fbpx
Connect with us

Sosial

Pelaksana Proyek Pembangunan Jalan Gading-Ngalang Mangkir Bangun Selokan, Warga Protes

Diterbitkan

pada tanggal

Playen,(pidjar.com)–Proses pembangunan jalan alternatif Gading-Ngalang yang saat ini tengah dilakukan kembali menimbulkan polemik di kalangan masyarakat. Setelah beberapa waktu lalu, warga setempat dan wali murid di sekolah dasar mengeluhkan debu yang mengganggu aktifitas belajar mengajar siswa, kali ini giliran masyarakat mengeluhkan tidak dibangunnya saluran air di samping kanan dan kiri jalan. Warga khawatir nantinya jika tidak dibangun selokan, akan memicu banjir di kawasan itu mengingat musim penghujan segera tiba.

Salah seorang tokoh masyarakat Desa Gading, Kecamatan Playen, Pardiyo mengatakan sejak pembangunan awal jalan alternatif Gading-Ngalang, warga Padukuhan Gading VIII mulai berkeluh kesah mengenai tidak adanya saluran air atau selokan di kanan dan kiri jalan. Padahal dalam sosialisasi yang dilakukan oleh pihak terkait, dalam proses pembangunan jalan ini juga akan dilakukan pembangunan selokan.

“Dulu kan di samping kanan dan kiri jalan ada selokannya. Pas sosialisasi juga dikasih tahu kalau kalau nanti selokan yang dibongkar akan dibangun kembali,” kata Pardiyo, Sabtu (27/10/2018).

Namun warga mulai resah lantaran hingga mendekati akhir pembangunan, saluran khususnya di simpang 3 Gading VIII hingga perempatan tugu Sudirman, ternyata tidak juga dibangun. Padahal jalan sepanjang kurang lebih 500 meter itu berdiri banyak bangunan rumah dan areal ladang milik warga Gading VI hingga Gading X.

Menyikapi kondisi ini, perwakilan warga sebenarnya telah berkeluh kesah kepada pihak pemerintah desa. Sayangnya hingga saat ini belum juga ada tindak lanjut dari pengelola proyek yang justru seolah mengacuhkan keluhan warga. Beranjak dari situ, warga kemudian juga berupaya mempertanyakan penyelenggaraan pembangunan.

Berita Lainnya  Luka Parah Usai Diseruduk Mobil, Pemotor Akhirnya Tewas

“Saya juga sudah hubungi pihak DPUPR KP Gunungkidul yang katanya adalah petugas pendamping pembangunan jalan. Tiga kali saya hubungi melalui Whatsapp, mengenai keluhan kami. Namun tidak ada tindak lanjut atau pemberian solusi, pesan saya hanya dibaca saja,” imbuh dia.

Kondisi seperti ini menurut Pardiyo sangatlah mendesak, pasalnya saat ini mendekati musim penghujan. Jika tidak ada saluran air maka banjir dipastikan di wilayah tersebut akan terjadi banjir. Pasalnya saat musim penghujan tahun lalu, sempat terjadi banjir di jalur ini meski telah memiliki saluran air yang terbilang memadai yang saat ini dibongkar untuk pembangunan jalan.

Warga Gading menggelar pertemuan untuk membahas langkah protes

Sama dengan yang diungkapkan Pardiyo, Ridha yang juga warga setempat juga mengeluh jika nantinya tidak segera dibangun saluran air bukan tidak mungkin justru pemukiman dan lahan pertanian milik warga akan terdampak banjir. Ridha sendiri mengaku sempat mendatangi pihak penyelenggara pembangunan, namun sama halnya dengan yang dirasakan oleh warga lainnya, protes tersebut hanya diacuhkan saja.

“Sempat ada ngobrol-ngobrol dengan Bhabinkamtibmas, perangkat desa dan penyelenggara beberapa waktu lalu, ada penawaran dibuat sidatan tapi pembuangan terakhir ke ladang warga. Menurut saya itu bukan solusi, karena justru menimbulkan permasalahan baru,” ucap dia.

Jalan sepanjang kurang lebih 500 meter yang dibangun tepat didepan rumah ibunya itu terlihat datar namun sebenarnya sedikit menanjak dibandingkan dengan permukaan jalan lainnya. Jika tidak dibangun selokan tentu air akan mengalir ke pinggir dan langsung ke pemukiman. Terlebih pembangunan jalan alternatif itu menaikkan jalan beberapa centimeter dibandingkan jalan sebelumnya.

Berita Lainnya  Ratusan Jamaah Haji Gunungkidul Akan Mulai Diberangkatkan Jumat Depan, Bakal Lebih Lama di Tanah Suci

Beberapa titik sebenarnya ada pembangunan saluran layaknya huruf U, namun ternyata tidak memanjang hingga habis ke ujung pembangunan jalan. Bahkan ada pula yang tertutup dengan pembangunan talut.

“Ada pembangunan selokan tapi itu di sepanjang perempatan ke arah utara hingga ke arah Ngalang. Sementara yang di kami sampai ke tugu Sudirman tidak ada selokan. Hanya dibangun talut itu sama saja tidak berfungsi sebagai saluran air kalau menurut kami,” imbuh dia.

Kondisi yang sangat mendesak ini kemudian mendorong masyarakat untuk bergerak. Lantaran tak ada tindak lanjut, Sabtu (27/10/2010) pagi tadi sejumlah perwakilan warga berkumpul untuk melkukan koordinasi. Disepakati masyarakat akan mengirimkan surat ke beberapa lembaga di mana pembangunan ini dianggap tidak sesuai dengan janji yang telah diutarakan pada sosialisasi awal.

“Kami kirimkan ke DPU Gunungkidul dan DIY, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Daerah, serta beberapa instansi terkait lainnya,” tambah Ridha.

Ia berharap dengan adanya gerakan ini, sebelum proses pembangunan jalan rampung pada Desember mendatang juga ada solusi berkaitan dengan saluran air agar tidak berdampak pada kegiatan dan lingkungan masyarakat.

Sementara itu, pidjar.com yang berusaha untuk meminta konfirmasi dari pihak pelaksana proyek masih belum membuahkan hasil. Di lokasi proyek hanya terdapat beberapa pekerja yang tengah melakukan aktifitas bongkar muat material. Para pekerja tersebut enggan untuk memberikan keterangan.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler