fbpx
Connect with us

Sosial

Jeritan Para Agen Bus Yang Kiosnya Dipersempit di Tengah Terminal Dhaksinarga Yang Semakin Sepi

Diterbitkan

pada

BDG

Wonosari,(pidjar.com)--Program rehabilitasi terminal tipe A Dhaksinarga di tahun 2018 akan segera dilaksanakan. Dalam program tersebut, pemerintah akan melakukan penataan ulang sejumlah kios yang berada di dalam Terminal Dhaksinarga Wonosari. Mulai Senin (01/10/2018) depan, proses penataan akan dimulai.

Rencana penataan kios ini menimbulkan polemik tersendiri bagi sejumlah agen yang akan direlokasi dari kios yang sebelumnya mereka tempati. Kurangnya sosialisasi serta perencanaan yang matang terkait pelaksanaan penataan memicu penolakan dari para penghuni kios.

Ketua Organisasi Bus Malam (Bisma) Wonosari, Agustinus Sujatmo mengatakan, proyek tersebut dianggapnya sangat mendadak. Tidak ada sosialisasi terlebih dahulu yang diberikan oleh pemerintah kepada para agen bus ataupun penghuni lainnya yang biasa menggantungkan nasib di Terminal Dhaksinarga Wonosari. Bahkan dalam prosesnya yang ternyata telah terhitung sejak beberapa bulan lalu, para agen menurut Agus tidak mengetahui sehingga tidak ada komunikasi terkait program tersebut.

Padahal dalam penggarapannya nanti, proses penataan ini akan berdampak pada puluhan agen yang beroperasi di terminal. Mereka akan direlokasi ke tempat sementara selama 3 bulan, dan kemudian akan dipindahkan ke tempat baru yang sedang akan memasuki proses pembangunan.

Kurangnya koordinasi tersebut membuat geram para agen yang merasa tidak dilibatkan dalam proses rembukan. Sehingga kemudian pada saat ini program yang akan segera dieksekusi, tidak sesuai dengan keinginan para agen.

Berita Lainnya  Surat Pernyataan Miskin Kontroversial, Dinas Sosial: Karena Banyak Warga Mampu Malah Cari Bantuan Pemerintah

“Tanpa ada apa-apa, tahu-tahu sudah keluar surat pemberitahuan akan ada penataan,” keluh Agus, Sabtu (29/09/2018) siang.

Program pusat itu rencananya akan merombak tata kelola kios-kios di dalam Terminal Dhaksinarga Wonosari menjadi sistem zonasi. Di mana kios para agen yang sekarang berada di depan pintu masuk itu akan dialihfungsikan. Kemudian agen bus akan dipindahkan di lokasi sebelah selatan gedung dan akan dibuatkan loket-loket penjualan. Agus sendiri mengeluhkan hal ini lantaran akan membuat para agen tidak dapat leluasa bertransaksi.

“Ada tekanan dari teman-teman kalau program ini kurang sosialisasi, kita tidak tahu arahnya dan bagaimana ke depan,” ucapnya.

Penataan ini pun dianggap para agen juga semakin dibuat rugi. Pasalnya mereka tidak memiliki keleluasaan. Jangankan bertransaksi, untuk bergerak pun juga begitu sulit. Dengan dana ratusan juta yang akan digelontorkan, namun para agen hanya akan disediakan loket dengan ukuran 110 cm x 175 cm.

“Ada gejolak memang tapi apalah daya kami. Peraturan sudah dibuat, dan Senin depan sudah mulai pelaksanaan program. Yang kami sesalkan kenapa sosialisasinya mendadak dan kita tidak dilibatkan dalam menyampaikan aspirasi, tau-tau sudah mau operasi terus dikumpulkan. Kan aneh,” urainya.

Meski terdapat polemik dan sangkal menyangkal pendapat, namun pada akhirnya para agen sedikit menerima. Jika nantinya kebijakan tersebut akan memperbaiki pola kelola dan perputaran layaknya Terminal Tipe A pada umumnya ini dianggap tidak sesuai dan merugikan para agen, tentu akan ada tindakan lainnya. Ia mengancam bahwa jika terus dipersulit seperti ini, para agen akan hengkang dari terminal dan membuat kios di luaran.

Bagian depan Terminal Dhaksinarga Wonosari

Sementara itu, Koordinator Terminal Dhaksinarga Wonosari, Edy Lestari menjelaskan, program ini memang telah dikoordinasikan sejak beberapa bulan lalu. Dari petugas terminal pun telah dipanggil ke pusat untuk membicarakan proyek penataan ulang Terminal Dhaksinarga Wonosari. Namun demikian, sosialisasi memang baru dilakukan sekarang. Hal ini lantaran, surat keputusan terkait pelaksanaan proyek ini baru diterima pada 24 September 2018 lalu.

Berita Lainnya  Telaga Kering, Warga Saptosari Terpaksa Beli Air

“Ya dari pusat kan ada kebijakan dan langkah tersendiri. Tanggal 24 kami terima, sekarang kami kumpulkan dan Senin depan sudah penggarapan,” tambah dia.

Disinggung mengenai besaran dana yang akan diterima dalam proses penggarapan proyek besar-besaran ini, Edy enggan menjawab, ia menganggap jika yang berkaitan dengan dana dan teknis merupakan kebijakan dari pusat dan ada pula dari petugas di Jogja. Ketugasannya hanya sebatas mengkondisikan yang ada di Terminal Dhaksinarga. Dirinya tidak memungkiri jika pro dan kontra memang ada terkait pelaksanaan proyek ini.

Edy menegaskan bahwa keputusan telah resmi dibuat. Mau tidak mau, tentunya para agen harus menerima keputusan tersebut. Proyek ini sendiri akan dilakukan secara bertahap. Nantinya semua akan diberlakukan sistem zonasi untuk para agen. Pada tahun 2018 ini, dilakukan proyek relokasi loketing para agen. Kemudian di tahun anggaran selanjutnya, Edy mengaku masih belum mengetahui apa yang akan digarap lagi.

Berita Lainnya  Harga Tanah di Sisi Selatan Gunungkidul Naik 6 Kali Lipat

“Besaran dana saya tidak bisa ngomong. Ratusan juta lebih, bukan wewenang saya. Silahkan datang saja ke Jogja. Segala keluh kesah agen tadi saya tampung, tapi tentu kalau kebijakan itu sulit diubah ada hitungan tersendiri,” ucap dia.

Menurutnya dengan adanya program semacam ini justru akan menghidupkan kembali geliat di Terminal Dhaksinarga Wonosari. Akan tetapi ada fakta di lapangan, Terminal Dhaksinarga Wonosari memang setiap harinya sangat sepi. Tidak begitu banyak aktifitas yang terjadi di terminal terbesar di Gunungkidul tersebut.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler