fbpx
Connect with us

Sosial

Hidup Sebatang Kara, Lansia 90 Tahun Jalani Sisa Hidup di Pembaringan

Published

on

Semanu,(Pidjar.com)–Usia senja bagi setiap orang tidaklah sama dalam memaknainya. Ada yang memanfaatkan untuk berbenah iman. Ada pula yang dijalani dengan liburan sambil menikmati hasil kerja keras. Namun ada segelintir orang menjalani masa tua dengan masih tetap berjuang. Bukan untuk karir, melainkan untuk tetap hidup. Miris.

Namanya Kromo Semi(90). Perempuan senja ini merupakan warga Padukuhan Kuwon Kidul, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu. Mbah Semi tinggal sendirian sejak puluhan tahun silam di rumah kecilnya. Untuk diajak berkomunikasi saja ia begitu sulit. Kini ia dirawat oleh tetangga dalam keseharian mulai dari makan hingga mandi.

Semula, ia memiliki beberapa petak lahan pertanian, perhiasan dan hewan ternak. Namun entah, satu persatu harta yang dimilikinya habis. Bahkan saat ini, meski dia tinggal di rumah ala kadarnya, tanah yang berdiri gubuk reot tak beralas itu sudah milik orang lain. Segala yang dimilikinya telah habis ia jual untuk keperluan yang tak semua orang tahu.

“Ini dulu pekarangannya, tapi beberapa waktu lalu dijual. Uangnya untuk apa juga tidak tahu, habis tak tersisa,” ucap Suwarti yang tak lain merupakan kerabat Semi, Minggu (23/09/2018).

Miris jika masuk ke dalam rumah mbah Semi. Rumah ala kadarnya berukuran kira-kira 3×4 meter itu kosong melompong. Satu petak rumah tak ada sekat dan perabotan yang memadahi. Hanya ada satu tempat tidur using dimakan rayap.  Kasur pun tak layak pakai. Di samping tempat tidur itu, terdapat meja rapuh yang digunakan untuk menaruh teko dan beberapa piring yang digunakan untuk makan.

Tidak ada perabotan atau alat-alat lainnya di dalam rumah itu. Anyaman bambu yang mengelilingi rumahnya bahkan kondisinya juga sudah lapuk. Di mana kondisinya sudah rusak dan hanya tembel-tembelan. Di belakang rumahnya, sering kali digunakan ayam-ayam milik tetangganya untuk bertengger.

“Sehari-harinya memang di tetanga. Karena memang sudah tidak bisa sendiri,” imbuh Suwarti.

Usianya yang sudah kepala 9 itu, kesehatannya tentu sudah mulai menurun. Pendengaran yang berkurang jauh, penglihatan yang juga sudah kabur bahkan tidak jelas, hingga raga yang sudah tak sehat.   Kedua kakinya bengkak cukup besar sehingga segala aktivitasnya sudah tidak selancar dulu. Semi memaknai hidupnya ditemani pijaran satu lampu saat malam. Itu pun listriknya nunut dari rumah tetangganya.

Hari-harinya ia habiskan di atas tempat tidur. Ingatannya yang sudah berkurang, membuat dirinya sering berteriak-teriak tidak jelas. Sayangnya, tiga hari belakangan ini justru kondisinya drop, ia semakin sulit untuk diajak komunikasi dan tidak mau makan.

“Karena kondisinya seperti ini, saya selaku keluarganya kemudian berinisiatif membawa Mbah Semi ke rumah. Biar saya rawat di hari tuanya. Kasihan kalau di sini sendiri tidak ada yang ngurusi,” ucap Suwarti tak tega.

Ditambah Suwarti, beberapa tahun lalu mbah Semi pernah ia rawat di rumah saudaranya di Padukuhan Cempluk. Akan tetapi, dia sering kali pergi-pergi tanpa pamit dan kembali tinggal di rumah reotnya itu. Lantaran sering kabu-kaburan itu, kemudian ia dikembalikan dan dipasrahkan masyarakat sekitar. Setiap bulan ia mendapat bantuan berupa uang ataupun sembako, karena kondisi yang sudah tidak memungkinkan sehingga segala keperluan yang mencukupi dan mengolahnya dilakukan oleh tetangganya.

“Ini tadi saya mandikan lalu beberes. Mau saya bawa ke Cempluk biar ada yang ngurusi,” ujarnya.

Sementara itu, Wasirah tetangga mbah Semi mengatakan, setiap harinya memang dia dan tetangga lainnya yang mengurusi segala keperluan. Karena usia dan kondisinya itu, sering kali mbah Semi berteriak-teriak baik siang maupun malam. Terkadang meminta bantuan jika lapar atau sekedar ingin minum teh. (arista)

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler