Sosial
Semarak HUT RI ke-76 di Kalangan Masyarakat, Dari Upacara di Kali Hingga Pinggir Jalan
Nglipar,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, selalu banyak yang berbeda dilakukan oleh masyarakat untuk menghormati perjuangan para pahlawan. Pada tahun ini, perayaan HUT RI memang tak sesemarak pada tahun-tahun sebelum pandemi melanda. Namun kemudian, situasi pandemi tidak menyurutkan semangat masyarakat dalam berkegiatan. Selasa (17/08/2021) pagi tadi, beberapa kalangan masyarakat menggelar upacara bendera di sejumlah titik.
Salah satu yang menarik perhatian manakala beberapa orang menyelenggarakan upacara di kawasan Kali Oya atau Sungai Oya. Beberapa perwakilan dari 18 Kapanewon yang tergabung dalam komunitas Sunaryanta Bersatu mengadakan upacara di Kali Oya yang terletak di perbatasan Kalurahan Karangtengah, Kapanewon Wonosari dengan Kalurahan Kedungkeris, Kapanewon Nglipar.
Sejak pagi tadi para peserta upacara ini bersiap di Kali Oya menggunakan baju adat berwarna merah dan jarik berwarna putih. Sekitar pukul 09.45 WIB tadi upacara mulai diselenggarakan. Tak hanya di pinggiran Kali Oya, akan tetapi para peserta ini bahkan sampai masuk ke air. Seperti upacara pada umumnya, prosesi upacara sendiri cukup lengkap, mulai dari pengibaran bendera sampai pada pembacaan Pancasila, Teks Proklamasi dan Undang-Undang Dasar 1945.
Upacara ini berjalan cukup khitmad, warga yang datang untuk menyaksikan pun juga turut larut dalam setiap kegiatan. Bahkan saat Indonesia Raya dikumandangkan, warga yang menonton ini juga berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan tersebut.
Koordinator kegiatan, Joni Santoso mengatakan, kegiatan ini sebagai bentuk partisipasi komunitasnya dalam menyemarakkan HUT RI ke 76. Di tengah pandemi, pastinya tidak banyak kegiatan yang bisa diselenggarakan. Maka dari itu ia bersama teman-teman yang tergabung dalam SB ini menyelenggarakan upacara perayaan secara sederhana. Kegiatan tersebut juga sebagai sarana untuk berkumpul bagi teman-teman komunitasnya untuk memperingati HUT RI.
“Pada intinya kami ingin turut menyemarakkan HUT RI ke 76,” kata Joni Santoso.
Dipilihnya kali Oya sendiri karena lokasinya merupakan alam bebas. Meski demikian, jarak dan protokol kesehatan tetap dilakukan, kegiatan semacam ini bisa menjadi contoh untuk generasi muda dan menumbuhkan nasionalisme.
“Semangat perjuangan harus selalu ada dibenak kita. Cinta Tanah Air dan Negeri kita, begitu pula dengan potensi kekayaan alam yang dimiliki,” imbuh dia.
Sementara itu, salah seorang peserta, Yustina Ari mengatakan ini menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa. Semangat teman-temannya untuk menyemarakkan HUT RI tumbuh dengan sendirinya. Ia berharap kegiatan kecil yang dilakukan bisa semakin merekatkan persaudaraan dan menjadi contoh semua kalangan.
“Kebersamaan yang utama. Ini menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa,” ucapnya.

Upacara di aliran Sungai Oya juga dilakukan oleh PAC Anshor, Satkoryon Banser Kapanewon Playen, Ranting NU Banyusoco. Sebanyak 76 orang anggota PAC Ansor mengadakan upacara di Sungai Oyo, Banyusoca. Mereka berseragam lengkap dan melaksanakan ucapacara dengan serius.

Memperingati HUT RI ini komunitas Pariwisata Ayam Negeri atau sopir-sopir kendaraan pengangkut ayam juga mengadakan acara sederhana. Di pinggir jalan Gading-Ngalang, tepatnya di sebelah Lanud Gading, puluhan sopir ini mengadakan upacara bendera pula.
“Kami sudah 2 tahun ini menyelenggarakan upacara saat peringatan 17 Agustus. Ini sebagai bentuk kecintaan kami terhadap tanah air. Meski belum bisa berbuat banyak, setidaknya kami berpartisipasi dan Garuda serta Indonesia selalu di hati,” ucap Eko Santoso, Ketua Komunitas Pariwisata Ayam Negeri.
Upacara sederhana ini diikuti oleh puluhan sopir dari wilayah Gunungkidul, Bantul, Jogja, dan Klaten. Menurutnya, ini merupakan itikad pihaknya untuk menjaga semangat dan semarak HUT RI. Di samping itu juga menepis pandangan miring masyarakat terhadap sopir kendaraan ayam.
“Banyak yang beranggapan jika sopir itu ugal-ugalan. Kami tegaskan itu hanya oknum, misalpun kami ini melaju dengan kecepatan tinggi pasti ada alasannya. Tapi sebisa mungkin kami menjaga keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya,” kata Eko.
“Kita akan gelar setiap tahun mudah-mudahan selalu lancar dan ada kegiatan sosial. Untuk tahun ini setelah upacara kami akan keliling sebentar,” tutupnya.
-
Uncategorized4 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized5 hari yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized4 minggu yang laluPeduli Kekeringan, GUBUK dan DWP BRIN Salurkan 37 Tangki Air Bersih untuk Warga Gunungkidul
-
Uncategorized1 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
