fbpx
Connect with us

Sosial

Terpapar Zat Kimia dan Ulah Manusia, Ribuan Hektar Lahan di Utara Dalam Kondisi Kritis

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Ribuan hektar lahan di kabupaten Gunungkidul masuk dalam kategori lahan kritis. Hal ini lantaran dalam pemanfaatkan lahan menggunakan bahan kimia atau bahkan dari ulah manusia. Adapun lahan-lahan yang dalam kondisi kritis ini, mayoritas berada di kawasan utara. Guna menyelamatkan lahan ini, Dinas Lingkungan Hidup kemudian mengambil sejumlah langkah antisipasi.

Kepala Bidang Konservasi dan Kerusakan Lahan, Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul, Luh Gde Suastini menjelaskan, berdasarkan investigasi dan inventarisir yang dilakukan oleh petugas, di Gunungkidul ada 1.544,63 hektare lahan yang mengalami kritis. Lahan-lahan tersebut berada di kawasan utara. Menurut Luh Gde, pendataan sendiri dilakukan menggunakan satelit.

“Ada 1.544,63 hektare lahan yang masuk dalam kategori kritis. Sebenarnya jumlah ini jauh berkurang banyak saya kira, karena hampir mayoritas lahan di sini sudah terkelola dengan baik,” kata Luh Gde Suastini, Rabu (09/10/2019).

Lebih lanjut ia mengatakan, untuk lahan kritis bisa terjadi lantaran adanya sejumlah faktor yang menyebabkan lahan tersebut rusak, gundul atau tidak dapat dimanfaatkan bagi kegiatan pertanian. Beberapa aktifitas manusia yang dapat menyebabkan lahan rusak dan masuk kategori kritis yaknin penebangan hutan secara liar, perburuan liar, alih fungsi lahan, pembuangan sambah secara sembarangan dan berkaitan dengan pembangunan atau perusakan daerah aliran sungai.

Berita Lainnya  Hanya Terdiri 2 LAntai, Pembangunan Lift di Pasar Argosari Yang Habiskan Dana Miliaran Dinilai Mubazir

Ia beberkan lebih lanjut, lahan kritis sendiri terluas berada di Desa Candirejo, Kecamatan Semin yang mencapai 220 hektare. Sementara untuk beberapa desa lainnya masih tergolong ringan, terhitung dari 60 hektare hingga ratusan hektare yang ada di kawasan tersebut.

Adapun lahan kritis ini tersebar di Desa Ngalang, Hargomulyo, Mertelu, Sampang, Serut, Tegalrejo, Watugajah, Kecamatan Gedangsari; Desa Tancep, Jurangjero, Sabirejo, Kampung, Beji, Watusigar, Kecamatan Ngawen; hampir semua desa di Kecamatan Semin dan Desa Sawahan, Tambakromo, dan Kenteng, Kecamatan Ponjong.

“Mungkin karena tidak ada hujan beberapa bulan ini ya, jadi untuk kerusakan atau kondisi kritis benar-benar terlihat. Di setiap desa itu ndak semuanya, hanya di beberapa padukuhan saja,” ucap dia.

Inventarisir yang dilakukan oleh petugas selama 60 hari tersebut, lahan yang masuk dalam kategori kritis ini kepemilikkannya mulai dari Sultan Ground, tanah kas desa, maupun berstatus hak milik perseorangan. Nantinya dalam melakukan penanganan pihaknya akan menggandeng sejumlah lini yang sekiranya mampu memberikan efek lebih baik dalam pemanfaatkan lahan.

Berita Lainnya  Kisah Keuletan Warga Terdampak Kekeringan Bertahan Hidup Saat Musim Kemarau

“Bisanya secara mandiri atau kalau tidak ya kami ajukan dari beberapa jaringan yang ada,” tambahnya.

Paca langkah inventarisir ini, nantinya akan dilakukan program penghijauan. Sehingga nantinya lahan-lahan tersebut dapat ditingkatkan produktifitasnya, fungsi konservasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Luh Gde juga menghimbau kepada masyarakat untuk menanam tumbuhan misalnya seperti sengon laut dan tumbuhan lain di sekitar aliran Sungai Oya.

“Agar lahan tidak erosi sehingga lahan kritis meluas,” tutupnya.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler