fbpx
Connect with us

Sosial

Tradisi Kuat Pande Besi Kajar, Dari Cari Empu Hingga Rutin Sesaji

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Aktivitas di rumah Bambang Heru Setyo (39) warga Kajar I, Karangtengah, Wonosari cukup bising pada Jumat (12/10/2021) siang. Ketika memasuki rumahnya, berceceran besi yang berjumlah cukup banyak. Percikan bara api dan suara tempaan-tempaan untuk membentuk berbagai jenis peralatan senjata tajam maupun peralatan lain dari besi sangat kental di ruangan yang berukuran tak lebih 50 meter persegi tersebut.

Para penimpa cangkul yang kebanyakan berusia paruh baya terlihat cukup kuat memukuli bahan baku menggunakan palu besar yang tentunya cukup berat. Sementara sang empu memanggang bagian besi agar elemen besi bisa empuk dan mudah dibentuk.

Di dekat panggangan cangkul, percikan bara api terlihat jelas karena blower terus berputar yang membuat kobaran api semakin besar. Ditambah, besi cangkul yang dipanggang berwarna seperti arang.

“Kalau tidak lama manggangnya nanti susah dibentuk, jadi patokan kalau empuk itu warnanya besi sampai merah seperti arang. Kalau tidak begitu berarti tidak empuk,” kata Bambang saat dikunjungi pidjar.com.

Di rumah Bambang yang sekaligus juga merupakan rumah produksi ini, beraktifitas sejumlah total 22 karyawan. Namun para pekerja ini berjadwal bergantian bekerja di rumah produksi pande besi milik Bambang. Menurutnya, hal ini terpaksa dilakukan lantaran minimnya order selama pandemi.

Bambang menuturkan, usaha pande besi ini yang ia kelola ini sudah cukup lama berdiri, sejak tahun 1975 silam. Ia sendiri menjalankan bisnis yang diwariskan oleh sang ayah, Marimin. Namun begitu, ia baru mengelola bisnis pande besi ini pada tahun 2013.

“Di Indonesia ini sabit dan bendo juga cangkul paling banyak permintaannya ya untuk yang asli Kajar. Pasaran kami sampai ke Sumatera dan Kalimantan,” kata bapak tiga anak itu.

Menjalani bisnis yang kental akan budaya tentu bukan perkara mudah bagi Bambang. Untuk mencari empu saja harus merupakan seseorang yang memiliki darah atau keturunan tertentu.

“Jadi kalau empu itu gak bisa semua orang melakukan itu yang paling beresiko soalnya. Biasanya keturunan mbah-mbahnya dulu seorang empu,” tutur Bambang.

Di hari-hari tertentu, seperti Jumat, para empu selalu meminta sesaji bunga. Ini merupakan upaya agar semuanya selamat.

“Ya semacam ada kepercayaan, kemantapan hati. Mereka (empu) kalau sudah bekerja ya sudah tidak bisa diganggu,” paparnya.

Setiap harinya, ia mampu menghasilkan 4 sampai 5 kodi senjata tajam. Barangnya tersebut selain didisplay di toko seberang rumahnya, juga dikirim ke luar Jawa.

“Senjata tajam dan sabin milik kami sudah ada pasarannya, omzet kotor dari usaha ini sekitar Rp. 120 juta,” jelas Bambang.

Di masa pandemi ini, usaha yang ia geluti ini cukup terdampak. Bahkan, ia sempat satu bulan tidak berproduksi. Hal tersebut sempat membuat para karyawannya sempat protes. Akhirnya, ia lantas mengurus izin untuk kembali beroperasi dengan protokol kesehatan ketat.

“Ya bersyukur meskipun pandemi masih bisa berproduksi dengan stabil dan bisa tetap menjadi sarana mencari rezeki para pekerja yang sebagian besar merupakan tetangga,” ujarnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler