Sosial
Lebaran Pilu Perantau Yang Pilih Tak Mudik, Hanya Bisa Silaturahmi Via Video Call
Paliyan,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Bagi warga Gunungkidul, merayakan hari raya Lebaran dengan bersilaturahmi kepada sanak saudara sudah menjadi tradisi. Dengan budaya yang telah turun menurun ini, tak heran apabila warga Gunungkidul yang tengah berada di perantuan menjadikan mudik menjadi jadwal wajib. Tak peduli berapapun biaya yang harus dikeluarkan maupun harus berdesak-desakan di jalan ataupun angkutan umum, pulang ke kampung halaman seakan menjadi keharusan.
Namun keputusan yang sangat berat harus diambil oleh sebagian perantau di tengah pandemi Covid-19. Niat untuk pulang kampung dan merayakan lebaran di kampung halaman terpaksa dipupus. Adanya penyekatan wilayah maupun kekhawatiran jika menularkan virus kepada keluarga di kampung halaman membuat sebagian dari mereka memilih untuk tidak pulang kampung. Silaturahmi pun hanya dilakukan via virtual dengan menggunakan media sosial.
Seperti yang dialami oleh Angga Eka Saputra, warga Padukuhan Singkil, Desa Giring, Kecamatan Paliyan. Sudah sejak beberapa tahun terakhir, pemuda ini mengadu nasib ke ibu kota usai lulus SMK. Momen lebaran menjadi salah satu waktu paling memungkinkan baginya untuk pulang dan melepas kerinduan terhadap keluarga tercinta. Sebisa mungkin ia menabung selama setahun agar bisa merayakan hari raya yang layak bersama keluarga.
Pada tahun ini, Angga memutuskan untuk tidak mudik. Ia takut jika nantinya saat pulang ke rumah, justru tanpa sadar menyebarkan virus corona kepada orang-orang tercintanya. Apalagi di rumahnya, ada orang tua dan adiknya yang masih kecil yang rawan terpapar virus berbahaya ini.
“Tidak pulang kampung saat lebaran itu berat. Tetapi ini harus dipilih, karena Jakarta juga kondisinya seperti ini sekarang. Saya lebih sayang sama keluarga, semoga tahun depan bisa mudik,” kata Angga melalui pesan WA, Minggu (24/05/2020).

Untuk menyambung silaturahmi dengan keluarga saat lebaran, dia memilih untuk memanfaatkan kecanggihan teknologi dengan video call. Seperti yang ia lakukan pada Minggu pagi kemarin usai menjalankan sholat ied.
“Ya kangen dengan keluarga di rumah, bapak, ibuk, adek, simbah kakung mbah putri. Tapi inilah yang terbaik,” bebernya.
Dirinya sendiri sedari awal memilih untuk tidak memaksakan diri mudik. Sebab menurutnya, akan banyak dampak yang ditimbulkan ketika dirinya mudik.
“Di sini sangat ketat juga, setiap ada aktifitas di luar wajib masker, sarung tangan, cek suhu tubuh dan wajib cuci tangan,” ucap dia.
Kondisi semacam ini menurutnya cukup membuat was-was. Tak hanya memikirkan diri sendiri yang tengah berada di zona merah penyebaran corona, dirinya juga terus memikirkan keluarganya di rumah. Tak heran apabila hampir setiap hari, ia selalu menghubungi kelarga di rumah hanya untuk menanyakan kabar. Ia berharap kondisi kembali normal dan bisa pulang berkumpul dengan keluarga.
“Hari ini tadi kumpul di rumah saudara sesama perantau di Jakarta. Mereka juga tidak pulang, biasanya kita bareng-bareng pulang,” sambung Angga.
Sementara itu, ayah Angga, Wasidi mengungkapkan bahwa ada kekawatiran putranya berada di zona merah. Namun dengan dorongan doa, dirinya selalu memantau kondisi anaknya melalui sambungan pesan singkat.
Rasa kangen diakuinya menyelimuti perasaan saat lebaran ini. Namun pilihan untuk tidak mudik menurutnya juga salah satu hal yang tepat. Faktor kesehatan saat ini harus menjadi pertimbangan utama.
“Rasa kangen kami, kita wujudkan dengan saling mendoakan agar semua sehat dan keadaan saat ini (pandemi corona) segera berakhir. Semoga tahun depan kami bisa berlebaran bersama,” tutupnya.
-
Uncategorized2 hari yang laluMantan Kepala Benarkan Alat-alat Musik Studio SKB Gunungkidul Berada di Rumahnya, Sebut Untuk Kursus Musisi Muda Kawasan Selatan
-
Sosial4 minggu yang laluKisah Sedih Andheng Pasca Kecelakaan, Saat di RS Nurohmah Hanya Dijahit Telinga, Ternyata Patah Tulang Belakang dan Terancam Lumpuh
-
Sosial2 minggu yang laluKisruh Tunggakan Capai 85 Juta Dalam Dua Tahun Terakhir, Penyetoran Pembayaran PBB-P2 di Kalurahan Sawahan “Bocor”?
-
Uncategorized4 minggu yang laluMBG Libur, Harga Sembako Mulai Turun Drastis
-
Uncategorized9 jam yang laluTak Berhasil Saat Diminta Perbaiki Listrik, Dimas Dikeroyok Secara Brutal, Dari Diinjak Hingga Dihantam Senter
-
Pemerintahan4 minggu yang laluDinas Bongkar Upaya Kecurangan Pendaftar SMP N 1 Wonosari, Dari ASN Manipulasi Data Bansos Hingga Gunakan Sertifikat Palsu
-
Uncategorized2 minggu yang laluSuhu Terendah di Gunungkidul Capai 19 Celcius
-
Uncategorized6 hari yang laluStudio Musik dan Rekaman SKB Gunungkidul Kini Lumpuh Total Gegara Alat Hingga Sound Dibawa Pulang Mantan Pejabat
-
Uncategorized1 minggu yang laluTragis, Wanita Muda Ditemukan Gantung Diri di Kamarnya
-
Peristiwa4 minggu yang laluRS Nur Rohmah “Cuek” di Tengah Operasi-operasi Yang Harus Dijalani Andheng, Keluarga Pilih Tempuh Jalur Hukum
-
Pemerintahan1 minggu yang laluProyek Pengeboran Bekah Gagal Total Karena Salah Anilisis, PDAM Tirta Handayani Diminta Gandeng Akademisi
-
Uncategorized4 hari yang laluDua Kasus Gantung Diri Terjadi dalam Sehari di Gunungkidul, Lansia Pria dan Perempuan Ditemukan Meninggal
