fbpx
Connect with us

Uncategorized

Larangan Mudik, Pengusaha Hotel dan Restoran Tiarap Selama Libur Lebaran

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Momentum lebaran biasanya digunakan para pengusaha hotel maupun restoran untuk meraup untung lebih. Namun demikian, akibat pelarangan mudik yang juga diberlakukan tahun ini, dua sektor tersebut tiarap.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Gunungkidul, Sunyoto mengungkapkan, pemasukan dari sektor restoran dan hotel cukup memprihatinkan. Ia menyebut, dari total okupansi baik hotel, losmen maupun homestay di Gunungkidul sendiri anjlok hingga 90% jika dibandingkan 2019 lalu.

“Restoran pun juga mengalami penurunan yang cukup derastis, sekitar 70%,” ucap Sunyoto, Senin (17/05/2021).

Padahal, lanjut dia, momentum lebaran biasanya digunakannya untuk menggenjot pemasukan. Hal tersebut karena pelanggan baik hotel maupun restoran merupakan warga rantau dari luar daerah.

“Sebelum ada larangan mudik saja sudah sedikit tingkat hunian dan tingkat orang berkuliner, lebaran yang diharapkan untuk menjadi angin segar bagi para pelaku wisata menjadi buyar lagi dengan adanya larangan mudik,” papar dia.

Sunyoto mengaku tak bisa berbuat banyak. Hal ini karena Pemkab Gunungkidul juga menjalankan aturan dari pusat. Sehingga sampai saat ini belum ada solusi yang kongkrit.

“Ya kami hanya sekedar menyayangkan, penyekatan terlalu ketat jadi tidak ada mobilisasi dari luar padahal pangsa pasar kami ya pemudik itu, makanya usaha kami tidak laku,” ujarnya.

Hingga saat ini, usaha restoran milik Sunyoto sendiri cukup kembang kempis. Kendati di tengah ekonomi sulit, ia berkomitmen untuk enggan merumahkan karyawan.

“Ya untuk masuknya genjotan, mereka sudah menyepakati meskipun nanti pemasukannya berkurang,” tandas Sunyoto.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler