Connect with us

Pemerintahan

Memprihatinkan, Lebih Dari Separuh Warga Tegalrejo Masuk Dalam Kategori Miskin

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Pemerintah kabupaten Gunungkidul terus menggalakkan berbagai program untuk menuntaskan permasalahan kerawanan pangan di desa-desa yang ada. Sampai tahun 2021 mendatang, ditargetkan desa yang berpotensi rawan pangan terus mengalami penurunan bahkan tidak ada lagi. Target ini sebenarnya cukup besar peluangnya untuk terwujud mengingat pada tahun 2019 ini tinggal, tersisa dua desa yang masih masuk dalam kategori rawan pangan yakni Desa Watugajah dan Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari.

Sebanyak 40 persen warga Gedangsari masuk dalam kategori keluarga pra sejahtera atau miskin. Diantaranya penyumbang terbesar adalah Tegalrejo lebih dari separuh 40 persen tersebut dan sisanya merupakan warga Watugajah. Secara detail, sebanyak 55,80% warga Tegalrejo masuk dalam kategori miskin, sementara untuk Desa Watugajah ada 46% warganya yang masuk dalam kategori ini.

Hingga tahun sejak 3 tahun terakhir, jumlah desa rawan pangan di Gunungkidul sebenarnya terus berkurang. Dari 2015 terdapat 7 desa yang berpotensi rawan pangan, pengoptimalan program terus dilakukan sampai di tahun 2018 lalu tinggal tersisa 2 desa yang masuk dalam kategori ini. Beberapa program pembangunan dan pemberdayaan sejak 2 tahun terakhir mengarah pada desa tersebut untuk penangulangan kerawanan pangan, kemiskinan dan beberapa kondisi lainnya.

Berita Lainnya  Video ke Sekolah Bawa Sabit Viral, Bocah SMP Ini Dapat Perhatian Dari 2 Dinas

“Masih ada dua desa yang menjadi pekerjaan rumah kami. Fokus kami dalam pembangunan dan pemberdayaan di Watugajah dan Tegalrejo,” kata Fajar Ridwan, Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Selasa (12/03/2019).

Adapun berbagai indikator memang mempengaruhi masuknya sebuah desa dalam indeks kerawanan pangan. Di dua desa tersebut yakni masih banyak warga yang masuk dalam kategori pra sejahtera atau miskin, tingkat konsumsi masih minim terlebih daya beli warganya. Di sisi lain, kemiskinan yang dialami ini juga membuat kesadaran warga dalam bidang pendidikan, kesehatan serta beberapa lainnya menjadi agak terabaikan. Penuntasan ini menjadi sebuah PR yang harus dituntaskan oleh pemerintah melalui OPD terkait dan kesadaran masyarakatnya sendiri.

“Misalnya kalau dari sektor pertanian diajarkan bagaimana memanfaatkan potensi atau sumber daya yang dimiliki melalui kelompok-kelompok yang dibentuk. Kemudian kesehatan juga menyasar, pembinaan dan masih banyak lagi,” imbuh dia.

Menurut dia progress perubahan dari desa potensi rawan pangan terus membaik terbukti dari hasil yang didapat. Jika pemkab sendiri menargetkan paling tidak tahun 2021 hanya tersisa 4 desa, namun di tahun sejak tahun 2017/2018 telah terlampaui. Dan sekarang hanya tersisa dua desa tersebut, kendati demikian dari pemkab sendiri tidak ingin gegabah. Pasalnya untuk benar-berar menyentuh angka 0 membutuhkan proses yang cukup panjang dan sinergitas yang tinggi.

Berita Lainnya  Budayawan: Kalau Mau Jadi Bupati Gunungkidul, Uang Saja Tidak Cukup

Lanjut Fajar, penurunan yang signifikan ini sangatlah jauh lebih baik dibandingkan dengan kabupaten Bantul maupun Kulonprogro. Akan tetapi secara prosentase penanggulangan kemiskinan Gunungkidul masih berada di bawah kabupaten Bantul. Bedasarkan analisis yang dilakukan terkait dengan daya beli, kualitas pendidikan hingga jarak tempuh Gedangsari ke kota yang cukup jauh serta tingginya angka pengangguran menjadi salah satu faktor potensi rawan pangan.

“Jadi fokus penanganan memang berada di kecamatan Gedangsari khususnya 2 desa itu, tapi pemkab juga terus memberikan penyuluhan dan pemerataan program pada 142 desa lainnya. Paling tidak mempertahankan kondisi di desa lain atau meningkatkan sehingga tidak ada penurunan,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Bappeda Gunungkidul Sri Hartanta beberapa waktu lalu mengungkapkan, terdapat dua kecamatan yang masuk kategori termiskin di Gunungkidul diantaranya yakni Gedangsari dan Saptosari. Program pembangunan dan pemberdayaan mengarah pada dua kecamatan tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat ditengah globalisasi dan perkembangan daerah yang ada.

Berita Lainnya  Sultan Minta Kawasan Pasir Pantai Selatan Bersih Dari Bangunan, Pemkab Gunungkidul Nyatakan Kesulitan

Dari Bappeda berkoordinasi dengan OPD lain tengah menyusun sebuah sistem pengukur tingkat konsumsi, daya beli dan penghasilan warga Gunungkidul apakah masuk dalam kategori miskin atau sejahtera. Penyusunan ini melibatkan Dinas Pertanian dan Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul.

“Dua kecamatan ini (Gedangsari, Saptosari) masuk dalam penanganan kemiskinan di Gunungkidul. Memang mayoritas karena daya beli yang tidak sesuai, ini kami tengah melakukan pembahasan sistem perhitungan disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang ada,” ucapnya.

Dari pemkab sendiri memang menyadari masih banyak kekurangan dalam pengoptimalan program. Maka dari itu kendali dari masyarakat sangatlah dibutuhkan, peran utama juga bergantung pada kesadaran masyarakat serta lingkungan kemudian pemerintah yang kemudian mengarahkan program-program yang akan direalisasikan.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Pariwisata7 hari yang lalu

Hampir Capai Target Tahunan, Baru Juni Pendapatan Retribusi Wisata Telah Capai 35,8 Miliar

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)- Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Kabupaten Gunungkidul hampir mencapai target tahunan meski baru di pertengahan tahun 2026...

Pariwisata1 minggu yang lalu

Gunungkidul Geopark Night Specta 8.0 Masuk KEN 2026, Siap Promosikan Geopark Gunung Sewu ke Dunia

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari(pidjar.com)– Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) kembali menggelar Gunungkidul Geopark Night Specta (GNS) Vol. 8.0 di...

Pariwisata2 minggu yang lalu

Listrik Kerap Padam, Sistem Pungutan Retribusi Non Tunai di Pantai Gunungkidul Terganggu

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)–Penerapan sistem pembayaran retribusi wisata secara non-tunai di sejumlah Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) kawasan wisata pantai selatan Gunungkidul...

bisnis3 minggu yang lalu

Pony Park Klaten Usung Konsep Wisata Ramah Hewan, Edukasi Interaktif Jadi Daya Tarik Utama

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Klaten,(pidjar.com)– Kehadiran Pony Park Klaten (POPA) yang dijadwalkan resmi dibuka pada 28 Juni 2026 tidak hanya menawarkan destinasi wisata...

Pariwisata3 minggu yang lalu

Libur Sekolah, Obyek-obyek Wisata Mulai Dibanjiri Siswa Study Tour

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)-Libur sekolah tahun 2026 mulai menggerakkan sektor pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) termasuk juga di Gunungkidul. Saat...

Berita Terpopuler