fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Pemerintah Siapkan Dana Bantuan Untuk Rumah-rumah Rusak Terdampak Bencana, Begini Cara Mengaksesnya

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Fenomena La Nina diperkirakan akan terjadi hingga akhir tahun 2021 mendatang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul dan relawan kebencanaan lainnya pun menyiapkan personil mereka untuk lebih siaga dalam penanganan bilamana terjadi bencana. Di samping itu, pemerintah juga telah menyediakan anggaran untuk memberikan bantuan pembenahan bagi warga terdampak bencana. Anggaran senilai puluhan juta rupiah ini akan diberikan kepada para korban bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, pihaknya terus siaga berkaitan dengan kebencanaan. Kondisi cuaca yang sekarang ini sangat tidak menentu, di mana perubahan cuaca dapat terjadi sewaktu-waktu akibat adanya La Nina membuat potensi kebencanaan cukup besar. Terlebih sudah ada peringatan dari BMKG tentang peningkatan curah hujan dan potensi bencana yang dapat terjadi.

Selain personil untuk penanganan, pemerintah juga menyediakan anggaran untuk memberikan bantuan kepada warga terdampak bencana. Tahun ini misalnya, pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp 50.000.000 yang diperuntukkan bagi warga terdampak bencana. Rumah-rumah yang mengalami kerusakan dengan kategori sedang atau berat akan mendapatkan bantuan.

“Jadi asessment yang dilakukan oleh petugas itu menentukan bagaimana langkah pemerintah selanjutnya,” ucap Edy Basuki, Selasa (09/11/2021).

Ia beberkan lebih lanjut, adapun mekanisme jika terjadi kerusakan rumah yang masuk dalam kategori sedang atau berat, maka pemilik harus mengajukan bantuan perbaikan ke pemerintah. Nantinya pengajuan ini akan segera ditindaklanjuti dengan tahapan lanjutan.

“Memang anggarannya sangat terbatas, anggaran 50 juta itu perkiraan kami hanya cukup untuk paling tidak 10 rumah saja,” ungkap dia.

Maka dari itu, assesment yang dilakukan harus benar-benar tepat dalam menentukan kategori kerusakan yang terjadi. Apakah masuk ringan, sedang, atau berat. Menurutnya jika anggaran masih mencukupi dan ada permintaan dari warga, pemerintah akan menindaklanjuti dengan pemberian bantuan tersebut.

Pada kondisi sekarang ini, petugas dan relawan disiagakan untuk bergerak cepat dalam melakukan penanganan bencana. Hujan deras yang hampir setiap hari terjadi membuat potensi bencana yang terjadi cukup besar. Seperti pada Minggu sore, sebuah dapur rusak karena tertimpa pohon tumbang, belum lagi kejadian beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut ia menjelaskan, pemetaan daerah rawan bencana telah dilakukan. Di mana zona utara masuk kategori daerah rawan longsor, sisi selatan dan tengah masuk kategori rawan genangan air atau banjir. Kondisi geografis yang seperti ini kemudian disikapi dengan dibentuknya Desa Tangguh Bencana (Destana) yang mana dari ujung Purwosari sampai dengan ujung Girisubo sudah dibentuk. Juga untuk kawasan utara juga sudah. Namun demikian, masing-masing Destana ini belum terfasilitasi dengan optimal.

Sebagai contohnya, Edy mengatakan bahwa berkaitan dengan peralatan tentang kebencanaan belum ada. Hanya sekedar sosialisasi dan bagaimana cara-cara evakuasi yang seharusnya dilakukan manakala ada bencana yang terjadi.

Destana ini dibentuk dengan tujuan peningkatan kapasitas pemerintah kalurahan, jajaran, dan masyarakat sehingga mampu mengkaji, menganalisa, menangani, memantau, mengevaluasi dan mengurangi resiko-resiko bencana yang ada di wilayah masing-masing.

“Untuk peralatan ini masih minim. Di Destana ini belum ada peralatan yang memadai,” tutupnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler