Pendidikan
Peluncuran Film Karya Pelajar Ajak Anak Muda Peduli Kesehatan Mental
Jogja,(pidjar.com)– Pusat Rehabilitasi YAKKUM melalui Program ASIK (Aksi Sehat Jiwa: Inisiatif dan Kontribusi Orang Muda) meluncurkan dua film pendek bertema kesehatan mental hasil kolaborasi dengan SMAN 1 Seyegan. Kegiatan yang juga didukung Yayasan Kampung Halaman ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap isu kesehatan mental melalui media film.
Project Officer Program ASIK, Fina Umi, mengatakan peluncuran film menjadi bagian dari upaya mengedukasi masyarakat mengenai berbagai persoalan kesehatan mental yang dekat dengan kehidupan remaja.
“Dua film yang diluncurkan berjudul Histeria Kolektif dan Di Balik Nilai Merah. Keduanya mengangkat tantangan, hambatan, dan pengalaman orang muda yang berkaitan dengan isu kesehatan mental,” ujarnya.
Film dokumenter Histeria Kolektif mengangkat fenomena kesurupan massal di lingkungan sekolah. Menurut Fina, film tersebut berusaha menghadirkan perspektif yang lebih ilmiah mengenai fenomena tersebut.
“Sering kali kesurupan dianggap sebagai sesuatu yang mistis. Dalam film ini dijelaskan bahwa kondisi tersebut juga dapat dipicu oleh kesehatan mental yang sedang tidak baik. Kami menghadirkan berbagai sudut pandang, mulai dari siswa yang mengalami, guru, teman-teman siswa, hingga psikolog,” katanya.
Sementara itu, film fiksi Di Balik Nilai Merah mengangkat tekanan yang dialami siswa akibat stigma terhadap nilai akademik yang rendah. Kedua tema dipilih berdasarkan hasil diskusi dan pengalaman nyata para siswa di SMAN 1 Seyegan.
Fina menjelaskan, media film dipilih karena dinilai lebih mudah diterima oleh kalangan muda dibandingkan penyampaian materi melalui literatur ilmiah.
“Anak muda sekarang memiliki banyak akses terhadap media kreatif. Mereka lebih senang menonton film atau video pendek dibanding membaca literatur yang bahasanya berat. Karena itu film menjadi media yang efektif untuk menyampaikan pesan tentang kesehatan mental,” jelasnya.
Peluncuran film tersebut juga dihadiri sekitar 100 peserta yang berasal dari berbagai SMA di DIY. Program ASIK sendiri didanai oleh CBM Global melalui Pusat Rehabilitasi YAKKUM.
Selain peluncuran film, kegiatan ini juga diisi dengan peluncuran buku mengenai literasi kesehatan mental. Buku tersebut dilengkapi lembar kerja yang membantu remaja mengenali kondisi emosinya melalui berbagai pertanyaan reflektif.
“Remaja sering mencari informasi kesehatan mental dari media sosial, lalu mendiagnosis dirinya sendiri. Padahal informasi di media sosial belum tentu benar. Buku ini dihadirkan agar mereka memiliki sumber informasi yang lebih tepat,” ujar Fina.
Ia menambahkan, pihaknya berencana memperluas jangkauan film tersebut agar dapat ditonton masyarakat umum setelah melalui proses persiapan publikasi.
“Kami berharap karya teman-teman muda ini bisa mengedukasi lebih banyak orang sehingga kesadaran mengenai kesehatan mental semakin meningkat,” katanya.
Devinta Idya Putri, siswi SMAN 1 Seyegan yang menjadi penulis cerita film Di Balik Nilai Merah, mengisahkan tentang seorang guru yang menilai rendah murid dengan nilai pelajaran kurang bagus.
“Seharusnya anak dengan nilai rendah dimotivasi agar bisa mempelajari pelajaran lagi, bukan malah tidak memotivasi,” ujarnya.
Ia mengatakan ide cerita berasal dari pengalaman para siswa yang dikumpulkan melalui diskusi bersama perwakilan organisasi di sekolah.
“Awalnya kami diminta menuliskan pengalaman yang pernah dialami di sekolah. Ternyata cerita yang paling banyak muncul adalah pengalaman ketika guru merendahkan siswa karena nilainya rendah. Dari situlah kami mengangkat isu tersebut menjadi film,” ungkapnya.
Menurutnya, perlakuan yang meremehkan siswa karena nilai akademik dapat berdampak pada kondisi psikologis mereka.
“Anak bisa menjadi tidak percaya diri, kehilangan semangat belajar, bahkan merasa dirinya tidak mampu. Memang ada yang menjadikannya motivasi, tetapi tidak semua anak memiliki respons yang sama,” katanya.
Ia mengungkapkan proses penulisan naskah berlangsung relatif singkat, namun membutuhkan banyak revisi. Secara keseluruhan, produksi film hingga selesai memakan waktu sekitar enam bulan dan menjadi pengalaman pertama baginya terlibat dalam pembuatan film.
Melalui dua film tersebut, para penyelenggara berharap masyarakat semakin memahami pentingnya kesehatan mental serta mampu melihat berbagai persoalan yang dihadapi remaja dari sudut pandang yang lebih empatik. (Rosa)
-
Uncategorized4 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized4 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized1 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized4 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized2 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
-
Uncategorized3 minggu yang lalu149 Karya Inovatif ASN hingga Pelajar Gunungkidul Ramaikan Krenovamaskat Pelita Indah 2026
-
event2 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Uncategorized3 minggu yang lalu“Diri dan Liyan”, Ruang Perjumpaan Diri, Leluhur, dan Ingatan dalam Karya Dhewantara Manurung
