fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Progress Lamban Penanganan Kekeringan, Ratusan Ribu Warga Terdampak dan Dropping Air Masih Jadi Solusi

Published

on

Wonosari, (pidjar.com)–Keringnya sumber-sumber air di sebagian besar wilayah Gunungkidul merupakan hal yang tiap tahun terjadi di Gunungkidul. Kekeringan yang terus terjadi ini tak lepas dari kondisi geografis Gunungkidul yang sebagian besar adalah wilayah karst. Di mana pada wilayah karst cadangan air bawah tanah lebih melimpah daripada di atas tanah.

Karakteristik sumber air di sebagian besar wilayah Gunungkidul ini memang membutuhkan upaya serius, khususnya dari pemerintah dalam melakukan pengangkatan hingga pendistribusian. Namun hingga kini, belum ada solusi konkrit terhadap masalah musiman tersebut. Kabupaten Gunungkidul masih mengandalkan bantuan distribusi air bersih sebagai solusi atas permasalahan kekeringan yang dialami oleh ratusan ribu warganya ini. Ratusan juta rupiah anggaran pemerintah digelontorkan setiap tahunnya guna melaksanakan distribusi bantuan air bersih. Jumlah ini bisa berlipat hingga beberapa kali jika kemudian ditambahkan dengan bantuan sosial dari berbagai kalangan masyarakat maupun upaya mandiri dari warga terdampak dalam membeli air bersih dari swasta.

Bagi masyarakat, distribusi air melalui tangki menjadi pilihan yang tak terelakkan. Menjadi ironi lantaran bahkan, hal ini menjadi satu-satunya pilihan bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan airnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, sejak Juni 2021 lalu, pihaknya telah menerima pengajuan bantuan distribusi air bersih dari 10 Kapanewon. Ia merinci jika pengajuan tersebut tersebar di 40 kalurahan yang terdiri dari 28.356 Kepala Keluarga.

Pada tahun 2021 ini, BPBD Gunungkidul sendiri menerima anggaran sebesar 700 juta untuk pengadaan bantuan air bersih kepada masyarakat. Pendistribusian bantuan sudah dimulai sejak Juni lalu total distribusi air hingga saat ini mencapai lebih dari 1000 tangki.

“BPBD sudah mengirimkan bantuan droping air sebanyak 1.087 tangki. Sisa anggaran saat ini masih sekitar 400 juta,” beber dia, Senin (16/08/2021).

Ia menyebut, sisa anggaran yang ada diperkirakan mencukupi untuk pendistribusian bantuan air bersih hingga berakhirnya musim kemarau mendatang. Pihaknya saat ini terus melakukan pendataan berkaitan dengan permohonan bantuan dari sejumlah kapanewon.

“Masih mencukupi anggaran yang ada saat ini,” sambung Edy.

Sebelumnya, dalam rapat evaluasi beberapa waktu lalu, diperkirakan hanya dua kapanewon di Gunungkidul yang akan terbebas dari krisis air bersih. Sementara 16 Kapanewon lainnya masih akan mengalami masalah klasik ini. Dalam perkiraan BPBD Gunungkidul, saat ini masih ada 127.404 jiwa dari 37.801 Kepala Keluarga yang tersebar di 64 Kalurahan yang terdampak krisis air bersih pada saat musim kemarau ini.

“Memang ada hujan susulan pada akhir Juli hingga awal Agustus 2021 lalu, namun tidak menambah persediaan air di bak penampungan air milik warga,” papar Edy.

Sementara itu, Lurah Girisuko, Kapanewon Panggang, Jamin Paryanto mengungkapkan, warga di wilayahnya mulai membeli air tangki dari pihak swasta sejak beberapa bulan lalu. Meskipun belum mendata warga yang terdampak secara keseluruhan, namun ia memperkirakan terdapat ratusan keluarga yang mulai membeli air tangki dari swasta. Warga-warga tersebut memang tak memiliki akses pelayanan air sementara sumber air di sekitar mereka telah kering kerontang.

“Ada sekitar 600 kepala keluarga warga kami yang beli air tangki dari swasta. Tersebar di Padukuhan Gebang, Temuireng 1, dan Temuireng 2. Kalau di sini untuk air tangki ukuran 6000 liter rata-rata harganya Rp. 150.000,” terang Jamin. (Roni)

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler