fbpx
Connect with us

Sosial

Tangan Dingin Hesti Bawa Batik Gunungkidul Melanglang Buana

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari, (pidjar.com)–Dalam dunia fashion, nama Hesti Purwandari bukan merupakan nama yang asing lagi. Belasan tahun sudah Hesti telah menggeluti profesi sebagai desainer pakaian. Yang cukup menarik, dalam sepak terjangnya ini, Hesti tak hanya melambungkan namanya sendiri, nanmun juga sukses membawa nama dan karya Gunungkidul.

Sejumlah karya Hesti yang merupakan jenis batik memang menggunakan 8 motif batik asli Gunungkidul yang telah dipatenkan sebagai dasar pakaian rancangannya. Dari motif-motif yang ada tersebut, dirinya mendesain busana menggunakan salah satu motif batik.

“Saya memilih motif Batik Amarylis untuk mengikuti berbagai event fashion show dan lomba,” ujarnya kepada pidjar.com, Senin (30/09/2019).

Menurut Hesti, motif batik lokal akan semakin populer jika pemasaran juga dilakukan melalui karya busana batik. Berdasarkan pengalamannya setelah mengikuti sebuah pameran busana, selalu ada pesanan masuk di galeri busana El FATA yang ia dirikan.

“Maka kemudian kami memesan kain batik langsung ke pambatiknya,” imbuh Hesti.

Saat ini dirinya memiliki konsep desain busana yang telah direalisasikan menjadi produk jadi sebanyak 17 karya. Dua desain yang menjadi andalan yakni Arbawaba dan Clorot Abrit Gunungkidul. Dua karya tersebut diungkapkan Hesti telah mengikuti berbagai event fashion show baik di Gunungkidul maupun Yogyakarta. Dari keseluruhan konsep yang ia buat, rancangan busana tak melulu merupakan busana pesta.

Berita Lainnya  Pengurus Baru, Fatayat NU Semanu Siap Jaga Keutuhan NKRI

“Dengan aneka ragam model, saat ini batik justru semakin digandrungi dan digunakan secara casual,” papar ibu dua orang anak ini.

Uniknya, bahan yang ia gunakan dalam berkarya pun bahan yang ramah lingkungan. Menurutnya, selama ini limbah konveksi menjadi penyumbang sampah terbesar setelah plastik.

“Nah dari situ Elfata berusaha menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan dan tentunya dengan look, style dan trend yg mengikuti perkembangan zaman,” ujar dia.

Pada tahun 2019 ini, ia mulai mencoba memamerkan hasil desainnya dalam ajang pagelaran busana di Solo dan Kota Yogyakarta. Bahkan, dalam waktu dekat ini, hasil desainnya tersebut akan dibawa dalam perutnjukan peragaan busana dalam rangka hari batik.

Berita Lainnya  Merasa Dijegal Saat Daftar Dukuh, Feri Akan Gugat Panitia Penerimaan Perangkat Desa Watusigar

Dalam perjalannnya menjadi desainer, asam getir kehidupan dan karir pun ia rasakan. Wanita kelahiran 21 Mei 1986 ini mengaku pernah berkali-kali melamar menjadi penjahit di Kota Wonosari dan tidak diterima.

“Akhirnya karena butuh pekerjaan ya buka usaha sendiri dengan modal dari orang tua biar hanya modal kecil tapi berusaha jatuh bangun itu biasa,” ucapnya sembari mengenang.

Ia mengaku, selama 11 tahun menggeluti dunia jasa jahit ia pun tak cukup puas. Ia terus mengasah ilmu dengan mengikuti kursus di bidang fashion mulai dari textile, desain dan pemasarannya.

“Nah tahun 2018 kemarin mencoba mengikuti event dua lomba dan Alhamdulillah minimal masuk Finalis,” pungkasnya.

Iklan
Klik untuk Komentar
Iklan

Facebook Pages

Iklan
Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler