fbpx
Connect with us

Sosial

Warga Ramai-ramai Jual Ternak Hanya Untuk Beli Air

Diterbitkan

pada

BDG

Panggang,(pidjar.com)– Ditengah gegap gempita perayaan hari jadi Kabupaten Gunungkidul ke-192 nyatanya di Gunungkidul masih menyimpan persoalan kekeringan yang tak kunjung dituntaskan. Bahkan, di awal musim kemarau saat ini warga di Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang mulai menjual hewan ternaknya untuk membeli air bersih guna mencukupi kebutuhannya.

Sekitar dua bulan terakhir, sebagian warga Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang kesulitan dalam memperoleh air bersih. Tidak turunnya hujan di wilayah tersebut membuat bak penampungan air hujan milik watga mengering. Selain keterbatasan sumber air, pipa pam yang berada di wilayah setempat juga belum berjalan optimal karena belum bisa menjangkau seluruh kawasan terutama di kawasan tinggi.

Alhasil, warga mau tidak mau harus membeli air tangki berkapasitas lima ribu liter seharga Rp.150 ribu untuk mencukupi kebutuhannya. Bahkan tak jarang warga rela menjual hewan ternaknya untuk membeli air, seperti yang dialami oleh warga Padukuhan Temuireng, Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang, Budi Harjo.

Berita Lainnya  Diisolasi, 6 Anggota Keluarga Pasien Positif Corona Tak Diperbolehkan Keluar Rumah

Ia mengatakan sulitnya mendapatkan air sudah dirasakan sejak akhir bulan Maret lalu. Untuk mencukupi kebutuhan air di keluarganya, ia harus membeli air tangki dari penyedia di wilayah setempat. Sejauh ini, ia mengaku sudah tiga kali membeli air tangki kapasitas lima ribu liter dengan harga Rp. 150 ribu per tangkinya. Hal itu diperparah dengan belum adanya hasil panen yang memaksanga menjual kambing dan ayam yang ia pelihata untuk membeli air.

“Ya dijual hewannya untuk beli air, rasanya ya berat,” ucap Budi Harjo.

Setiap kali membeli air tangki, biasanya ia habiskan dalam kurun waktu sekitar 20 hari sampai 30 hari. Disebutnya kebutuhan air di keluarganya semakin tinggi apabila memiliki hewan ternak, karena mau tidak mau harus mengalokasikan air yang ia beli untuk minum ternak. Selama ini ia dan warga lainnya mengandalkan bak penampungan air sebagai sumber air di rumah tangga.

Berita Lainnya  Puluhan Kejadian Kebakaran Pada 2021, Mayoritas Dipicu Kelalaian Korban

“Kalau pipa PDAM sebenarnya sudah ada di Kalurahan Girisuko tapi belum bisa menjangkau semua tempat,” imbuhnya.

Ia hanya bisa berharap pipanisasi yang ada bisa dijalankan dengan optimal sehingga bisa menjangkau semua tempat di Kalurahan Girisuko. Terlebih, rumah yang ia tinggali berada di perbukitan yang selama ini belum terjangkau pipa untuk dialiri air.

“Pas pesan air itu belum tentu langsung datang, kadang harus nunggu tiga hari baru datang. Ya itu mungkin karena penyedianya lagi banyak pesanan jadi antri,” ujar Budi Harjo.

Sebelumnya, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Purwono memprediksi pada musim kemarau tahun ini wilayah yang terdampak kekeringan akan semakin luas. Dari kajian yang dilakukan, setidaknya terdapat 11 Kapanewon yang berpotensi terdampak kekeringan tahun ini. Lantaran musim kemarau diprediksi akan berlangsung lebih panjang, ia menghimbau agar masyarakat yang berada di wilayah rawan kekeringan dapat lebih bijak dalam menggunakan air.

Berita Lainnya  Pasrah Lahannya Diamuk Kera Liar, Warga Putat Pilih Libur Bertani

“Tahun 2022 ada tujuh Kapanewon yang terdampak, tahun ini diperkirakan meluas menjadi sebelas Kapanewon. Itu karena menurut BMKG sebagai dampak dari fenomena el nino,” tutup Kepala BPBD Gunungkidul Purwono.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler