fbpx
Connect with us

Sosial

Pasar COD Makin Marak, Pergeseran Sistem Konvensional dan Geliat Ekonomi Kerakyatan

Published

on

Wonosari, (pidjar.com)–Pandemi covid19 yang sudah berlangsung lebih dari setahun di Bumi Handayani sangat berpengaruh bagi jalannya perekonomian masyarakat, khususnya yang memiliki usaha kecil menengah. Hambatan yang paling terasa ialah dibatasinya aktifitas masyarakat. Sebagian besar usaha kecil menengah saat ini memilih beralih sistem penjualan dari offline ke online memanfaatkan internet dan media sosial.

Sejak beberapa waktu lalu, pasar COD mulai berkembang di kompleks eks Terminal Wonosari di Kalurahan Baleharjo. Saat ini yang mulai juga berkembang adalah dengan konsep hampir serupa mulai dioperasikannya Pasar Online Gunungkidul. Pasar online ini secara resmi mulai beroperasi pada Jumat (10/09/2021) sore kemarin di Pasar Bambu, Kalurahan Kepek, Kapanewon Wonosari. Konsep pasar ini adalah, para penjual dan pembeli berinteraksi melalui pesan singkat dan kemudian bertemu di lokasi ini.

Ketua Pasar Online Gunungkidul, Eko Iswanto, mengungkapkan, sebenarnya kegiatan tersebut sudah diinisiasi pada 21 Juni 2020 lalu melalui grup WA oleh Eko dan beberapa rekannya yang berprofesi sebagai driver ojek online. Seiring berkembangnya waktu, anggota yang bergabung semakin meningkat dan berkembang menjadi beberapa grup WA. Sebelum diresmikan, kegiatan tersebut dinamakan bursa informasi dagangan.

“Awalnya mengajak teman seprofesi membuat grup untuk wadah jual beli online, setelah itu banyak permintaan yang ingin bergabung,” ucapnya, Sabtu (11/09/2021).

Setelah berjalannya kegiatan jual beli, kemudian ia melihat para penjual dan pembeli yang kerap menentukan tempat bertemu di pinggir-pinggir jalan yang tentunya dapat berpeluang mengganggu pengguna jalan yang lain. Untuk memusatkan pertemuan penjual dan pembeli, maka ia bersama teman-temannya memutuskan untuk membuat Pasar Online Gunungkidul yang berada di Pasar Bambu Kepek atau biasa disebut Pasar Pitik (ayam).

“Antusiasme penjual cukup banyak, kalau yang sudah terdaftar ada sekitar 130 pedagang. Jualannya juga bermacam-macam, ada kebutuhan pokok, baju, buah-buahan, makanan tradisional, dan lainnya. Jadi jam operasionalnya dari sore hari sampai petang,” imbuhnya.

“Ke depan harapannya kami bisa mengembangkan pasar serupa di beberapa Kapanewon yang belum memiliki tempat untuk COD,” jelasnya.

Sementara itu, Fia (26), warga asal Padukuhan Gading 1, Kalurahan Gading, Kapanewon Playen, yang turut memanfaatkan Pasar Online Gunungkidul cukup senang dengan dipusatkannya tempat untuk bertemu pembeli. Ia sendiri sudah berjualan bermacam-macam kebutuhan pokok dengan sistem COD sejak 2018 lalu. Menurutnya dengan dipusatkannya tempat COD akan mempermudah penjual dan pembeli dalam bertransaksi.

“Jualan di sini sudah tiga kali ini, jadi ada yang pesan terus ketemunya disini. Semenjak ada tempat seperti ini hasil jualannya makin bagus,” ucapnya.

Sementara itu Kepala Bidang Pengelolaan Pasar, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Gunungkidul, Ari Setiawan, mengungkapkan, mulai munculnya pasar-pasar COD ia tanggapi dengan positif. Ia menyebut skema penjualan semacam ini saat ini memang terus berkembang. Namun begitu, yang sebelumnya menjadi permasalahan adalah banyak penjual yang COD di pinggir jalan dan tidak terorganisir. Ia menyampaikan jika nantinya perkembangan pasar-pasar serupa bagus, ia berencana akan menyediakan tempat khusus sebagai pusat jual beli online di Gunungkidul.

“Daripada tidak terorganisir, berjualan di area bukan pasar seperti di pinggir jalan kan bisa mengganggu lalu lintas. Sementara kan ada tempat di Pasar Bambu untuk digunakan, nanti kalau perkembangannya baik nanti kita pikirkan menyediakan pasar yang lain,” terangnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler