fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Sumbang 70 Persen dari Total Produksi Pertanian, Gunungkidul Jadi Lumbung Pangan DIY

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Belakangan sektor pertanian, hortikultura dan peternakan di Kabupaten Gunungkidul bergeliat sangat baik. Berdasarkan hasil evaluasi pembangunan pertanian di Bumi Handayani berhasil menyumbang 70,05 persen tanaman pangan DIY. Dengan demikian, bisa dikatakan Gunungkidul adalah lumbung pangan DIY.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, tahun 2020 kemarin total produksi tanaman pangan Gunungkidul mencapai 1.640.204 ton. Sedangkan total produksi menyeluruh di DIY sebesar 2.323.492 ton dimana jumlah ini berasal dari 4 kabupaten dan 1 kota.

Dorongan pemerintah ke para petani terus diberikan untuk meningkatkan produktifitas pertanian. Pasalnya untuk kebutuhan pangan lokal sendiri jumlah itu jauh melebihi kebutuhan atau dinyatakan surplus. Kendati demikian, pemerintah tidak lah langsung puas, petani tetap didorong untuk meningkatkan hasil tanam mereka dan inovasi dalam pertanian juga harus tetap dilakukan agar hasilnya lebih maksimal.

“Gunungkidul merupakan penyumbang produksi tanaman pangan terbesar di DIY. Atau bisa dikatakan menjadi lumbung pangannya DIY,” ucap Raharjo Yuwono.

Ia menjelaskan berdasarkan data yang ada, luas lahan padi selama 1 tahun kemarin seluas 54.949 hektare mampu menghasilkan 291.772 ton gabah kering giling (GKG) atau jika dikonversi beras sebanyak 183.828 ton beras siap olah. Junlah ini dinyatakan surplus karena per tahun kebutuhan hanya 62.254 ton beras baginseluruh penduduk Gunungkidul.

Sedanglan untuk ubi kayu, selama ini memang menjadi penghasil ubi kayu terbanyak. Dari lahan 43m855 hektare lahan, mampu menghadilkan 1.001.629 ton ubi kayu. Jumlah produktifitas ini dinyatakan surplus, pemerintah juga mendorong petani untuk bisa berinovasi dan membaca peluang dari tanaman yang satu ini.

Tanaman pangan jenis jagung, dari lahan 52.286 hektare berhasil memproduksi 275.894 ton pipil kering dengan kebutuhan hanya 1.251 ton saja. Pemerintah dan petani juga tengah menjalin kerjasama dengan pihak ketiga untuk bisa melakukan pengolahan jagung agar laku di pasaran dengan nilai yang lebih tinggi.

Kemudian untuk kedelai lahan yang dipanen sebanyak 3.775 hetare dengan produktifitas 4.753 tone wose. Tanaman pangan jenis ini memang belum dapat memenuhi permintaan masyarakat sehingga harus membeli ke daerah lain untuk pemenuhan kebutuhan yang mencapai 15.172 ton wose selama setahun.

“Untuk kedelai memang belum bisa menutup kebutuhan jadi kita harus beli ke daerah lain untuk mencukupi kebutuhan,” ungkapnya.

Disusul lagi dengan sektor hortikultura yang sekarang juga tengah diminati oleh para petani Gunungkidul. Saat ini para petani tengah menvoba beragam tanaman hortikultura untuk dibudidayakan seperti cabai, bawang merah, melon, semangka, pepaya dan beragam lainnya. Dimana tanaman ini mampu tahan dengan kondisi daerah Gunungkidul dan menghasilkan keuntungan besar.

Disinggung mengenai potensi lahan pertanian apakah bisa sampai panen 4 kali dalam satu tahun ia mengatakan hal tersebut mungkin saja bisa terjadi. Kendati demikian, hanya beberapa kawasan saja, 4 kali panen itu siklusnya padi, padi, palawija/hortikultura, hortikultura sayur.

“Hanya beberapa kawasan saja yang bisa 4 kali panen beragam jenis itu juga diimbangi horti ya, kalau padi saja sangat jarang,” ucapnya.

Beberapa kawasan sudah mulai bisa panen padi 3 kali dalam satu tahun itu dengan catatan kebutuhan airnya terpenuhi dengan baik. Diantaranya di sebagian Patuk dan sebagian Semin, Ponjong, dan Karangmojo. Pemberian stimulan bantuan juga diberikan dalam beragam bentuk.

“Kalau untuk target tahun 2021 tentu harus ada peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2020, meskipun hanya sedikit,” tutupnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler