fbpx
Connect with us

Sosial

Masih Banyak Kekerasan Pada Perempuan, Label Perempuan Lebih Lemah Jadi Faktor Utama

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Hari Perempuan Internasional dirayakan di berbagai negara tak terkecuali di Indonesia pada Kamis (08/03/2018) ini. Adapun tujuan utama adanya perayaan ini adalah untuk mencapai kesetaraan gender secara utuh oleh seluruh perempuan yang ada di dunia.

Dikatakan oleh Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DP3KBPMD) Gunungkidul, Rumi Hayati, perayaan Hari Perempuan Internasional ini sebagai upaya dalam meningkatkan martabat perempuan yang selama ini masih dianggap rendah.

“Masih sangat banyak yang berpandangan bahwa perempuan itu lemah, perempuan itu dibawahnya laki-laki. Sehingga perempuan sering diperlakukan semena-mena,” kata Rumi.

Pandangan seperti itu yang menurutnya masih banyak kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi. Oleh sebab itu, tujuan perayaan Hari Perempuan Internasional yang digaungkan sejak puluhan tahun lamanya belum tercapai hingga saat ini.

Seperti data yang dimiliki DP3KBPMD Kabupaten Gunungkidul, tahun 2017 sebanyak 12 perempuan mengalami kekerasan baik fisik, psikis, dan seksual. Jumlah tersebut adalah korban kekerasan yang melapor kepada Dinas. Rumi tak menampik, masih banyak perempuan di luar sana yang mengalami kekerasan namun tidak berani melaporkan.

“Kami tidak bisa mengatakan jumlah tersebut tinggi atau rendah. Karena bisa saja di data kami rendah, tapi di luar sana yang tidak melapor tinggi. Saya yakin masih banyak perempuan yang mengalami kekerasan tapi tidak berani lapor,” terang dia.

Adapun dari data tersebut, Rumi mengklaim bahwa jumlah laporan kekerasan yang masuk dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Seperti contoh, di tahun 2015 kekerasan terhadap perempuan mencapai angka 24 kasus. Sedangkan tahun 2016 ada 22 kasus kekerasan yang masuk.

“Tahun 2017 paling dominan kekerasan seksual yang diterima perempuan. Jumlahnya ada 5 kasus. Sedangkan untuk kekerasan fisik ada 3 kasus dan psikis 4 kasus,” ucap dia.

Lebih lanjut ia memaparkan, alasan perempuan masih menjadi korban kekerasan lantaran pandangan orang yang menganggapnya lemah. Atas dasar lemah itulah, perempuan sering mendapat perlakuan tak mengenakan karena dianggap tidak bisa melawan laki-laki yang lebih kuat.

Selain itu, faktor lain karena pernikahan yang terlalu dini. Ketika anak masih memiliki emosi yang labil namun dinikahkan, bisa memunculkan adanya pertengkaran hingga berujung kekerasan. Dalam rumah tangga, kuatnya kuasa patriarki dan relasi kuasa antara laki-laki dengan perempuan masih sangat mengental dan membudaya hingga terjadilah kekerasan tersebut.

“Tingginya angka perkawinan anak merupakan hulu dari sejumlah permasalahan, mulai dari putus sekolah, menurunnya derajat kesehatan perempuan hingga kekerasan dalam rumah tangga,” tutur Rumi.

Meski begitu, baginya kesetaraan gender di Gunungkidul masih terbilang cukup bagus. Di dunia politik misalnya, perempuan telah diperlakukan setara. Mereka juga telah dilibatkan dalam berdemokrasi, segala macam kegiatan desa, berpartisipasi dalam meningkatkan tren kepariwisataan Gunungkidul. Selain itu, perempuan disini juga dianggap telah berpartisipasi cukup bagus dalam dunia pendidikan.

“Di lingkup politik kita lihat pemimpin daerahnya Bu Badingah seorang perempuan,” imbuh Rumi.

Namun, ia menilai pemberdayaan terhadap perempuan juga tetap harus ditingkatkan. Hal ini supaya perempuan tidak dianggap remeh oleh laki-laki sehingga tidak lagi diperlakukan seenaknya. Dengan melakukan pemberdayaan perempuan ini, dianggap Rumi sebagai jalan satu-satunya agar tidak terjadi kesenjangan gender.

“Susah mengubah pandangan orang tentang kesetaraan gender. Dengan adanya pemberdayaan perempuan, saya rasa itu cara satu-satunya agar perempuan tidak lagi dianggap sebelah mata,” pungkasnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler