Sosial
Pengakuan Pelaku Klithih Yang Kini Meringkuk di LP Khusus Anak Wonosari
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Belakangan ini marak terjadi aksi klitih di wilayah Jogja dan sekitarnya. Bahkan tagar #SriSultanYogyaDaruratKlitih dan #YogyaTidakAman sejak 28 Desember 2021 lalu terus menggema di media sosial seiring dengan meningkatnya aksi kejahatan jalanan ini. Aksi klitih yang marak terjadi ini menjadi perhatian bersama. Bahkan Raja Jogja sekaligus Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwana pun turut berkomentar atas keamanan di Yogyakarta yang menjadi sorotan semua orang. Pelaku-pelaku klitih selama ini diproses secara hukum, mereka ada yang sudah menjalani sisa hukuman dan ada yang masih dalam proses sembari menunggu pemeriksaan lanjutan maupun putusan pengadilan.
Di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Yogyakarta terdapat 24 anak didik. Dari jumlah tersebut, 3 anak didik diantaranya merupakan pelaku klitih murni. Pendekatan dan bimbingan konseling ataupun konsultasi dengan psikolog dilakukan bagi para pelaku kejahatan ini baik klitih, pembunuhan, ataupun kenakalan remaja lainnya.
Menurut Kepala LPKA Kelas II Yogyakarta, Teguh Suroso, berdasarkan pengakuan anak-anak pelaku klithih tersebut, mereka melakukan aksi ini karena ada yang ingin balas dendam terhadap kelompok lainnya. Selama ini, aksi semacam ini banyak didominasi oleh kelompok pelajar. Persaingan antar sekolah maupun saling ejek di media sosial membuat dendam menjadi semakin besar. Namun begitu, bahkan ada yang tidak mengetahui tindakan apa yang dilakukan karena hanya ikut-ikutan dengan teman mereka.
“Mereka ingin menunjukkan eksistensi pribadi dan juga kelompoknya untuk mendapatkan perhatian lebih di kelompoknya dan dari kelompok lain,” papar Teguh Suroso saat ditemui pidjar-com-525357.hostingersite.com.
Selain itu, mereka kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Sebenarnya dari segi fasilitas dan finansial, para anak tersebut tergolong terpenuhi dan berasal dari keluarga mampu. Namun anak-anak tersebut memang sering kurang perhatian karena kesibukan orang tuanya. Sehingga kemudian mengekspresikan hal-hal yang tidak wajar untuk mendapatkan perhatian.
Maka dari itu, dirinya mendorong pada orang tua untuk lebih memberikan perhatian terhadap anaknya. Sekecil apapun perhatian, itu sangatlah dibutuhkan oleh anak-anak. Di samping itu, kontrol terhadap perilaku pun juga sangat perlu dilakukan. Baik yang masuk kategori menengah ke atas maupun menengah ke bawah.
“Setelah anak ini terjerat kasus dan masuk ke LPKA, kami berikan dorongan ke orang tua untuk memberi perhatian meski jarak mereka terpisah. Di sini, kamipun juga berupaya memberikan pendampingan dan pembinaan agar karakter mereka berubah dari yang sebelumnya,” jelas dia.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan selama ini, aksi klitih terkadang terjadi pada musim-musim tertentu. Misalnya saja, pada saat momentum libur akhir semester di mana anak kosong kegiatan sekolah dan wira wiri dengan teman kemudian melakukan aksi kejahatan. Dan juga ada musim kompetisi olahraga juga bisa menjadi salah satu pemicu.
Maraknya kasus kejahatan jalanan di luar Gunungkidul, disikapi oleh jajaran kepolisian dengan bersiaga di lokasi-lokasi tertentu. Pengecekan dan operasi dari petugas belakangan juga gencar dilakukan. Jika sekiranya terdapat rombongan genk motor atau pelajar yang meresakan, langsung dilakukan pemberhentian dan pengecekan.
“Ya kita lakukan pengecekan jangan sampai ada kasus-kasus tindak kejahatan di jalanan terjadi di Gunungkidul. Operasi sendiri sering dilakukan, hasilnya memang tidak ada yang membawa sajam. Petugas hanya sempat menemukan tongkat dan miras dari rombongan anak muda,” ujar Kapolres Gunungkidul, AKBP Aditya Galayudha Ferdiansyah beberapa waktu lalu.
-
Uncategorized6 hari yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized1 minggu yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya5 hari yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized5 hari yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Sosial7 hari yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized6 hari yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized6 hari yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized4 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
event4 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Pemerintahan3 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
-
Uncategorized2 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Uncategorized4 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
