fbpx
Connect with us

Pendidikan

Hidup Segan Mati Tak Mau, 6 Kelas SDN Wonolagi Hanya Miliki Belasan Siswa

Published

on

Playen,(pidiar.com)–Bak pepatah hidup segan mati tak mau, begitulah sekiranya yang nampak pada proses pembelajaran di SD Negeri Wonolagi yang terletak di Padukuhan Wonolagi, Kalurahan Ngleri, Kapanewon Playen ini. Bagaimana tidak, sekolah yang berdiri sejak 40 tahun silam ini selalu kekurangan siswa setiap tahunnya. Bahkan ada 2 tingkatan kelas yang sama sekali tak mempunyai siswa.

Ada beberapa faktor yang membuat SD N Wonolagi mengalami kekurangan siswa. Padukuhan Wonolagi sendiri ditetapkan Gubernur DIY sebagai kampung Keluarga Berencana sejak 2017 lalu. Letaknya pun cukup terpencil. Untuk mencapai padukuhan ini, harus melewati hutan dengan bebatuan terjal dengan jalan yang masih setapak.

Adapun SD N Wonolagi ini menjadi satu-satunya instansi pendidikan jenjang Sekolah Dasar yang ada di Pedukuhan Wonolagi. Jumlah pelajarnya pun terbilang sangat minim karena hanya warga di padukuhan ini saja yang sekolah.

“Saat ini total ada 13 pelajar dari 6 kelas di sekolah ini. Ada 2 kelas yang kosong yaitu kelas 2 dan 6. Kemarin hanya ada 2 pelajar yang diterima di kelas 1,” ungkap Kepala SD Wonolagi, Marsudiyanti saat ditemui pagi tadi.

Ia mengatakan, minimnya jumlah peserta didik baru di SD ini disebabkan karena anak usia sekolah di Padukuhan Wonolagi cenderung sedikit. Wonolagi sendiri juga menjadi satu-satunya dusun yang ada dalam jangkauan zonasi sekolah.

“Di sini kan terpencil, jauh sekali mau kemana pun,” imbuh dia.

Jumlah guru yang berada di sekolah ini pun cukup minim. Hanya ada dua guru bertatus Aparatur Sipil Negara dan dua orang guru pengganti. Suka duka begitu dalam dilewati para guru dalam mengelola sekolah terpencil ini.

Berita Lainnya  Sempat Ada Insiden Kecil Mati Listrik di Karangmojo, Pelaksanaan UNBK SMK Hari Pertama Diklaim Lancar

“Ya sekarang muridnya cuma ada 13 orang per siswa, dapat bos Rp. 800.000 per tahun per siswa. Tentu untuk operasional saja kurang,” tutur Marsudi.

Bahkan, lanjut dia, ia dengan satu rekan kerjanya rela merogoh kocek sendiri untuk menambah biaya operasional. Sejauh ini, biaya operasional banyak keluar untuk membeli buku.

“Kan sekarang buku macam-macam jenisnya pada K13 ini, padahal biaya perawatan sarana seperti printer laptop itu juga mahal, ya sering kami urunan sendiri,” jelasnya.

Meski jumlah pelajar minim, pada masa pandemi ini, pihak sekolah tetap menerapkan sistem Belajar Dari Rumah (BDR). Padahal sebagian besar pelajar tinggal tak jauh dari sekolah. Bahkan beberapa di antaranya bertetangga langsung dengan sekolah.

“Kami pernah mengajukan ke Disdikpora Gunungkidul, apakah boleh tetap belajar di sekolah mengingat jumlah pelajarnya sedikit sekali. Tapi akhirnya diputuskan tetap dengan BDR,” jelas guru lainnya, Yanti yang juga bertugas di SD Negeri Ngleri ini.

Yanti menjelaskan, seluruh aktivitas belajar, mulai dari tugas hingga ulangan harian dilakukan lewat grup aplikasi percakapan. Terkadang fasilitas panggilan video (video call) juga digunakan untuk berinteraksi.

Sebanyak 4 orang guru di SD N Wonolagi turut menyiapkan berbagai materi. Mulai dari soal-soal yang dikirimkan lewat aplikasi hingga mengirimkan video materi pembelajaran.

Kendala sinyal seluler pun masih yang utama dalam proses BDR ini. Mengingat posisi dusun yang terpencil. Selain itu, tak semua anak memiliki perangkat gawai sendiri. Sebagian besar masih menggunakan milik orang tua mereka.

Berita Lainnya  Kepala Dinas dan Kades Bejiharjo Turun Tangan, Pasha Dijamin Tak Putus Sekolah

“Jadi kalau sedang tidak ada sinyal atau ponselnya rusak, anak tersebut akan bergabung dengan anak lain dalam mengerjakan tugas-tugasnya,” ujar Yanti.

Sementara itu, salah seorang wali murid menuturkan, selama ini ia selalu mendampingi anaknya dalam menjalani BDR. Ia mengawasi sang anak untuk belajar dengan membaca buku referensi sambil menyimak video pembelajaran yang dikirimkan gurunya.

“Ini saya pinjamkan ponsel milik saya. Kalau saya belikan sendiri, takutnya tidak bisa mengontrol penggunaannya,” tutur Astuti.

Ibu rumah tangga ini pun tak mempermasalahkan anaknya harus mengikuti BDR. Menurutnya, ia bisa lebih memantau perkembangan pendidikan anaknya selama di rumah.

Namun begitu, ia mengaku tetap menemui kesulitan. Salah satunya adalah saat harus menjelaskan materi pelajaran ke anak. Untungnya, guru-guru SD Wonolagi terbuka untuk membantu.

“Kalau saya bingung, saya tinggal mengirim pesan pribadi ke gurunya, menanyakan soal materi pelajaran tersebut. Biasanya langsung direspon,” jelas Astuti.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Gunungkidul, Bahron Rasyid mengatakan, sebetulnya pihaknya pernah melakukan rencana regruping berkaitan dengan sekolah ini. Namun demikian karena lokasinya yang terpencil, warga setempat tidak menghendaki jika dilakukan regruping.

“Gubernur juga pernah mengunjungi saat peresmian kampung KB, beliau menghendaki sekolah ini menjadi sekolah layanan masyarakat,” tutup Bahron.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler