fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Warga Temuireng Dapat Bantuan Alat Pengolahan Air Tenaga Surya Dari Kementrian Ristek Dikti

Published

on

Panggang,(pidjar.com)–Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Mohamad Nasir meresmikan prototype sistem pengolahan air menggunakan pompa tenaga surya di Desa Temuireng, Kecamatan Panggang pada Kamis (01/02/2018) siang tadi. Dengan peralatan ini, nantinya diharapkan bisa dipergunakan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan air warga Kecamatan Panggang dan sekitarnya yang terutama saat musim kemarau terdampak bencana kekeringan.

Ditemui pidjar.com, Mohamad Nasir memaparkan, prototype ini merupakan hasil riset bersama antara Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE) – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta melalui Program Pengembangan Teknologi Industri (PPTI) Kementerian Ristekdikti.

Alat ini ditargetkan mampu melakukan pemompaan air sekitar 70 meter kubik/hari menggunakan 6,4 kWp sistem pembangkit tenaga surya yang dirangkaikan secara langsung (direct coupling) dengan pompa submersible untuk menjangkau bak penampung (reservoir) yang berjarak 741 meter dengan ketinggian sekitar 80 meter dari lokasi pemasangan prototipe.

 "Desain dan rancang bangun sub-sistem ini dilakukan oleh B2TKE-BPPT," katanya.

Tak hanya melakukan penyaluran semata, namun dalam prototype ini juga dilakukan pengolahan air sehingga bersih dan laik konsumsi. Pemrosesan sub-sistem pengolahan air sendiri dilakukan oleh pihak UPN Veteran Yogyakarta. Sebagai informasi, kualitas suplai air baku ke Desa Temuireng yang berasal dari Baron dan Gua Ngobaran melampaui ambang batas persyaratan maksimum 50 CFU per 100 ml.

Berita Lainnya  Pemkab Gunungkidul Raih WTP Lima Kali Berturut-turut

Dari hasil analisa di musim curah hujan tinggi, suplai air baku mengandung bakteri E-Coli 9.000 per 100 ml dan total bakteri Coliform 28.000 per 100 ml. Pada musim curah hujan sedang didapati total coliform 4.000 per 100 ml, sedangkan pada musim kemarau, total coliform berkisar 400 per 100 ml. Sub-sistem pengolahan air oleh UPN ini menggunakan tawas maupun biji kelor serta proses olahan dengan destilasi percik.

"Dengan diresmikannya prototipe sistem ini, diharapkan dapat menjadi model sistem pengolahan air higienis dengan memanfaatkan tenaga energi terbarukan yang ramah lingkungan untuk dapat diterapkan di lokasi lainnya," katanya.

Ia menambahkan, pembangunan pengolahan air ini berawal dari usulan Gubernur DIY Sri Sultan HB X di Parangtritis, Bantul beberapa waktu lalu. Kala itu, Sultan mengatakan bahwa di wilayah Gunung Kidul mempunyai sumber mata air yang harus diangkat untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat yang seringkali terpapar bencana kekeringan ketika musim kemarau tiba.

Berita Lainnya  Pacu Kualitas SDM, Pelajar Didorong Untuk Konsumsi Makanan Sehat

"Kemudian kami usulkan ke DPR RI untuk penganggaran. Setelah disetujui, pembangunan dilaksanakan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta melalui Program Pengembangan Teknologi Industri (PPTI) Kementerian Ristekdikti," kata Nasir.

Pasca serah terima bantuan tersebut, Menristek Dikti meminta kepada masyarakat setempat untuk merawat alat pengolahan air, khususnya mesin-mesin. Mesin tersebut sangat mahal dan bisa digunakan selama 20 tahun.

"Untuk pembiayaan awal penggunaan air menggunakan dana dari Kementerian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal," katanya.

 Ia mengatakan prototipe sistem ini diharapkan membantu memenuhi kebutuhan air di Kabupaten Gunung Kidul, khususnya masyarakat Desa Temuireng yang selama ini sebagian besar memanfaatkan air hujan dan membeli air di musim kemarau dengan kisaran harga Rp150 ribu per 5 meter kubik.

“Adanya mesin-mesin ini setidaknya bisa menyalurkan air ke 269 KK di Desa Temuireng,” tutup dia.

 

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler