fbpx
Connect with us

Sosial

Belajar Dari Insiden Kelangkaan Oksigen Saat Covid19 Mengganas Juli Lalu

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Oksigen sempat menjadi barang yang langka pada saat kasus covid19 melonjak tajam medio Juli 2021 silam. Rumah sakit sulit mendapatkan pasokan oksigen dari para distributor. Begitu pula dengan sejumlah pasien isolasi mandiri yang juga sangat sulit mendapatkan barang satu ini. Dampaknya sendiri cukup fatal lantaran saat itu, hampir seluruh rumah sakit dalam kondisi penuh oleh pasien covid19. Seperti yang diketahui, dengan karakteristik covid19 yang menyerang paru-paru, oksigen merupakan kebutuhan penting bagi pasien. Berkaca pada kondisi ini, maka perlu adanya sebuah langkah konkrit agar insiden krisis oksigen bagi pasien covid19 maupun pasien penyakit jenis lainnya tak kembali terulang demi keselamatan.

Direktur RSUD Saptosari, dr. Eko Darmawan memaparkan, pada saat covid melonjak drastis berbarengan dengan melambungnya kebutuhan oksigen medis. Hal ini kemudian berdampak pada minimnya stok oksigen di kalangan distributor. Bahkan, pihak rumah sakit memiliki tugas baru untuk terus mencari penyedia oksigen guna memenuhi kebutuhan para pasien setiap harinya.

Dalam kasus covid, oksigen sendiri diakuinya merupakan salah satu kebutuhan utama. Menurutnya, saturasi normal berkisar 96 sampai 100 persen, jika kurang dari jumlah tersebut potensi yang terjadi adalah hipoksia atau kekurangan oksigen. Lebih baik jika saturasi turun kemudian pasien isoman dibawa ke faskes yang lebih lengkap peralatannya. Keterlambatan penanganan sendiri akan berakibat cukup fatal.

“Kita sempat mengalami stok minim sekali dalam ketersediaan oksigen,” ucap Eko, Senin (16/08/2021).

Adanya insiden kesulitan dalam mencari stok oksigen medis ini kemudian menjadi pelajaran bagi jajarannya. Untuk mengantisipasi hal ini kembali terjadi, maka pemerintah dan RSUD Saptosari menyepakati adanya pembuatan instalasi generator oksigen. Menurut Eko, saat ini instalasi ini masih dalam proses pengerjaan.

“Sudah mulai proses pembuatan instalasi generator oksigen ini, pada minggu pertama kemarin pekerjaan sudah dilakukan 30 sampai 40 persen. Kita sudah instruksikan melakukan percepatan agar pembangunannya segera selesai pada bulan depan sehingga sesuai dengan schedule yang telah dibuat,” katanya.

Adapun generator ini nantinya bisa memproduksi oksigen sampai 200 LPM. Meski untuk saat ini pemenuhan kebutuhan oksigen masih tercukupi dengan baik namun dengan adanya generator yang segera difungsikan ini, ke depan pihak RSUD Saptosari tak akan khawatir berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan.

“Saat ini untuk kebutuhan oksigen tercukupi dengan bantuan oksigen concentrator dari Kementerian Kesehatan yang berjumlah lebih dari 20 unit,” jelasnya.

Sementara itu, praktisi fasilitas kesehatan, Aris Suryanto memaparkan fasilitas kesehatan di Gunungkidul seharusnya tidak lagi bergantung dengan pabrik untuk pemenuhan kebutuhan oksigen bagi pasien rumah sakit. Fasilitas kesehatan harus memiliki kemandirian atas pemenuhan kebutuhan oksigen dengan cara memproduksi sendiri menggunakan generator.

Sehingga kemudian, tidak terjadi kejadian kesulitan mendapatkan oksigen yang dialami oleh rumah sakit. Adanya kelangkaan oksigen bagi rumah sakit menurutnya bisa berdampak sangat fatal terutama dalam kondisi sekarang ini.

Menurutnya, pemenuhan kebutuhan oksigen secara mandiri ini bisa dilaksanakan oleh masing-masing fasilitas kesehatan. Hal ini lantaran untuk pembuatan generator ini tidak memerlukan biaya yang sangat besar.

“Harusnya memang setiap faskes memiliki instalasi generator, jadi jika butuh tinggal memanfaatkan yang ada. Kalau kekurangan, baru mencari back up suplai dari distributor,” kata Aris Suryanto yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Ada beberapa kekurangan yang terjadi jika fasilitas kesehatan masih bergantung dengan pabrik dalam hal pemenuhan oksigen. Mulai dari kapasitas produksi yang terbatas, jarak distribusi yang jauh antara pabrik dengan fasilitas kesehatan maupun yang lainnya. Jika memiliki tempat pembuatan secara mandiri pastinya akan sangat memudahkan dalam pemenuhan kebutuhan.

Yang terpenting dalam hal pemenuhan oksigen secara mandiri bagi fasilitas kesehatan adalah ketersediaan udara bebas dan listrik yang mumpuni sehingga semua akan mudah terpenuhi. Untuk mengurangi polusi udara agar kondisinya tetap bagus, tentu perlu dilakukan penghijauan di setiap sudut fasilitas kesehatan. Sehingga udara bebas yang digunakan untuk bahan baku pembuatan oksigen medis ini kualitasnya bisa bagus. Semakin baik kualitas udara yang tersedia maka purity gas medis yang dihasilkan akan semakin tinggi.

“Sebenarnya tidak membutuhkan biaya yang besar juga kok, tergantung kapasitasnya. Kalau yang paling kecil hanya membutuhkan biaya 1,5 miliar rupiah,” jelasnya.

Pola kerja dari generator ini adalah udara bebas diambil kemudian dimasukkan ke filter lalu diolah dengan generator dan menjadi gas medis yang siap disalurkan ke jaringan layanan gas medis sentral atau diisikan ke tabung-tabung oksigen. Dengan penyediaan mandiri, pastinya akan mengurangi beban keuangan yang digunakan untuk pengadaan oksigen.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler