fbpx
Connect with us

Sosial

Belasan Ribu Lansia Hidup Terlantar, 3 Kecamatan Ini Jadi Penyumbang Terbanyak

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Di tengah pembangunan yang saat ini tengah digaungkan oleh pemerintah, ada sedikit catatan minor yang masih menghantui masyarakat Gunungkidul, yaitu kemiskinan. Di Gunungkidul sendiri masih cukup banyak ditemukan warga yang hidup bahkan bisa disebut sangat tidak layak lantaran keterbatasan ekonomi. Situasi semakin sulit saat kondisi warga yang hidup dalam taraf sangat memprihatinkan tersebut sudah berusia lanjut. Dengan keterbatasan fisik yang ada, tentunya mereka tak lagi bisa mencari nafkah untuk menopang kehidupan mereka. Sehingga tak jarang, para lansia miskin tersebut harus hidup seadanya dan mengandalkan belas kasihan dari para tetangga.

Berdasarkan data pemerintah, jumlah lansia terlantar di Gunungkidul dalam setiap tahunnya cenderung mengalami peningkatan. Data terakhir yang dimiliki oleh Dinas Sosial Gunungkidul, tercatat sebanyak 18.240 lansia di Gunungkidul yang hidup terlantar. Adapun untuk kategori terlantar ini disimpulkan dari berbagai parameter diantaranya tidak memiliki penghasilan tetap, tidak diurusi oleh pihak keluarga serta menderita sakit.

Kecamatan Playen, Semin dan Wonosari menjadi 3 Kecamatan yang menduduki peringkat tertinggi jumlah lansia terlantas. Di Kecamatan Semin misalnya, terdapat sedikitnya 1500 lansia perempuan yang berada dalam kondisi ini.

“Jumlah itu bedasarkan update dari petugas. Setiap tahunnya justru bertambah meski pemerintah terus berupaya melakukan tindakan dalam bentuk program pemberdayaan,” kata Kepala Bidang Rehabilitasi Dinas Sosial Gunungkidul, Purnomo Sulistyo, Selasa (04/09/2018).

Masing-masing kecamatan di Gunungkidul memiliki lansia yang dikategorikan terlantar. Namun demikian jumlahnya cukup beragam mulai dari kisaran 100 orang bahkan hingga lebih dari 1000 orang. Dari akumulasi yang telah dilakukan terdapat 12.452 lansia perempuan dan 5.968 lansia laki-laki yang berada pada kategori terlantar.

Berita Lainnya  Aliran Kali Oya Jadi Lokasi Wisata Dadakan Setiap Musim Kemarau Tiba

Menurut Purnomo, berbagai kegiatan terus dilakukan dari pemerintah untuk memberikan fasilitas dan sarana prasarana yang memadahi. Keterlibatan masyarakat dalam menangani jika ditemukan lansia dalam kondisi terlantar juga sangat dibutuhkan. Sehingga jika pemerintah belum dapat menjamah yang bersangkutan, telah ada tindakan dari masyarakat atu pilar-pilar kepemudaan dan kemasyarakatan yang telah bertindak.

“Kondisi semacam ini menjadi permasalahan sosial yang harus dientaskan. Kami bekerjasama dengan lintas sektoral dalam penanganan hal ini,” ujar dia, saat ditemui di ruang kerjanya.

Lebih lanjut, salah satu aspek penilaian daerah maju yakni tingginya angka harapan hidup. Maka dari itu segala aspek dan pendekatan terus dilakukan oleh pemerintah, sehingga jumlah lansia terlantas bisa ditekan seminimal mungkin. Tahun 2021 mendatang bedasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh sejumlah ahli, Purnomo menyatakan jika ditahun tersebut menjadi tahun lonjakan lansia.

“Tidak hanya di Gunungkidul tapi menyeluruh di DIY. Tahun 2021 mendatang diprediksi menjadi tahun lonjakan jumlah lansia. Sebenarnya dalam penanganan lansia terlantar tidak melulu dari pemerintah, dari masyarakat pun bisa. Jika memang kondisinya tidak memungkinkan untuk dirawat masyarakat dapat langsung dioper ke Panti Wreda, kalau dari kami menangani yang sekiranya sudah sangat sulit,” tambah dia.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dwi Iswantini menjelaskan, salah satu program yang terus digalakkan oleh pemerintah dalam menangani lansia yakni Bina Keluarga Lansia. Pada program ini tidak hanya menyasar pada lansianya, melainkan keluarga atau dari pihak tetangga juga tersasar dalam program ini.

Berita Lainnya  Simpang Siur Rumor Pengcovidan Samikem, Begini Klarifikasi RS Nur Rohmah dan Keluarga Pasien

“Pemberdayaan lansia dan semacam pemberian pengetahuan kepada keluarga untuk merawat para lansia, sehingga dapat menekan jumlah lansia terlantar,” kata Dwi Iswantini.

Menurutnya, pemberdayaan yang selama ini digagas telah berjalan sesuai dengan harapan pemerintah. Sebanyak 137 kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) telah terbentuk tersebar di masing-masing kecamatan. Pada program ini, lansia dibina dan didampingi oleh petugas, misalnya dengan membuat kerajinan tangan, olahan makanan atau sesuai potensi yang dimiliki.

Dengan pelatihan ini, para lansia diharapkan nantinya memiliki kemampuan yang kemudian bisa diaplikasikan dalam membuat kegiatan yang produktif untuk mengisi waktu dihari tua mereka. Selain itu penghasilan sedikit demi sedikit juga terkumpul dari usaha mereka meski raga sudah tidak sekuat di usia muda. Terbukti, semakin kesini karya-karya lansia ini juga terjual di toko perbelanjaan.

“Ini juga sebagai upaya untuk menekan angka bunuh diri di Gunungkidul. Tidak dipungkiri jika jumlahnya masih tinggi, jadi kami berikan pembinaan agar waktu mereka terisi dengan kegiatan yang bermanfaat dan menghasilkan,” tambahnya.

Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler