fbpx
Connect with us

Sosial

Titir Kentongan dan Gejog Lesung Ramaikan Malam Gerhana di Bejiharjo

Diterbitkan

pada

BDG

Karangmojo,(pidjar.com)–Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo menjadi kawasan paling semarak dalam menyambut Super Blue Blood Moon atau gerhana bulan pada Rabu (31/01/2018) malam tadi. Sejumlah bunyi-bunyian ditabuh oleh warga masyarakat setempat selama prosesi gerhana bulan berlangsung. Tradisi semacam ini merupakan tradisi yang telah dilakukan secara turun temurun oleh warga masyarakat khususnya di Padukuhan Gelaran I, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo. Bunyi kentongan dan sayup-sayup bunyi kesenian gejog lesung saling bersahutan pada Kamis malam tadi.

Gerhana bulan yang tak terlalu terlihat karena tertutup awan tak membuat antusiasme warga berkurang dalam mengeluarkan bunyi-bunyian tersebut. Belasan warga berkumpul di kediaman Rismanto untuk membunyikan lesung. Warga juga melantunkan shalawat sebagai bentuk meminta berkah kepada Yang Maha Kuasa serta disusul dengan bersama-sama menyanyikan lagu-lagu jawa seperti Gundul-gundul Pacul dan yang lainnya. Seluruh prosesi tersebut dilakukan setelah warga menggelar Sholat Gerhana.

Berita Lainnya  Fasilitas Publik Masih Belum Ramah, Kaum Disabilitas Keluhkan Sampai Harus Jumatan di Luar Masjid

Salah seorang sesepuh Desa Bejiharjo, Tukijo menuturkan, tradisi ini dilakukan setiap kali terjadi gerhana baik matahari maupun bulan. Berdasarkan kepercayaan yang diberikan nenek moyang, gerhana dipercaya terjadi karena ada Buto (raksasa) yang memakan sumber cahaya tersebut. Dengan membunyikan alat-alat tersebut, warga percaya bahwa nantinya sang raksasa akan kembali memuntahkan matahari maupun bulan sehingga bisa kembali memancarkan sinar.

“Memukul kentongannya sendiri juga tidak dilakukan secara asal. Kentongan dipukul secara terus menerus atau biasa disebut titir,” ucap pria yang akrab disapa Mbah Jo ini, Rabu malam.

Selain membunyikan kentongan serta lesung, ada pula tradisi unik lainnya yang masih terus dipelihara oleh masyarakat Padukuhan Gelaran saat terjadi gerhana. Biasanya seluruh wanita hamil diwajibkan untuk bersembunyi di bawah tempat tidur. Warga percaya jika hal tersebut tidak dilakukan, akan menimbulkan cacat pada bayi yang dikandung. Tak hanya itu, setelah gerhana usai, perut ibu hamil juga dioleskan abu hangat yang berasal dari perapian dapur. Pengolesan abu perapian juga dilakukan kepada hewan-hewan ternak yang dimiliki warga.

Berita Lainnya  Perayaan Natal 2021, Gereja Ajak Umat Jalin Persaudaraan Sejati Dengan Seluruh Ciptaan di Bumi

“Biasanya saat mengoleskan abu tersebut, sembari mengucap ojo kaget yo jabang bayi (jangan kaget ya jabang bayi),” ucap dia.

Sementara Kepala Dukuh Gelaran I, Husain Pamungkas menambahkan, tradisi ini seiring dengan berkembangnya zaman serta ilmu pengetahuan memang telah banyak ditinggalkan. Namun begitu, pihaknya sengaja masih terus menghidupkan tradisi ini, selain untuk menghormati nenek moyang juga menjalin kebersamaan serta keakraban diantara warga. Memang dalam prosesi semacam ini, warga bisa saling berinteraksi secara langsung serat saling bersama dalam mengusir bala.

“Terlepas dari kepercayaan mengenai cerita adanya raksasa yang memakan bulan atau matahari saat terjadi gerhana, kami ingin melestarikan tradisi,” ucap dia.

Ratusan Anggota Polres Gunungkidul Ikuti Shalat Gerhana

Suasana lain mewarnai Mapolres Gunungkidul saat terjadinya gerhana bulan pada Rabu malam tadi. Ratusan anggota kepolisian dikumpulkan di Mapolres untuk melakukan Sholat Gerhana atau Sholat Khusuf. Meski terjadinya gerhana bulan tak terlalu terlihat, namun tak menghalangi kekhusukan sekitar 150 anggota polisi yang dipimpin langsung oleh Kapolres AKBP Ahmad Fuady dalam melakukan ibadah tersebut.

Berita Lainnya  Peringati Hari Disabilitas, Kaum Difabel Gunungkidul Minta Diberdayakan di Bidang Ekonomi

Ditemui seusai acara, AKBP Ahmad Fuady mengatakan bahwa sholat gerhana ini merupakan ibadah bagi umat Muslim. Selain itu, ia juga berharap nantinya dengan digelarnya Sholat Gerhana ini anggota Polres Gunungkidul bisa lebih memiliki akhlak yang baik serta mau lebih dekat dengan sang pencipta.

“Pointnya adalah nantinya kita ingin dengan akhlak yang baik itu, anggota akan bisa lebih amanah dalam tugasnya melayani masyarakat,” papar Kapolres.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler