.

Berita Lainnya  Nyaris Tak Berangkat Gegara Kekurangan Biaya, Dua Petinju Remaja Gunungkidul Curi Gelar Juara di NTB

“Supaya warga yang hadir banyak. Dan ternyata memang banyak. Bahkan ada pula warga dari Padukuhan lain yang datang juga,” katanya berbinar.

Pemilihan sungai sebagai lokasi upacara menurut Maryanto adalah sebagai bentuk ajakan bagi warga untuk mencintai lingkungan. Kali Patung Sapi selama ini menjadi salah satu gantungan kehidupan bagi warga Padukuhan Pulutan khususnya serta Desa Pulutan pada umumnya. Sehingga dengan ini, masyarakat bisa semakin menghargai lingkungan dan pada akhirnya menjaganya.

“Kalau semua bisa bersatu mencintai lingkungan, niscaya lingkungan tersebut ke depan yang akan menghidupi kita,” tutur dia.

Hal yang sama juga dilakukan oleh warga Padukuhan Gadungsari, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari. Ratusan warga dengan berbagai kostum unik hadir dalam upacara yang digelar di area tanah lapang di padukuhan setempat. Kostum semacam TNI, anggota pertahanan sipil, seragam sekolah hingga pakaian resmi dipakai oleh para peserta upacara. Para petugas upacara pun juga tak kalah nyentrik. Mereka mengenakan busana yang mirip dengan seragam prajurit dari Kraton Yogyakarta lengkap dengan topinya.

Ketua Karang Taruna Jatayu Gadungsari, Sulistyanto memaparkan, upacara bendera peringatan HUT RI ini sendiri merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan panjang yang digelar oleh warga setempat. Adapun upacara semacam ini sudah 3 kali digelar oleh warga di wilayahnya. Tak hanya unsur pemuda, hampir seluruh lapisan masyarakat dengan berbagai usia turut serta dalam upacara ini.

Berita Lainnya  Sibuknya KUA Semin di Bulan Syawal, Dalam Sehari Nikahkan Belasan Pasangan Mempelai

Perayaan kemerdekaan Indonesia di Padukuhan Gadungsari sendiri telah dimulai sejak tanggal 5 Agustus 2018 silam. Pagelaran reog yang diperagakan oleh Karang Taruna Jatayu menjadi pembuka prosesi perayaan. Sementara kemudian mulai tanggal 12 Agustus 2018 lalu, berbagai perlombaan juga sudah mulai digelar. Rencananya, sejumlah lomba itu akab berlangsung hingga 1 September 2018.

“Puncaknya pada tanggal 2 September 2018, masyarakat Gadungsari akan mengadakan bazar potensi dusun dan pertunjukan jathilan,” terang Sulis.

Untuk tahun ini, pihaknya mengambil tema Guyub Rukun Dalam Kebhinekaan. Tema ini sebenarnya merupakan tema tahunan lantaran sejak 2014 lalu, pihaknya mulai memasyarakatkan slogan Gadungsari Guyub, Rakyatnya Rukun.

Tema ini menjadi sangat istimewa lantaran merupakan perwujudan syukur dari masyarakat Gadungsari untuk kerukunan di masyarakat yang selama ini terjadi. Masyarakat Gadungsari sendiri memang sangat plural di mana masyarakatnya memeluk keyakinan yang berbeda. Namun selama ini perbedaan yang ada tidak pernah dijadikan sebuah masalah, dan justru menjadi kekuatan warga setempat.

“Kita sudah hidup tenang dan rukun selama ini dengan penuh toleransi, jangan sampai terusik dengan adanya gangguan. Kita berharap bisa tetap rukun selamanya,” tutup dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler