fbpx
Connect with us

Budaya

Berkunjung ke Desa Penari di Gunungkidul Yang Saat Ini Terancam Punah Lantaran Kurangnya Regenerasi

Diterbitkan

pada tanggal

Semin,(pidjar.com)–Gunungkidul dikenal dengan daerah yang masih sangat kental dengan budaya dan seni. Segala hal yang berkaitan dengan kesenian tradisional masih tumbuh subur. Salah satunya adalah beragam jenis tarian tradisional yang dikembangkan oleh masyarakat seperti misalnya Tari Tayub.

Di Padukuhan Badongan, Desa Karangsari, Kecamatan Semin merupakan kawasan yang dulunya mengembangkan tarian-tarian tradisional. Mayoritas warganya adalah seniman tari yang bahkan sudah melanglang buana ke sejumlah daerah untuk mengisi pementasan. Sayangnya, saat ini regenerasi penari di desa tersebut sudah sangat minim.

Putusnya regenerasi penari tradisional sendiri bisa dilihat dari jumlah penari. Puluhan tahun lalu, terhitung mulai dari tahun 1960 hingga 1990 terdapat puluhan penari Tayub dari Desa Karangsari. Namun perlahan satu persatu, penari-penari itu kemudian mengundurkan diri lantaran adanya kesibukan lain dan beberapa faktor lainnya. Saat ini hanya tersisa 3 orang penari Tayub yang masih aktif jika ada job untuk menari. Tak main-main, penari dari kawasan ini sebenarnya telah berjelajah di beberapa daerah dalam menunjukkan kebolehannya.

Salah seorang penari Tayub dari Badongan, Gunem mengatakan, tarian tradisional berkembang sangat pesat puluhan tahun lalu. Ia merupakan salah satu penari tradinional khususnya tayub yang sejak awal masuk ke daerahnya dan langsung diminati oleh banyak muda mudi. Karena kecintaannya dengan seni dan budaya cukup besar, di usia 65 tahun ini, ia masih aktif menari. Sering kali ia mendapatkan job-job di sekitar Gunungkidul atau bahkan di daerah lain.

Meski tidak lagi muda, namun tangan dan tubuhnya masih sangat luwes menarikan gerakan demi gerakan yang diikuti dengan tabuhan musik gamelan. Saat tampil, tentu ia tidak sendiri, ada grup kesenian yang menaunginya yakni grup kesenian Tayub Lebdo Rini. Gerakan demi gerakan dari tarian ini terdapat cerita tersendiri. Lenggak lenggok tubuh dan alusnya musik yang mengiringi menjadi daya tarik dari tarian ini.

Berita Lainnya  Tekan Angka Gantung Diri, Ratusan Ibu-ibu Dilatih Jadi Kader Anti Bunuh Diri

“Masih sering ada job di daerah sendiri maupun luar daerah. Biasanya untuk Tayub ini ditarikan selain untuk hiburan juga untuk mengiringi sebuah ritual,” kata Gunem, Jumat (20/09/2019).

Lebih lanjut, nenek 4 orang cucu itu mengatakan jika untuk pementasan tari Tayub sendiri paling ramai di bulan-bulan Jawa misalnya Besar, Sapar, dan Rejeb. Hal ini lantaran ada banyak kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat baik di Gunungkidul ataupun daerah lain. Katu kabupaten yang menjadi langganan pentasa grup Tajub Lobdo Rini yakni di Kabupaten Purworejo. Sejak tahun 1978 lalu jika ada peringatan bulan Saparan, selalu mengundang grup ini untuk menghibur masyarakat dan pengiring kegiatan budaya yang dilestarikan oleh masyarakat sekitar.

“Kalau pentas itu dari sore. Kemudian istirahat to. baru sekitar jam 9 malam mulai lagi sampai pagi. Biasanya untuk upah ya menyesuaikan, sekali pentas 5 juta, tapi kan dibagi dari personil yang lain. Paling tidak 500 ribu itu dapet. Belum lagi sama saweran dari penonton,” tambah dia.

Menurut Gunem, Tari Tayub sendiri memang populer di Jawa Tengah, dan sering disebut mirip tari Jaipong. Selain menari untuk menghibur warga, Tayub sering dimainkan untuk kegiatan budaya seperti di lokasi yang dianggap memiliki sejarah bagi desa.

Gunem sedikit bercerita, ada banyak pengalaman yang ia dapat dari mengikuti grup tayub selama puluhan tahun ini. Mulai dari upah yang dulunya hanya sekitar 10.000 hingga saat ini yang mencapai ratusan ribu.

Berita Lainnya  Cerita Persiapan-persiapan Para Petugas SAR Untuk Jauhkan Wisatawan Dari Marabahaya

Ia sendiri terjun di tari Tayub sejak kecil, saat ia duduk dibangku sekolah dasar. Ia dibantu dengan penari lain dan kakaknya mulai belajar. Dari situ ia mulai jatuh cinta dengan tarian tradinional. Saking fasihnya dan lamanya berkecimpung di pertayuban, meski usianya sudah cukup tua namun masih tetap bisa menari dan menghibur masyarakat.

Disinggung mengenai regenerasi penari tayub, ia mengungkapkan jika minat generasi sekarang sangatlah minim. Terbukti di wilayahnya saja hanya tinggal 3 orang. Biasanya untuk penari tayub yang semula belum menikah masih aktif, kemudian setelah menikah memilih untuk tidak ikut dalam grup dan lepas dari dunia tari.

Hambatan yang sering dihadapi seperti ketika ada penari berhalangan untuk ikut dalam sebuah pentas. Untuk mengatasi hal tersebut dirinya mencari penari lain yang tidak memiliki kemampuan untuk menunjukkan Tari Tayub. Minimnya regenerasi ini sering menjadikan Gunem dan grupnya kebingungan. Sehingga sering meminta bantuan dari penari lain untuk ikut dalam tayub. Jika yang paham mengenai gerakan tentu merasa tidak buat dengan tampilan yang disuguhkan karena gerakan mereka terihat kaku.

Sementara itu, penari Tayub lainnya, Purwanti (41), mengatakan, dulunya ia memang seorang penari tayub. Namun kemudian setelah menikah ia kemudian memilih berhenti menari dengan berbagai pertimbangan. Gerakan tari Tayub ada yang tidak bisa ditiru oleh penari lainnya adalah gerakan Gambyong dan Ukel. Menurutnya, kalau penari Tayub asli pasti terlihat lebih luwes.

“Dulu pas SMP tiba-tiba pengen ikut terjun tari tayub karena ibu saya juga penari. Tapi setelah menikah pilih berhenti. Kalau sekarang ya pengennya ada anak-anak muda yang belajar tarian tradisional ini,” ucap Purwanti.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler