fbpx
Connect with us

Sosial

Budaya Baju Baru Saat Rayakan Lebaran, Para Penjahit Harus Berpacu Dengan Waktu

Diterbitkan

pada tanggal

Playen,(pidjar.com)–Bisa dibilang setiap menjelang hari raya Lebaran, para pelaku jasa jahit selalu kebanjiran orderan. Bagi sebagian besar masyarakat, berpenampilan rapi dan baik saat merayakan hari raya bisa dibilang menjadi sebuah budaya. Meski disebut berkah, akan tetapi perjuangan para penjahit demi memenuhi kepuasan pelanggan juga sangat menarik. Dengan pesanan membludak, seluruh pelanggan menginginkan pesanan pakaian mereka bisa diselesaikan sebelum hari raya. Menjadi pemandangan yang biasa ketika para penjahit harus rela lembur setiap harinya guna memenuhi permintaan tersebut.

Seperti aktivitas super sibuk yang dilakukan Sangadi (70), warga Banaran IX, Desa Banaran, Kecamatan Playen ini. Demi pelayanan maksimal agar pelanggan tidak merasa kecewa, ia harus rela mengerjakan tanggungan jahitan hingga larut malam. Bahkan tak jarang, hingga dinihari sembari menunggu sahur, diisi penjahit kawakan ini dengan mengerjakan pesanan.

“Apapun resikonya, ketika saya bilang sanggup ya akan selesai sesuai waktu yang dijanjikan. Terkadang tidur hanya 3 sampai 4 jam saja,” jelasnya, (25/05/2019).

Setiap jelang lebaran seperti saat ini, Sangadi mengaku memang selalu mendapat orderan banyak. Namun setiap orderan dari tahun ke tahun selalu dengan model berbeda. Seperti trend tahun ini, banyak pesanan pakaian untuk keluarga dengan jenis jas. Adapula batik dengan contoh model modern yang dibawa oleh pelanggan.

Berita Lainnya  Hasil Tes Laboratorium Keluar, Warga Yang Terpapar Ternak Mati Mendadak di Karangmojo Negatif Anthraks

“Kita harus bisa mengikuti model terbaru. Ya agar mereka (pelanggan) tidak kecewa,” katanya.

Dibeberkan olehnya, omset menjelang lebaran pun bisa mencapai kurang lebih Rp 10 jutaan. Harga yang dipatok pun disesuaikan dengan standar harga dari Rp 60 ribu hingga 100 ribu untuk pakaian bisa, Rp 400 ribu – Rp 700 ribu untuk pakaian jas. Patokan harga pun dilihat dari model yang diminta pelanggan.

“Karena tingkat kerumitan saat pengerjaan, pengaruh kepada resiko pengerjaan. Kalau ada salah sedikit daja, nanti pelanggan kecewa. Walaupun begitu, saya tetap tanggungjawab,” tegasnya.

Jika kebanjiran seperti saat ini iapun tak jarang mengajak tetangga untuk membantu mengerjakan jahitan. Namun biasanya ia hanya mengerjakan jahitan bersama istrinya dan anak keduanya. Ia hanya berharap, di usia yang tidak lagi muda ini selalu diberikan kesehatan sehingga tetap mampu melayani pelanggan hingga puas.

Berita Lainnya  Belum Miliki Ruang Promosi, Puluhan Industri Kecil Menegah Gunungkidul Ikuti Pameran di Pasar Argosari

Ungkapan senada juga disampaikan Suradi (35), warga Padukuhan Singkil, Desa Giring, Kecamatan Paliyan. Ia mengatakan, sejak jauh hari sebelum lebaran tiba, ia bersama istrinya mulai kebanjiran order. Mulai dari baju untuk anak-anak hingga orang dewasa.

“Kebanyakan couple (berpasangan), tapi rata-rata satu keluarga itu sama jenis kain hingga motifnya atau bisa disebut seragam,” ujar Suradi.

Ia menambahkan, pengerjaan pun harus dilakukan hingga larut malam alias lembur. Sebab, konsumen meminta pakaian seragam tersebut wajib selesai maksimal 1 hari sebelum lebaran tiba.

“Ya harus lembur karena dikejar target. Harus jadi sebelum lebaran karena pakaian itu akan digunakan untuk lebaran nanti,” kata dia.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler